iklan-baner-euro.gif

Prof Dr. Jimly Asshiddiqie SH

Prof Dr. Jimly Asshiddiqie SH Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H. (lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 17 April 1956; umur 59 tahun) adalah akademisi Indonesia yang menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 25 Januari 2010. Sekarang ia dipercaya sebagai Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) sejak Juni 2012 dari lembaga yang sebelumnya bernama Dewan kehormatan KPU yang juga ia pimpin pada tahun 2009 dan 2010. 

DKPP ini ia perkenalkan sebagai lembaga peradilan etika pertama dalam sejarah, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Sebelumnya ia merupakan pendiri dan menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi pertama (2003–2008) dan diakui sebagai peletak dasar bagi perkembangan gagasan modernisasi peradilan di Indonesia. 

DI ICMI, Jimly terpilih secara aklamasi dan mufakat sebagai Ketua Umum ICMI berdasarkan hasil Muktamar ICMI ke-VI di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat pada 11-13 Desember 2015. Namun demikian, sifat bersahajanya tak hendak menjadikannya menganuli semua program pengurus sebelumnya. "Saya akan meneruskan program pengurus sebelumnya, dan menyempurnakan yang masih kurang," ujar Jimly dalam pidato pengukuhan dirinya saat Muktamar VI.

Sebagai pakar hukum, Ia meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia (UI) pada 1982, kemudian menyelesaikan jenjang pendidikan S2-nya di perguruan tinggi yang sama pada 1987. Sebagai akademisi, ia dikenal sangat produktif. Sampai sekarang buku karya ilmiahnya yang diterbitkan sudah lebih dari 43 judul dan ratusan makalah yang tersebar di pelbagai media dan disampaikan di pelbagai forum. Banyak ide baru yang ia tuangkan dalam buku, seperti dalam buku "Green Constitution", "Konstitusi Ekonomi", "Konstitusi Sosial", "Peradilan Etik dan Etika Konstitusi", dan lain-lain.

Gelar doktor disandangnya dari Universitas Indonesia pada 1990 dan Van Vollenhoven Institute, serta Rechts-faculteit, Universiteit Leiden, program doctor by research dalam ilmu hukum (1990). Pada tahun 1998, Jimly memperoleh gelar Guru Besar ilmu Hukum Tata Negara FHUI.

Di masa Presiden Soeharto, Jimly pernah menjabat Staf Ahli Menteri Pendidikan (1993-1998) dan kemudian diangkat menjadi Asisten Wakil Presiden RI B.J. Habibie. Di masa Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati, ia kembali menjadi guru besar FHUI dan kemudian dipercaya menjadi Penasihat Ahli Menteri Perindustrian dan perdagangan (2001-2003), Tim Ahli PAH I BP-MPR (2001-2002) dan Penasihat Ahli Setjen MPR-RI dalam rangka Perubahan UUD 1945 (2002-2003).

Sebelumnya, ketika Presiden B.J. Habibie membentuk Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani pada tahun 1998. Jimly dipercaya menjadi Ketua Kelompok Reformasi Hukum sedangkan Soesilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Kelompok Kerja Reformasi Politik. 

Selain menyiapkan pelbagai bahan untuk RUU, pokja juga ditugasi untuk melakukan kajian Perubahan UUD 1945 dan kemungkinan Sistem Pemilihan Presiden secara langsung oleh rakyat. Di saat genting pasca mundurnya Presiden Soeharto dan B.J. Habibie menjadi Presiden, ia dipercaya menjadi Sekretaris Dewan Penegakan Keamanan dan Sistem Hukum yang langsung diketuai oleh Presiden dengan Ketua Harian Menkopolkam.

Jimly banyak terlibat dalam perancangan UU bidang politik dan hukum, dan terakhir ia aktif sebagai penasihat Pemerintah dalam penyusunan RUU tentang Mahkamah Konstitusi. Setelah RUU mendapat persetujuan bersama tanggal 13 Agustus 2003, ia dipilih oleh DPR menjadi hakim konstitusi generasi pertama pada tanggal 15 Agustus 2003, dan kemudian terpilih menjadi Ketua pada tanggal 19 Agustus 2003. 

Ia dipercaya memimpin MK selama 2 periode (2003-2006, dan 2006-2008). Setelah masa tugasnya selesai, sampai masa pendaftaran ditutup oleh DPR, ia tidak mencalonkan diri kembali sebagai hakim konstitusi. Namun, atas desakan semua partai, ia akhirnya bersedia meskipun untuk itu masa pendaftaran calon hakim terpaksa diperpanjang untuk kemudian dilantikan kembali menjadi hakim konstitusi.

Namun, setelah pelantikan dan kemudian diadakan pemilihan Ketua, Jimly tidak terpilih sebagai Ketua untuk periode ketiga. Ia digantikan hakim baru, yaitu Mahfud MD yang berhenti dari DPR untuk mengabdi menjadi hakim konstitusi. Setelah beberapa bulan kemudian, Jimly mengundurkan diri dari jabatan hakim konstitusi dan mulai sejak 1 Desember 2008 tidak lagi berstatus sebagai hakim. 

Ia merasa telah selesai melaksanakan tugas sejarah dalam membangun dan mengokohkan keberadaan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia sebagai lembaga peradilan yang modern dan tepercaya. Bahkan Ketua yang baru sudah terpilih sebagaimana mestinya untuk meneruskan estafet tugas konstitusional mengawal konstitusi. Banyak kritik yang dilontarkan atas pengunduran dirinya itu dari para anggota DPR. Namun, Pemerintah sangat menghargai jasa-jasanya dalam membangun lembaga Mahkamah Konstitusi dengan baik. Untuk itu pada bulan Agustus 2009, ia dianugerahi oleh Presiden, Bintang Mahaputera Adipradana.

Sesudah tidak lagi sebagai hakim, ia pernah dipercaya menjadi Ketua Panitia Seleksi Penasihat KPK (2009) dan Ketua Dewan Kehormatan Komisi Pemilihan Umum (2009-2010). Selain itu, ia juga diangkat menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden(Wantimpres) Bidang Hukum dan Ketatanegaraan sampai kemudian mencalonkan diri sebagai calon Ketua KPK. Ia juga aktif menjadi Penasihat Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (2009-sekarang). dan sejak 2013-2018 menjadi Ketua Dewan Penasihat. 

Aktivitas organisasinya, ia pernah aktif di organisasi kepemudaan Pelajar Islam Indonesia (PII). Sekarang di samping mengajar, Jimly aktif mendirikan sekolah kepemimpinan politik dan hukum yang diberi nama "Jimly School of Law and Government" (JSLG) sambil terus mengabdi kepada negara melalui pelbagai jabatan. Terakhir ia menjabat Ketua Dewan Kehormatan Pemilu (DKPP), Ketua Dewan Penasihat KOMNASHAM, dan anggota Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan (DGTK-RI).

Merasa Malu Dengan Prof. H.M Rasjidi

Ada hal menarik dalam kaitan antara Jimly Asshiddiqie  dengan Prof. H.M Rasjidi gurunya, ternyata dalam sebuah seminar di Bandung, Jimly mengakui dirinya merasa malu karena gelar kehormatannya lebih tinggi dari gelar kehormatan gurunya.

Wakil Ketua Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan (DGTK-RI) ini menerangkan, H.M. Rasjidi menerima gelar Bintang Mahaputra Pratama. Sementara Jimly mendapatkan gelar lebih tinggi yaitu, Bintang Mahaputera Adipradana.

“Wah, (H.M. Rasjidi) ini orang besar ini, masa penghargaan negara lebih tinggi saya daripadanya, waduh, malu saya,” ucapnya yang ketika muda seminggu sekali belajar filsafat di rumah Radjisi bersama Abdullah Hehamahua (Penasehat KPK) dan Yusril Ihza Mahendra (Ketum Partai Bulan Bintang).

Menurut Jimly, mengkaji pemikiran tokoh sangat penting untuk dilakukan. Sebab masyarakat Indonesia, pada umumnya, gemar mengkritik tapi lupa memberi penghargaan.

“Kebudayaan kita mengkritik dan mengecam orang, tapi memberi penghargaan kurang,” ujarnya.

Masih menurut Jimly, H.M. Rasjidi adalah pendiri Kementerian Agama dan Menteri Agama pertama. Beliau pernah menjadi Duta Besar Indonesia di Mesir dan Pakistan. Sambil menjadi diplomat, dia juga kuliah di Universitas Sorbonne, Paris.

“Dia Doktor Indonesia pertama lulusan (Universitas) Sorbonne,” jelas Jimly.

Dengan segala kelebihannya, Indonesia layak merasa bangga memiliki putera terbaiknya seperti Jimly Ashiddiqie. Sifat bijaksananya sebagai Ahli Tata Negara, juga menjadikan Jimly sebagai guru tempat bertanya di ICMI.

“Kebudayaan kita mengkritik dan mengecam orang, tapi memberi penghargaan kurang,”

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved