Home / Media / Siaran Pers / Ketum Icmi Jangan Golput Sebab Berpotensi Terpilihya Pemimpin Yang Buruk

Ketum ICMI: Jangan Golput sebab Berpotensi Terpilihya Pemimpin yang Buruk


Posted on Kamis, 10 Jan 2019 12:20 WIB


Ketum ICMI: Jangan Golput sebab Berpotensi Terpilihya Pemimpin yang Buruk

Jakarta (ICMI Media) - Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) mengajak seluruh masyarakat Indonesia yang telah memenuhi syarat mengikuti pemilihan umum (pemilu) agar memanfaatkan hak pilihnya pada tahun 2019.

Dengan menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2019, maka diharapkan tak merugikan masyarakat lain sebab terpilihnya sosok pemimpin yang kurang baik.

Hal tersebut dikemukakan Ketua Umum ICMI Prof DR Jimly Asshiddiqie saat diskusi media Dialektika ICMI bertema Tinjauan Konstitusi Preferensi Publik dalam Memilih Calon Pemimpin, di Jakarta, Rabu (9/1/2019).

"Kita harus menyadarkan semua orang kalau hak pilih (pemilu 2019) dipakai. Usahakan jangan 'golongan putih (golput)'. Kita berkampanye supaya jangan ada yang golput," ujar Jimly.

Jimly berharap, dengan sistem pemilu tahun 2019 maka tingkat partisipasi pemilihnya dapat ikut meningkat. Jimly berpendapat, hal itu disebabkan saat ini pilihan calon dari Presiden, Wakil Presiden sampai anggota legislatif pusat, provinsi, kabupaten dan kota serta DPD telah dilakukan serentak.

"Karena kalau dulu kan tidak serentak, memilihnya satu-satu. Sekarang milihnya lima kertas, khusus di Jakarta ada 4 kertas. Artinya pilihan presiden, DPR, DPD dan DPRD provinsi," ucap Jimly.

Oleh sebab itu, menurut Jimly, sistem pemilu 2019 berpotensi melahirkan kesamaan tingkat keterkenalan calon yang dipilih sebab jumlah konstituennya saat memilih sama.

Menyoal pemilu 2019, Jimly juga mengajak agar seluruh anggota relawan calon agar menyampaikan tentang keunggulan sosok yang diunggulkannya. Bukan sebaliknya, membicarakan kandidat lain sebab akan dinilai akan menimbulkan pernyataan yang buruk saja.

"Akibatnya kita menjelekkan calon yang lain. Kampanye negatif kemudian dibalas pihak lawan. Maka komunikasi publik kita diisi oleh jawab menjawab penuh kebencian, permusuhan," kata Jimly.

Jimly mengimbau, guna mewujudkan komunikasi politik yang "sehat" di era digital, maka salah satu caranya adalah para pemilih tak terbawa perasaan (baper) ketiak memanfaatkan media sosial.

Selanjutnya, para pemilih di pemilu 2019 yang merupakan masyarakat Indonesia agar jangan menyebarkan informasi yang tak jelas kebenarannya (hoax).

Jimly meminta kepada para tokoh masyarakat, termasuk pelaku partai politik, menjadi teladan perkataan serta perbuatan sehingga mampu mewujudkan komunikasi publik yang baik.

Jimly mengungkapkan, amat bersyukur dengan sistem pemilu yang diterapkan di Indonesia sebab memberikan kebebasan, kerahasiaan, sehingga membuat masyarakat dapat memilih secara obyektif calonnya tanpa tekanan pihak tertentu.

Jimly mengingatkan, pemilu adalah cara memilih pemimpin. Siapapun nantinya yang terpilih harus dihargai sebagai pemimpin bangsa sebab pemilu hanya merupakan metodenya. (so/cr)


Tags : Jimly Ketua ICMI Politik Siaran Pers






Media Terpopuler