Home / Media / Siaran Pers / Sambutan Dan Orasi Ketua Umum Icmi Prof Dr Jimly Asshiddiqie Sh Dalam Rangka Syukuran Milad Icmi Ke 30 Bandung 7 Desember 1990 2020

Sambutan dan Orasi Ketua Umum ICMI, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH. dalam Rangka Syukuran Milad ICMI ke-30 (Bandung, 7 Desember, 1990-2020)


Posted on Senin, 7 Des 2020 09:34 WIB


Sambutan dan Orasi Ketua Umum ICMI, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH. dalam Rangka Syukuran Milad ICMI ke-30 (Bandung, 7 Desember, 1990-2020)

1. PENGANTAR

1.1. Ungkapan rasa syukur kepada Allah swt atas perayaan milad ICMI ke-30 di Bandung, 7 Desember, 2020.

1.2. Ucapan terima kasih kepada:

a. Gubernur Provinsi Jawa Barat atas dukungan dan bantuannya sehingga acara Milad ICMI ke-30 terselenggara di Bandung;

b. Ucapan terima kasih atas kepada para narasumber, khususnya kepada (i) Bapak Menteri Pertahanan RI, Prabowo Soebijantoyang bersedia memberikan arahan-arahan dalam acara Milad ICMI ke-30 ini; dan juga kepada (ii) Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, dan (iii) Duta Besar RI untuk RRC, atas kesediaannya memberikan bahan-bahan refleksi bagi keluarga besar ICMI dalam rangka hari milad ke-30 ICMI, 2020.

c. Ucapan terima kasih kepada segenap Panitia, dan Ketua ICMI Orwil Jawa Barat beserta segenap jajarannya, sehingga acara milad ICMI terselenggara dengan sukses.

1.3. Atas nama MPP ICMI, Dewan Kehormatan, Dewan Penas8hat dan Dewan Pakar ICMI Pusat, saya ucapkan milad ICMI ke30 dan sekaligus selamat datang kepada segenap peserta dan hadirin, para pengurus dan keluarga besar ICMI di dan dari seluruh Indonesia dan dari luar negeri, yang hadir fisik di Bandung ataupun yang hadir secara daring darimana saja berada. Selamat datang dan selamat milad untuk kita semua. Semoga Allah swt terus memberkati dan memberikan kepada kita petunjuk-petunjuk-Nya agar kita semua bersama ICMI terus berada d jalan yang tepat dalam mewujudkan impian perjuangan long-march berjangka panjang untuk masa depan negara dan bangsa kita serta umat Islam, dunia Islam dan umat manusia pada umumnya.

1.4. Acara milad ini berbeda dari biasanya. Pertama diadakan di tengah pandemi covid19 yg hrs diselenggarakan dg protokol kesehatan yg ketat. Karena itu mari kita doakan semoga musibah covid19 ini dapat segera berakhir, vaccin segera ditemukan, yg sakit dapat segera pulih dan sembuh, dan yg ditakdirkan meninggal dunia kita doakan mendapatkan tempat sebaik2nya di sisi Allah swt.

1.5. Kedua, karena alasan yg sama, acara milad yg biasa diadakan bersamaan dg acara pembukaan muktamar, sekarang kita pisahkan dan berdasarkan hasil musyawarah RMPP di Bogor yg lalu, muktamar ICMI kita putuskan ditunda 6 bulan lagi. Untuk itu: (i) Pengurus ORWIL, sesuai Tatib pemilihan, segera bermusyawarah utk mengusulkan 7 orang calon formatur. Pencalonan dari seluruh jaringan ORWIL akan menghasilkan 15 nama calon nasional utk pada waktunya di forum muktamar dipilih 7 calon yg mendapatkan dukungan terbanyak ditetapkan menjadi 7 formatur yg dipimpin calon Ketum yg terpilih dg suara yg tertinggi. Saya berharap kiranya akan ada tokoh dari generasi baru yg akan memimpin ICMI periode mendatang sebagai Ketua Umum baru. Semoga muncul tokoh muda yg tdk terlibat dlm pembentukan ICMI di Malang 30 tahun yg lalu sbg rabda regenerasi dan estafeta kepemimpinan ICMI berjalan dg sebaik2nya utk Indonesia yg semakin baik.

2. REFLEKSI 30 TAHUN ICMI

2.1. ICMI telah menyumbang untuk kembalinya Islam ke tengah-tengah kancah perjuangan dan pengabdian politik nasional selama dasawarsa terakhir Orde Baru, dan melancarkan proses transisi menuju demokrasi dan demokratisasi;

2.2. ICMI telah menyumbang bagi upaya kerukunan antar umat beragama dan penguatan peran yang seimbang dan proposrsional antar cendekiawan lintas agama untuk kemajuan bangsa di segala bidang kehidupan nasional;

2.3. ICMI telah memyumbang dengan penguatan atasan kepemimpinan Presiden B.J. Habibie dalam meletakkan dasar-dasar reformasi nasional yang menyeluruh dalam kebijakan kerangka transisional menuju praktik demokrasi dan demokratisasi menyeluruh, dimulai dengan Perubahan UUD 1945, penentuan sistem pemilihan Presiden langsung, sistem multi-partai, penguatan jaminan hak asasi manusia, dan sebagainya.

2.4. ICMI telah menyumbang untuk meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya iptek dan keseimbangannya dengan imtaq dalam proses pembangunan nasional menuju tingkat peradaban bangsa yang semakin kuat di dunia;

2.5. ICMI telah menyumbang untuk meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya iptek dan keseimbangannya dengan imtaq dalam proses pembangunan nasional menuju tingkat peradaban bangsa yang semakin kuat di dunia;

2.6. ICMI juga telah menyumbang bagi dimulainya penerapan sistem ekonomi dan keuangan syari’ah serta dimulainya Gerakan untuk menghidupkan Gerakan kewirausahaan di kalangan umat Islam sebagai “ajaran sunnah Rasul” yang harus dijadikan prasyaratbagi upaya peningkatan ummat Islam dalam membangun peradaban bangsa dan peradaban dunia pada umumnya.

3. TANTANGAN PERKEMBANGAN KEISLAMAN, KEINDONESIAAN DAN KECENDIKIAWANAN DI MASA DEPAN

3.1. Dunia sedang dan akan terus mengalami perubahan besar-besaran sejak sebelum pandemi Covid-19 dan Pasca Covid-19:

a. Akibat disrupsi teknologi, komunikasi di ruang publik yang diwarnai oleh fenomena: (i) deinstitusionalisasi politik dalam kegiatan bernegara dan benturan kepentingan antara komunikasi pribadi dan jabatan publik, (ii) meluasnya permusuhan dan ujaran kebencian di segala bidang dan antar orang dan antar golongan;

b. Semakin luasnya gelombang “Islamophobia” di dunia dan maraknya politik rasisme yang menurunkan kualitas demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia, seperti tercermin di pelbagai negara Eropa, New Zealand, India, Myanmar, dan bahkan di Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump;

c. Terjadinya pandemic Covid-19 menyebabkan krisis sosial, ekonomi, dan politik nasional, regional, dan bahkan global, secara luas dan dalam waktu yang lama, ditambah lagi dengan ancaman PD3 dengan kualitas persenjataan yang semakin canggih dan menghancur-leburkan kehidupan bersama;

d. Ancaman PD 3, secara militer ataupun secara ekonomi berpotensi membelah masyarakat dunia dalam skenario “the clash of civilizations” seperti yang pernah diramalkan oleh Samuel P. Huntington, terutama antara kubu Barat versus China, dimana umat Islam dan Dunia Islam akan ditarik-tarik untuk berpihak kepada salah satu kubu, atau sama-sama dimusuhi karena ancaman “Islamophoia” sebagaimana digambarkan di atas;

e. Makin meningkatnya jumlah umat Islam di dunia, di samping memberikan optimisme bagi umat Islam sendiri, juga menciptakan kekawatiran yang semakin memperkuat rasa takut akan ancaman “Islam” bagi kalangan umat Kristen dan Katolik di Eropa dan umat Hindu di Indonesia dan ummat Buddha di negara lain, seperti Myanmar. Sementara itu, tingkat pertumbuhan kuantitas penduduk Muslim tersebut Sebagian utamanya disebabkan oleh factor kelahiran, yang tidak otomatis mencerminkan kualitas SDM umat Islam d masa depan, tetapi, menempati posisi demografi sebagai penduduk usia muda dan produktif, dibandingkan dengan ummat non-Muslim yang mengalamai penuaan (aging societies).

3.2. Kunci Terpenting bagi Umat Islam dan Dunia Islam di masa depan adalah keharusan untuk berubah:

a. Dibutuhkan kesediaan yang sungguh-sungguh agar umat Islam dapat berubah melalui perenungan mendalam (Isro’) dan pemahaman yang tepa tatas dinamika kehidupan bersama dalam tatanan global, regional, nasional, dan bahkan lokal dari kedekatan jarak penghayatan dan sekaligus ketinggian jarak pemandangan (Mi’raj), sehingga tidak terjebak ke dalam problematika yang bersifat mikro, sectoral, dan miopik, melainkan memahami permasalahan secara utuh, padu dan mampu  menawarkan dan memberikan solusi.

b. Umat Islam jangan mau ditarik-tarik untuk berperan sebagai pelengkap penderita, sebagai pendukung yang terikat untuk menari mengikuti suara gendang para pihak yang berseteru;

c. Umat Islam harus kompak bersatu, jangan mau diadudomba, dan bahkan harus mampu mengadakan kolaborasi sinergis dengan semua pemangku kepentingan untuk tujuan perdamaian berdasarkan prinsip kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial;

d. Untuk itu, umat Islam dan dunia Islam harus mampu tampil dengan sikap damai dan mendamaikan sesuai dengan hakim Islam sebagai agama damai, dan menonjolkan diri sebagai agama “Rahmatan lil’alamin”, rahmat bukan saja bagi semua manusia, tapi Rahmat bagi semesta alam.

3.3. Umat Islam dan Dunia Islam memiliki segala potensi untuk bekerjasama dengan pihak mana saja, baik dari kubu Barat ataupun dari kubu China. Karena itu, umat Islam tidak perlu mengambil sikap mutlak untuk anti-barat ataupun anti-China, baik dalam konteks global maupun dalam konteks kehidupan nasional.

a. ICMI dapat dengan leluasa berhubungan dengan kalangan cendekiawan barat ataupun China;

b. ICMI pernah terlibat dalam upaya mengembangkan agenda dialog peradaban dengan menawarkan gagasan pertemua antara tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh politik dunia melalui “World Summit on Abrahamic Religions and Peace”, pada tahun 1999, namun belum terwujud. Sekarang, gagasan tersebut menjadi semakin relevan untuk diwujudkan untuk tujuan membangun kerukunan dan perdamaian dunia yang dipelopori oleh umat Islam (Suny dan Shi’ah), umat Kristiani (Katolik, Protestan, dan Orthodox), serta umat Yahudi;

c. ICMI juga sejak tahun 1999 terus terlibat dalam dialog lintas agama, khususnya antara Islam dan Konghuch. Bahkan, sampai sekarang, Ketua Umum ICMI terus menerus dipercaya sebagai salah seorang Ketua Kehormatan MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Konghuchu).

4. OPTIMISME MENUJU MASA DEPAN

4.1. Perkembangan menuju kuantitas sebagai umat beragama terbesar didunia dengan keharusan persiapan menuju kualitas dan integritas, yaitu ketinggian iptek dan kedalaman imtaq;

4.2. Anugerah kuantitas kekayaan SDA di dunia Islam harus ditransformasikan segera dengan peningkatan nilai tambah produksi dan perhitungan neraca jam kerja produktif yang semakin meningkat, baik dari segi kuantitasnya maupun dari segi kualitasnya, sehingga kuantitas dan kualitas SDA diimbangi dengan berfungsinya kuantitas dan kualitas SDM guna menyongsong kemajuan riel peradaban dunia Islam di masa depan.

4.3. Kuantitas dan kualitas SDA dan SDM umat Islam harus segera diimbangi dengan kesiapan kualitas pelembagaan sistem dan budaya kerja pasca-modern, sehingga dalil “alhaqqu bila nizhomm yaghlibuh al-bathil binnizhom” tidak akan terjadi dalam praktik di masa depan;

4.4. Dengan demikian, bangsa Indonesia khususnya, dan umat Islam dan dunia Islam pada umumnya dapat berperan penting dan menjadi penentu dalam (i) mencegah perang dan permusuhan antar bangsa, atau antar peradaban kemanusiaan, dan (ii) dapat berperan aktif dalam agenda kemanusiaan dunia berdasarkan prinsip kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial;

4.5. Tentu, di samping optimisme pada tataran dunia global tersebut di atas, optimisme di dalam negeri Indonesia sendiri juga jangan diabaikan dan disalahpahami.

a. Mungkin banyak orang di sekitar kita yang secara politik merasa terpinggirkan dan aspirasinya dihambat oleh praktik kekuasaan selama rezim pemerintahan yang didominasi oleh kekuatan politik yang kurang ramah kepada ICMI, tetapi percayalah bahwa dinamika kekuasaan itu datang dan pergi. “Tilkal ayyamu nudawiluha bainannas”. Tiga setengah tahun di tengah krisis Covid-19 dengan segala akibatnya, menuju 2024 kelak, adalah waktu yang sangat sebentar. Siapapun yang mempunyai aspirasi politik yang berbeda persiapkan diri dengan sebaik-baiknya dengan semangat perjaungan berjangka Panjang, bukan sekedar untuk mengambil dan merebut tetapi untuk berbagi dan menyumbang untuk bangsa dan negara. Lihatlah perjalanan panjang dinamika perjuangan bangsa. “It’s a long march”. Pergiliran peran adalah sunnatullah. Namun, siapapun pemerannya, arah panjang menuju masa depan bangsa sudah di jalan yang tepat, dengan disana-sini memerlukan perbaikan, atau kadang-kadang ada ‘set-back’ yang kelak kembali harus diluruskan kembali pada waktunya. Setiap waktu ada orangnya, dan setiap orang ada waktunya yang tepat untuk menyumbang bagi kepentingan negeri. Jangan pernah putus mencinta Indonesia.

b. Kunci penyelesaian terhadap aneka permasalahan dalam dinamika politik nasional dewasa ini adalah kehendak untuk saling mendengar agar (i) terciptanya kehidupan yang rukun dan damai untuk memperkuat sinergi kebangsaan guna (i) mengatasi ancaman keselamatan bersama sebagai akibat pandemic covid-19, (ii) tuntutan untuk pemulihan ekonomi yang efektif dan berkeadilan, dan untuk (iii) mengantarkan estafeta kepemimpinan yang efektif dan bersinambung, bersifat transformational untuk pencerdasan dan pencerahan peradaban bangsa.

c. Untuk itu, marilah kita senantiasa saling mengajak dan saling merangkul sebagai sesama warga bangsa, bukan malah saling menyebar kebencian dan permusuhan di antara sesama warga bangsa, sambil menonton dan takut dilibatkan atau melibatkan diri untuk ikut berperang dengan bangsa lain. Kita mendukung 7 himbauan Pengurus MUI yang baru, yaitu agar kita secara bersama saling:

  1. Mengajak, bukan mengejek;
  2. Merangkul, bukan memukul;
  3. Menyayangi, bukan menyaingi;
  4. Mendidik, bukan membidik;
  5. Membina, bukan menghina;
  6. Membela, bukan mencela; dan
  7. Mencari solusi, bukan mencari simpati.

4.6. Akhirnya, marilah kita terus berdoa utk umat, bangsa, negara, dan bahkan utk dunia yg damaia. Terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

 


Tags : Cendekiawan Muslim ICMI ICMI Pusat Jimly Ketua ICMI Siaran Pers Tokoh ICMI




Prof Arief Satria: ICMI Bagian dari Masa Depan, Bukan Masa Lalu
Prof Arief Satria: ICMI Bagian dari Masa Depan, Bukan Masa Lalu
Bogor - Pandemi Korona menyebabkan ketidakpastian terhadap seluruh lini kehidupan masyarakat, namun kondisi ini bukan berarti membuat kita menyerah. Ilmuwan Charles Darwin mengatakan, bahwa spesies yang survive bukanlah yang terkuat dan terpintar tapi mampu responsif terhadap perubahan.  
Jum`at, 24 Jul 2020
Mahasiswa-Buruh Suarakan #GejayanMemanggil Tolak Omnibus Law
Rekomendasi Ikatan Cendikiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Terkait Covid-19
Sehubungan dengan adanya pandemi Covid-19 saat ini, Ikatan Cendekiawan Muslim seIndonesia (ICMI) merekomendasikan agar Pemerintah melakukan hal-hal sebagai berikut:  
Rabu, 29 Apr 2020