Home / Berita / Berita Nasional / Ketum Icmi Ruang Komunikasi Publik Indonesia Serba Terbalik

Ketum ICMI: Ruang Komunikasi Publik Indonesia Serba Terbalik


Posted on Selasa, 1 Jun 2021 16:18 WIB


Ketum ICMI: Ruang Komunikasi Publik Indonesia Serba Terbalik

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI), Prof. Jimly Asshiddiqie, mengatakan bahwa disrupsi teknologi, informasi, dan komunikasi membuat ruang komunikasi publik di Indonesia jadi serba terbalik.

"Gara-gara disrupsi teknologi informasi dan komunikasi publik maka ruang komunikasi publik kita sekarang ini terbolak balik. Gara-gara medsos, gara-gara teknologi," kata Prof. Jimly

Keterangan tersebut beliau sampaikan dalam ceramah halal bi halal dan kuliah kebangsaan Prodi Magister Ilmu Hukum (MIH), Universitas Kristen Indonesia (UKI), pada hari Sabtu (29/5).

Perkembangan teknologi dan media sosial membuat laju Informasi kian tak terbendung. Hal tersebut mengakibatkan hal-hal yang dulu dianggap sesuatu yang baik, sekarang malah sebaliknya.

"Maka di era teknologi disruptif sekarang, tolong pelajari mana yang dulu baik, sekarang tidak baik. Mana yang dulu tidak baik, mungkin sekarang baik," jelas Prof. Jimly

Lebih lanjut Prof. Jimly menjelaskan bahwa di media sosial terdapat banyak "setan" dan juga "malaikat". Dalam menyikapi situasi media sosial yang seperti ini, semuanya tergantung kepada pribadi masing-masing. Prof. Jimly menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu menyalahkan teknologinya, melainkan mementingkan bagaimana kita menyikapi dan menggunakan media sosial.

Sebagai contoh, beliau pun menjelaskan bahwa saat ini ada banyak orang di media sosial yang menghujat Al-Quran dan bahkan agama Islam sendiri. Prof. Jimly menyarankan agar umat Islam jangan sampai terbawa amarah karena orang-orang tersebut perlu mendapatkan pencerahan.

Kebencian dan pertikaian yang terjadi di media sosial pun membuat sikap orang Indonesia dianggap jauh dari kata sopan, dan bahkan ada beberapa yang tidak beradab. Menurut Prof. Jimly, salah satu penyebabnya pun adalah adanya persaingan politik dan penyalahgunaan kebebasan dan demokrasi dalam menggunakan media sosial.

Silaturahmi sebagai Upaya Mencapai Fitrah

Maka dari itu, Prof. Jimly pun mengajak masyarakat Indoneia untuk menjadikan silaturahmi sebagai upaya dalam mencapai fitrah. Beliau mengingatkan kepada umat Islam tentang pentingnya silaturahmi dan halal bi halalsaat momentum Idul Fitri.

Segala pertentangan, pergolakan, saling hujat melalui media sosial sebaiknya diakhiri juga. Beliau mengatakan tuju an utama dalam halal bi halal itu saling memaafkan atau memberi maaf.

"Saling memberi maaf. Perintah untuk memberi maaf itu ada, dan tingkatnya lebih tinggi dibandingkan meminta maaf. Lebih mulia," ujar Prof. Jimly.

Menurut beliau, silaturahmi juga bahkan memberikan efek kesehatan. Hal ini dikarenakan orang yang bersilaturahmi menjadi sehat psikologisnya. Bahkan Prof. Jimly juga menuturkan penjelasan mengenai silaturahmi yang membuat seseorang memiliki banyak rezeki.

"Murah rejeki itu kalau dikaji secara ilmiah memang betul. Orang yang punya banyak silaturahmi, banyak relasi, banyak koneksi, banyak temannya. Dan relasi itu means money. Itu memudahkan mendapat rejeki. Jadi secara simbolik maknanya luar biasa silaturahim ini," papar Prof. Jimly.(*)

 

 

Sumber: Berbagai sumber

Foto: Mulyana/Antara


Tags :





Detail side

Berita Terpopuler