ngaji-algibran.png

ICMI: Jangan sebab Soal Kebangsaan, Bahasa Daerah Jadi Raib

Syahrul Hidayanto 2 October 2017 comments ICMINews
Jakarta (ICMI Media) – ICMI menganggap bahwa identitas sama halnya dengan kepribadian atau karakter yang melekat pada manusia. Identitas tersebut, menurut ICMI, jangan sampai terlepas hanya sebuah faktor alasan tertentu.

Ketua Umum ICMI Prof DR Jimly Asshiddiqie mengatakan, identitas dalam kehidupan kebangsaan amat bernilai penting. Jimly berpendapat, identitas dalam kebangsaan perlu dimaknai secara positif.

“Kita memerlukan penguatan identitas nasional. Jadi identitas lokal, identitas agama, itu tetap harus diperkuat, tapi identitas kebangsaan harus lebih diperkokoh,” ujar Jimly, di Jakarta, Senin (25/9).

Jimly mencontohkan terkait pentingnya penguatan identitas, jangan sampai lepasnya bahasa daerah hanya karena berdalih kebangsaan atau persatuan nasional. Jimly mengungkapkan, kondisi seperti itu pernah terjadi sebelum masa reformasi.

“Itulah yang menjadi alasan mengapa ditambahkan pasal 32 ayat 2 dalam amamdemen UUD 1945. Negara menghormati dan mengembangkan bahasa daerah sebagai kebudayaan nasional. Itu khusus ditambahkan dengan melihat kenyataan, banyak bahasa daerah yang sudah hilang,” ucap Jimly.

Jimly menuturkan, menurut laporan The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), dari 726 bahasa daerah di Indonesia, setelah reformasi jumlahnya menyusut, hanya menyisakan 640. 

“Ada penelitian terakhir dari orang Perancis. Ditemukan satu bahasa dari Papua, penduduknya cuma lima orang, sudah tua semua. Jadi kalau lima orang tersebut meninggal, hilang lagi bahasanya. Jadi bahasa daerah itu harus dikembangkan. Maka dilindungi dengan konstitusi. Apa sebab hilang? Karena kita terlalu menekankan penyeragaman bahasa. Bahasa Indonesia,” ujar Jimly.

Jimly menjelaskan, banyak masyarakat yang kurang memahami bila maksud bunyi ketiga Sumpah Pemuda. Dalam Sumpah Pemuda disebutkan bahwa bunyi ketiga adalah menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bukanlah satu bahasa.

Oleh sebab itu, Jimly menuturkan, mengartikan bahwa bahasa daerah tetap harus ada dan dipertahankan sebagai identitas kebangsaan. (SYH/CR)

Artikel Terkait

KOMENTAR

LEAVE A RESPONSE

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved