iklan-baner-euro.gif

Dr. Marwah Daud Ibrahim

Dr. Marwah Daud Ibrahim Marwah Daud Ibrahim, dilahirkan 8 November 1956 di Takkalala, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, anak kedua dari delapan bersaudara (dua orang meninggal usia kecil). Ibundanya Siti Rahman Indang menikah ketika kelas dua SMP, dan Ayahandanya Muhammad Daud, adalah guru Sekolah Dasar (SD).

Proses kelahirannya dibantu oleh Petta Becce, yang langsung menggendong, membuka mulut sang Bayi membacakan Al-Qur’an Surah 97, Surah Al-Qadr sebelum kemudian diqamatkan. Belum genap sebulan, bayi Marwah dibawa oleh orang tua yang menjadi Guru dan Kepala Sekolah SD di Pacongkang, desa Barang, Kecamatan Liliriaja, tepian Sungai Walenai, Kabupaten Soppeng.

Di dusun inilah, sejak usia kecil sang Ayah sering menceritakan sejarah nabi-nabi (dengan berbagai ajaran dan mujizat), kisah para wali (tentang kejujuran dan pemihakan kepada orang miskin), para pejuang dan pemimpin bangsa (dengan segala lika-liku perjuangan mereka), juga tentang kerajaan Bugis (termasuk tentang kepemimpinan perempuan di Kerajaaan Soppeng).

Tinggal di lingkungan sekolah, membuat Marwah dari kecil terbiasa membaca. Ia sudah mulai mengenal pikiran tokoh seperti Montessori, John Dewey, Socrates, Benjamin Franklin pada usia SD. Sang Ayah adalah tokoh masyarakat yang selalu membawa perubahan dan inovasi ke desa.

Marwah dari kecil sangat aktif. Pagi hari belajar di sekolah umum, sore hari belajar di madrasah DDI, magrib dan isya serta subuh sholat berjamaah di masjid. Kesibukan penting lainnya adalah mengaji dari guru dan menyimak terjemahan Al Qur’an dengan Sang Ibu. Marwah juga rajin membantu orang tua bertani sayuran, beternak ayam, itik, ikan, memelihara ulat sutra serta mengaji. Terkadang ia mendampingi Nenek Setiara menjual perhiasan emas hasil karya kakeknya, Panre Baco, Pandai emas satu-satunya di desa itu.

Pendidikan SD ditempuh hanya 5 tahun di Pacongkang (tamat 1966) kemudian dilanjutkan di SMPN Cangadi di Pacongkang. SMP ini merupakan sekolah yang baru dibuka, sehingga sambil belajar anak-anak harus bergotong royong mengangkut pasir sungai dan batu gunung untuk membangun sekolah. Masing-masing siswa harus membawa meja dan kursi dari rumah masing-masing untuk dipakai di kelas.

Tamat SMP (1969), Marwah masuk SPG Negeri Soppeng, di Watan Soppeng ibukota kabupaten yang sering dijuluki kota kalong. Tinggal di rumah sepupu dari pihak ayah, keluarga A. Amiruddin Tumpa & Pung Pacu. Di SPG ini Marwah memperlihatkan keberanian dengan memprotes guru yang mengajar tentang tumbuhan dan serangga dengan memperlihatkan buku di kelas “Itu di gunung banyak serangga dan tumbuhan hidup, kenapa kita tidak langsung belajar ke sana.” Karena usulnya tak dihiraukan, Marwah menggerakkan teman sekelas merancang perjalanan karyawisata ke gunung: mengumpulkan bekal, alat tangkap serangga, alat gambar untuk ke gunung. Kepala sekolah yang tadinya tidak sepakat, akhirnya terkesan dan kemudian menunjuk guru untuk mendampingi siswa ke gunung. Ketika kembali dengan membawa rupa-rupa alat peraga dari gunung, dilakukakan upacara penyambutan sekolah, dan program tersebut diadopsi sebagai kegiatan resmi sekolah.

Kuliah di Jakarta dan Makassar

Hari pertama Universitas Hasanuddin, sebelum perkuliahan dimulai, Marwah sudah ikut demonstrasi di Pusat Kegiatan Mahasiswa. Ketika itu, ada tokoh Tadjuddin Noer Said, Andi Mattalatta, Husni Tanra dan Syafri Guricci. Bersamaan dengan itu Seniornya Anwar Arfifin dan Akib Halide mengajaknya ikut Maperca HMI. Kegiatan awal ini mengesankan Marwah, jadilah ia seorang aktivis intra dengan kegiatan di Senat dan Dewan Mahasiwa serta kegiatan ekstra dengan mengikuti seluruh jenjang pengkaderan HMI (Basic, Intermediate, Advance dan Pusdiklat).

Prestasi akademik dan tugasnya sebagai pembawa acara universitas dan kemampuan berargumentasi, berartikulasi menyebabkan ia selalu tampil menonjol dalam dialog atau kuliah umum dengan tokoh nasional yang sedang berkunjung ke Unhas. Tapi keaktifan itu pula yang membuat ia menjadi salah satu mahasiswa yang harus diinterogasi dan wajib lapor ke pihak berwajib setelah gerakan mahasiwa 1978.

Penerima Beasiswa Supersemar ini pada Tahun 1978 diminta mewakili Unhas dalam dialog Nasional DPP KNPI. Acara yang dibuka oleh Wapres Adam Malik dan dihadiri para Menteri, memunculkan Marwah sebagai tokoh mahasiswa di pentas nasional bahkan tampil dalam dialog di TVRI. Rupanya wawancara tersebut disimak oleh Prof. B.J. Habibie, Prof. Emil Salim, Ibu Lasiyah Soetanto, sehingga besoknya ketika ada acara dengan Presiden di Istana, beliau memuji kecerdasan dan argumen Marwah di TV. Bahkan Prof. B.J. Habibe memuji kepintaran dan kecerdasan Marwah dalam bahasa Bugis. Tahun itu Marwah hijrah ke Jakarta sebagai Wakil Sekjen PB HMI.

Ke Philadelphia dan Washington DC

Setelah melewati perjuangan yang berliku, pada Musim gugur 1979, Marwah berangkat ke Philadelhia, Pennsylvania, kota yang amat sangat dikenalnya melalui beografi Benjamin Franklin yang dibacanya sejak di desa dulu. Marwah terbang dengan pesawat Checoslavakia dengan harga tiket paling murah. Setelah mampir di sejumlah Negara: Malaysia, India, Dubai, Yunani, Praha, pesawat yang ditumpanginya tiba di New York. Dijemput oleh petugas Konsulat Jenderal, kemudian diantar ke Philadelphia dan tinggal di kediaman keluarga Dr. Maulana Mardayat.

Dana dari Indonesia cukup untuk satu semester. Marwah sudah bertekad untuk tidak hanya kursus, tapi kuliah S-2 dan S-3 di Amerika. Kalau ada tiket di tangan, jika ada kesulitan saya pasti tergoda pulang, jadi tiket pulang saya kirim ke Indoensia. Sebuah keajaiban dan anugerah terjadi, walau dengan bahasa terbatas Marwah diterima bekerja di Career and Placemen test di Pennsylvania, University, Philadelphia.

Sebuah pengumuman tentang kesempatan kuliah MA di The American University, Washington, D.C. memberi inspirasi bagi Marwah untuk ingin kuliah di Ibu kota negeri yg dijuluki superpower itu dan membayangkan sambil bekerja di kedutaan Indonesia.

Marwah kemudian mengirim surat ke kedutaan, kemudian berangkat dengan kereta api dari Philadelphia ke Washington, D.C. Ia bertemu dengan Pak Herman dan Ibu Niniek Bakrie dan Ibu Sri Sadeli Kuhn di Hyattsville, Maryland. Ia mendapatkan pekerjaan untu menangani Majalah kedutaan, Caraka Media. Penghasilan pas-pasan sehingga untuk bisa mengambil kuliah ia meminjam dana dari Atase Militer RI, Pak Djarot yang kemudian harus dicicil tiap bulan.

Marwah menyadari lebih mudah kuliah S-2 jika sudah selesai S-1 di Indonesia. Tapi ia belum merampungkan skipsi di Unhas. Saat itulah Dr. Basri Hasanuddin, ke Kedutaan menenyarankan kembali menyelesaikan S-1. Skripsi sarjana bisa diselesaikan. Dan ada peristiwa menarik ia kembali menjadi pembawa acara bersama Moh. Roem di acara peresmian kampus baru Unhas oleh Presiden Soeharto, di mana dia juga dulu MC peletakan batu pertamanya.

Skripsi akhirnya selesai tahun 1981. Atas bantuan Rektort Unhas Prof. A. Amiruddin dan Menpora Abdul Gafur, Marwah mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Jepang untuk Pemuda ASEAN untuk kuliah tingkat Master di The American University, Washington, D.C. Marwah kembali ke Washington, D.C. mengambil program S-2, kuliah sambil menulis di koran kedutaan, menulis di media tanah air dan menjadi asisten peneliti UNESCO untuk arus informasi dunia.

Kerja keras dan prestasi gemilang Marwah membuahkan hasil, saat ia berhasil membuat model tentang arus informasi dunia setelah meriset ribuan item berita tentang Afrika, Asia, Eropa, Latin Amerika. Laporan ini kemudian oleh dosennya, Dr. Hamid Mowlana, menjadi bagian dari laporan Unesco tentang arus informasi global. Kerja kerasnya membuahkan hasil sekalian lulus dengan gelar Distinction.” Marwah juga mendapatkan undangan mengikuti program S-3.

Usai S-2 (1983) Marwah kembali ke Indonesia, bekerja di BPP Teknologi dan menikah dengan Ibrahim Taju. Belum cukup setahun di BPPT, tawaran ikut S-3 tiba dari Washington, D.C. dan BPPT meluncurkan program OFP. Marwah kembali mendapatkan beasiswa S-3, yang bahkan ia selesaikan lebih cepat dari teman-temannya yang lain seangkatannya.

Kembali ke Indonesia

Terhitung lebih kurang 10 tahun, Marwah pulang pergi Indonesia-Amerika, dari tahun 1979 ke 1989. Dengan membawa 2 orang anak, dan menggondol gelar MA dan Ph.D. Marwah kembali ke Indonesia beserta oleh-oleh buku referensi sebanyak satu kontainer yang dititipkan melalui Pak Sudrajat sekarang Dubes Indonesia di China (yang ketika itu juga akan kembali ke Indonesia setelah merampungkan tugas di atase pertahanan di KBRI Washington). Kalau pertama berangkat dengan jalur Atlantik melalui Eropah (Malaysia, India, Abudhabi, Yunani, Checkoslavakia, New York) Marwah kembali ke Indonesia melalui Los Angeles, Hawaii, masuk melalui Biak untuk kemudian di Makassar bertemu dengan keluarga di sana.

Ke Jakarta, bekerja di BPP Teknologi. Melihat betapa pentingnya melakukan sosialisasi peran Iptek dalam pengembangan masyarakat dan kemajuan peradaban. Ia pun Mengajak Eros Djarot, Christine Hakim, Emha Ainun Nadjib berdialog budaya dan teknologi di BPPT. Kemudian bersama Taufiq Rahzen, Ismet Hasan Putro dan Amanda N. Katili ke bebeapa wilayah di Jawa Timur. Difasilitasi oleh Adil Aminullah dan Yusron, Marwah bersama Drs. Makmur Makka dan Dr. Wardiman Djojonegoro melakukan program berkeliling ke pesantren untuk dialog dan sosialisasi manfaat Iptek.

Beberapa bulan setelah itu, Mahasiwa Malang, Erick Salam, Ali Mudakkir, Mohammad Zaenuri, Awang Surya dan Mohammad Iqbal membawa gagasan mengadakan simposium yang kemudian menjadi titik awal pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Tahun 1990 diwarnai oleh kesibukan luar biasa pembentukan ICMI, Marwah bersama Amin Rais, Nurcholis Madjid, Imaduddin Abdurrahim, Dawam Raharjo, Muslimin Nasution, Bintang Pamungkas, Watik Pratiknya, Bambang Sudibyo, Amin Azis, Natsir Tamara, Fadel Muhammad, dan banyak lagi lainnya, mempersiapkan simposium yang dibuka oleh Tri Sutrisno, ditutup oleh Pak Harto yang kemudian menjadi proses kelahiran ICMI.

Di ICMI berbagai gagasan dan program juga dikembangkan, antara lain pengembangan Yayasan Amal Abadi Beasiswa Orbit, Majelis Sinergi Kalam, pengembangan Desa Berbasis Sarjana di Bukit Sutra, Luwu Sulsel. Dan sekarang ini fokus pada pengembangan desa mandiri dengan mengembangkan beberapa model program di Natuna untuk ikan dan kelapa, dan di Papua dan Garut berupa pengembangan bio-ethanol dan tepung lokal. Dan Program pengembangan unggulan desa lainnya seperti: kakao, itik, bambu dll.

Saat diangkat sebaga Ketua Presidium Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) tahun 2012, Marwah Daud Ibrahim mengatakan, rakyat Indonesia pelu mengembangkan karakter dan moral sebagai jati diri bangsanya.
“Bangsa Indonesia perlu mengembangkan karakter dan moral sebagai ciri khas bangsanya untuk dapat bersaing dengan bangsa lain. Oleh karenanya ICMI hadir sebagai bagian dari pengembangan karakter tersebut,” kata Marwah pada saat silaturahim ICMI di Jakarta, dikutip dari laporan Mi'raj Islamic News Agency (MINA) Jakarta.

“Bangsa Indonesia perlu mengembangkan karakter dan moral sebagai ciri khas bangsanya untuk dapat bersaing dengan bangsa lain. Oleh karenanya ICMI hadir sebagai bagian dari pengembangan karakter itu"

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved