ngaji-algibran.png

Haedar Nashir

Haedar Nashir
Lahir di Bandung, 25 Februari 1958. Meski lahir di Bandung, Haedar malah banyak melakukan kegiatan dan tinggal di Yogyakarta. Di lingkungan Muhammadiyah, Haedar Nashir bukan orang baru. Bisa dibilang dia besar dan tumbuh bersama organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan.
Kiprah Haedar di Muhammadiyah merangkak dari bawah. Tahun 1983 dia mulai menjabat Ketua I Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Sejak tahun 1985 hingga 1990, Haedar dipercaya mengisi Deputi Kader PP Pemuda Muhammadiyah. Selanjutnya menjadi Ketua Badan Pendidikan Kader (BPK) dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah PP (1985-2000). Terakhir, dia menjabat Sekretaris PP Muhammadiyah pada 2000-2005, sebelum menjadi Ketua PP dua periode hingga 2015.
Selain aktif di Ormas Islam terkemuka di Indonesia itu, Ia juga rutin mengajar di Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Istrinya, Siti Noordjannah Djohantini, juga menjabat Ketua Umum PP Aisyiyah dan berpeluang besar terpilih kembali untuk periode kedua.
Pada muktamar Muhammadiyah ke 47 yang berlangsung di Makasar, Haedar bersaing dengan sejumlah rekan sejawatnya di Pengurus Pusat Muhammadiyah. Mereka antara lain Yunahar Ilyas, Dahlan Rais, Abdul Mu’ti, dan Syafiq A. Mughni. Juga dengan tokoh populer semacam seperti Busyro Muqaddas, yang pernah menjabat Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi dan Komisi Yudisial. 
Ada yang menarik dari muktamar kali ini. Sebab di saat bersamaan, istri Haedar, Siti Noordjannah Djohantini, juga menambah masa jabatan di PP Aisyiyah sebagai ketua umum. Keduanya pun mengikuti jejak pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan istrinya, Siti Walidah, sekitar satu abad lalu di masa pendirian Muhammadiyah.
Muhammadiyah sebagai organisasi Islam didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta, pada 1912. Dua tahun berselang, istri Dahlan, Hajjah Siti Walidah, mendirikan Sopo Tresno, kelompok yang berfokus pada pembahasan isu-isu perempuan. Walidah yang akrab disapa Nyai Dahlan kemudian mengubah nama kelompok itu menjadi Aisyiyah, yang terinspirasi dari nama istri Nabi Muhammad, Aisyah. Belakangan Aisyiyah menjadi bagian Muhammadiyah dengan menjadi organisasi otonom untuk perempuan.
Dahlan diketahui memimpin Muhammadiyah hingga akhir hayatnya di tahun 1923. Adapun Nyai, selain memimpin Aisyiyah, juga aktif di Muhammadiyah selepas peninggalan suaminya. Ia sebagai perempuan pertama yang memimpin Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya, 1926.
Setelah generasi Dahlan dan Nyai, bergantian tokoh memimpin Muhammadiyah dan Aisyiyah. Selama puluhan tahun berselang, belum pernah ada pasangan suami-istri yang mengikuti jejak mereka, memimpin kedua organisasi dalam waktu bersamaan. Peluang itu terbuka pada Muktamar ke-47 di Makassar, yang juga bertepatan dengan peringatan satu abad Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Haedar Nashir: Pluralitas itu adalah sunnatullah

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved