ngaji-algibran.png

Prof. Dr. H. Bambang Sudibyo, MBA

Prof. Dr. H. Bambang Sudibyo, MBA Guru Besar Universitas Gadjah Mada yang juga mantan Menteri Keuangan RI seorang akademisi yang memiliki sentuhan dengan politik dan bisnis. Oleh karena itu ketika ia mengajar flavournya juga terasa lain.

“Ekonomi Indonesia rusak seperti sekarang ini, lebih banyak oleh karena settingnya yang rusak, bukan oleh karena pranata ekonomi yang rusak,” demikian dikatakan Bambang.

Sekarang ini, menurut  mantan Ketua Umum ISEI ini, ekonomi Indonesia dibungkus oleh tiga lapis risiko yakni risiko sosial, risiko polkam dan risiko global.

Sebagai seorang ekonom, Bambang memiliki kepedulian terhadap permasalahan dunia politik dengan terus memantau perkembangan politik di Indonesia. Meskipun Dosen Teladan II tahun 1989 ini memiliki sentuhan dan pemikiran politik dan pernah ikut mendirikan partai politik (Partai Amanat Nasional), namun ia mengakui bahwa dirinya bukan seorang praktisi politik.
Ia menjaga betul keterlibatannya dalam dunia politik, hanya sebatas sumbangsih pemikiran saja. Karena ia melihat adanya keterkaitan yang erat antara politik dan ekonomi. Sedangkan hukum dianggapnya sebagai produk dari proses politik.

Sementara ekonomi diwadahi oleh kerangka kebersamaan politik. "Jika kerangkanya saja sudah tidak benar maka kegiatan ekonominya juga tidak benar," kata mantan Ketua Dewan Ekonomi (November 1998-April 1999), ini dalam percakapannya dengan Atur Lorielcide Paniroy dan Ysak Sahat Wartawan Tokoh Indonesia DotCom.

Sejak ada peraturan pemerintah tentang status PNS dalam partai poltik, penerima penghargaan pengabdian kepada negara 20 tahun, pada tahun 1999, ini memutuskan untuk meninggalkan politik praktis. Kalau dibilang ia seorang politisi, ia pikir bukan, tapi ia adalah yang peduli terhadap politik.

Bambang Sudibyo lahir di Temanggung, Jawa Tengah, 8 Oktober 1952. Ia adalah anak guru agama yang juga berprofesi sebagai petani tembakau dan padi di Temanggung. Bambang adalah anak kelima dari 11 bersaudara. Masa kecil bersama keluarga sampai beranjak remaja ia jalani di desa sekitar Temanggung.

Ia menempuh pendidikan dasar di kotanya, Temanggung. Setelah lulus SD kemudian masuk ke SMP Negeri 2 Temanggung dan melanjut ke SMA Negeri 1 Temanggung. Setiap pagi menuju sekolah ia mengayuh sepeda dari desa ke Temanggung.

Hingga Pada tahun 1972, saat ia berumur 18 tahun, akhirnya Bambang diterima di jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada. Orangtuanya habis-habisan mendukungnya dalam dana, padahal di keluarganya masih ada 6 adiknya, tetapi dengan cita-cita yang tinggi semua itu ia jalani dengan semangat yang kuat. Bambang berhasil menuntaskan kuliah S1 sebagai sarjana ekonomi dari UGM tahun 1977 dan kembali ke Almamaternya sebagai Dosen di tahun 1978.

Tetapi ia memilih menjadi dosen di UGM, karena Ayahnya sangat menginginkan ia menjadi dosen di UGM. Ia memilih jalan hidup ini oleh karena sikap hormat kepada ayah dan ibunya dan sebagai rasa ucapan terimakasih kepada orang tuanya yang telah membimbing dan dengan habis-habisan memberikan yang terbaik untuknya.

Pengajar Riset Akuntansi Manajemen pada program Pascasarjana UGM 1997-1999 ini, selalu mengingat ayahnya seorang yang sederhana, tetapi dikenal sebagai tokoh intelektual, bukan seperti orang kebiasaan.  Bambang menilai, ayahnya adalah seorang yang visioner dan berwawasan global.
“Beliau melihat anak-anaknya harus menjadi manusia yang intelektual,” kata Bambang.

Memang, hobi utama Bambang sejak dulu adalah membaca. Tema-tema bacaannya tidak hanya terbatas pada bacaan ekonomi saja, melainkan juga bacaan-bacaan agama, buku-buku filsafat, sosial, dan budaya. Selain membaca ia juga senang menanam bunga, ia seorang penggemar bunga.

Pada tahun 1979 ia menikah dengan Retno Sunarminingsih yang berasal dari keluarga guru. Setelah menikah, isterinya menjadi dosen farmasi di UGM. Istrinya kemudian membuktikan bahwa dirinya menjadi dosen bukan karena KKN dengan suaminya. Terbukti, karir akademik sang istri pun istimewa. Ia kini menjabat sebagai salah seorang Wakil Rektor bidang Penelitian di UGM dengan menyandang gelar profesor doktor.

Pernikahannya menghadirkan dua anak yang berbakat dan cerdas. Anaknya yang paling besar, Dananta Adi Nugraha, kuliah di fakultas ekonomi jurusan akuntansi.  Lalu anak keduanya, Harintho Budhi Wibowo, mengikuti kegemaran ibunya yaitu suka sekali dengan musik. Ia memiliki koleksi musik yang banyak.

Pada tahun 1979 Bambang dikirim oleh negara untuk mengambil program MBA di Universitas North Carolina, AS. Desember 1980 ia berhasil menyelesaikan studinya dan kembali ke tanah air. Kesempatan studi ke luar negeri kembali diterimanya pada Januari 1982. Ia pun kembali meninggalkan tanah air untuk mengenyam pendidikan di Universitas Kentucky sampai tahun 1985 untuk mengambil program doktor bidang business adminitration.

Setelah pulang ke Tanah Air, ia kembali mengajar di UGM. Pada tahun 1988 ia bergabung dalam proses pendirian MM UGM. Kemudian menjadi pengelola bidang program Keuangan. Pada tahun 1988 ia aktif di pusat studi Pusat Pengkajian Startegi dan Kebijakan (PPSK) yang diketuai Amien Rais di Yogya. Tahun 1989 ia diangkat menjadi wakil direktur program dan pengelola akedemik. Di tahun 1993 ia dipromosikan menjadi Direktur program MM UGM, sampai tahun 1999.

Ketika itu ia berhenti menjadi direktur MM UGM karena diangkat oleh Presiden Abdurrahman Wahid menjadi menteri keuangan dan hanya berjalan selama kurang dari satu tahun, karena pada Agustus 2000 terjadi reshuffle kabinet dan ia termasuk menteri yang diganti.

Sejak tahun 1998 menjadi komisaris BPPN X, ketika Tanri Abeng menjabat Menteri BUMN. Selain pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan RI, sesuai dengan undang-undang, ia juga menjabat sebagai wakil ketua dewan komisaris Pertamina, serta menjadi anggota Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) yang diketuai Kwik Kian Gie.

Pendidikan Bisinis dan Politik

Selain akrab dan berpengalaman dengan dunia perguruan tinggi, Bambang juga banyak teribat dalam bidang konsultasi bisnis. Karena ia percaya dua hal yang penting dalam dunia ini yaitu politik dan bisnis. Dua hal ini, menurutnya, sangat menentukan jalannya kehidupan sebuah bangsa. Karena jika sudah ada kesadaran bahwa hal itu penting, tidak mungkin hanya pasif saja atau sebagai penonton, tetapi harus terlibat di dalamnya.

Ia bisa dibilang seorang akademisi yang memiliki sentuhan dengan politik dan bisnis. Oleh karena itu ketika ia mengajar flavournya juga terasa lain.

"Pendidikan ekonomi di Indonesia selama ini terlalu steril dan naif, seakan-akan berjalan dalam ruang vacum, terlepas dari setting politik, sosial, dan setting global. Padahal, setting tersebut memiliki pegaruh yang besar sekali. Ekonomi Indonesia rusak seperti sekarang ini, lebih banyak oleh karena settingnya yang rusak, bukan oleh karena pranata ekonomi yang rusak," paparnya.

Di bidang sosial dan politik, ia menjadi Anggota MPR RI Fraksi Utusan Golongan, sejak Mei 2001-2004 mewakili ISEI. Ia juga menjabat Bendahara PP Muhammadiyah 2000-2005.

ia juga ikut mendirikan ICMI tahun 1990 dan menjabat Ketua Bidang Ekonomi Sumberdaya 1990-1995 dan Anggota Dewan Pakar 1995-2000 di organisasi cendekiawan muslim ini.

Selain itu, ia juga ikut mendirikan dan menjadi anggota Majlis Amanat Rakyat (MAR), 1998, serta ikut mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) tahun 1998, dan menjabat sebagai Ketua Dewan Ekonomi pada November 1998-April 1999. 

Saat ini, di tahun 2015 Bambang dipercaya mewakili unsur Masyarakat untuk duduk sebagai pimpinan Badan Amil Zakat Nasional periode tahun 2015 -  2020. Dengan keilmuannya dibidang ekonomi, serta pemahaman agamanya yang kuat diharapkan Baznas yang dipimpinnya akan mampu meratakan kesejahteraan kepada Masyarakat Indonesia.

Ekonomi Indonesia rusak seperti sekarang ini, lebih banyak oleh karena settingnya yang rusak, bukan oleh karena pranata ekonomi yang rusak

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved