ngaji-algibran.png

Islam Memerangi Rasisme

Syahrul Hidayanto 22 August 2017 comments Artikel
Pertanyaan yang kerap kali ditanyakan oleh orang lain adalah apakah Islam memerangi rasisme atau sebaliknya mendukung rasisme? 

Yang menyedihkan memang terkadang kecurigaan jika Islam mendukung rasisme adalah karena memang masih terjadi praktek-praktek rasisme di belahan dunia Islam. Di negara-negara Timur Tengah hingga kepada keislaman seseorang masih kerap kali dinilai berdasarkan ras dan bentuk wajah. Jika anda berwajah Asia, apalagi tanpa janggut, maka dengan itu seolah iman anda kurang dari mereka yang berwajah Arab, apalagi dengan janggut panjang.

Penilaian keislaman bahkan keimanan seperti ini bagi saya, sengaja atau tidak, adalah rasisme dalam beragama dan atas nama agama. Padahal Rasul sendiri mengatakan: "Sungguh Allah tidak melihat kepada bentuk fisik anda. Tapi kepada hati dan amal anda". 

Lalu langkah-langkah apa saja yang Islam lakukan dalam rangka membasni, minima mengurangi pandangan dan karakter rasisme ini? 

Berikut saya sampaikan secara singkat dan sederhana:

Satu, melalui konsep tauhid: "laa ilaaha illa Allah". Konsep ini bukan sekedar konsep vertikal tanpa konsekwensi horizontal. Ketika seorang Muslim mengikrarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah, maka pada saat yang sama harus yakin bahwa "superioritas" atau "supremasi" itu hanya milik Dia Yang Maha Tunggal. Dan karenanya selain Dia, semua sama secara mandasar. Keimanan kepada Tuhan yang Satu tapi membeda-bedakan manusia adalah keimanan yang gagal secara horizontal (hablun minannas).

Dua, melalui konsep satu keluarga kemanusiaan kita. Bahwa siapapun kita saat ini, dalam hal apa saja, termasuk suku, ras, warna kulit, bahkan strata sosial, kita jangan lupa bahwa kita semua berada dalam satu keluarga kemanusiaan (one human family). Kita diciptakan dari satu orang (nafsin wahidah) dan dari pasangan yang satu (dzakar wa untsa). Dan karenanya membeda-bedakan manusia atas dasar suku dan ras atau warna kulit adalah penghinaan pada keluarga, bahkan diri sendiri.

Tiga, perbedaan apapun dalam hidup itu, termasuk ras, warna kulit, dan juga bahasa, dan lain-lain adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. "Dan di antara tanda-tanda kebesaranNya bahwa Dia menciptakan langit dan bumi, dan perbedaan warna kulit dan bahasa kamu. Sungguh yang demikian itu adalah tanda-tanda bagi orang-orang yang berilmu" (Al-Quran). Lain kata, mereka yang gagal menemukan kebesaran Allah dalam keragaman ras dan bahasa itu adalah orang-orang yang tidak berilmu alias bodoh.

Empat, bahwa Islam memandang kemuliaan setiap orang tanpa kecuali. Bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan dimuliakan (mukarram). Dan kemuliaan ini adalah kemuliaan samawi, pemberian langsung tanpa ikatan apapun oleh yang Mencipta. Oleh karenanya merendahkan seseorang karena ras atau warna kulit, sama saja merendahkan Tuhan itu sendiri. Sungguh sebuah kesombongan manusia yang rasis.

Lima, Islam menilai manusia hanya melalui satu kriteri. Kriteria yang tidak dibatasi oleh batasan-batasan dunia dan materi. Tapi ditentukan oleh satu yang semua manusia, apapun latar belakangnya mampu memilikinya. Itu ketakwaan. Sebuah pertimbangan yang ditentukan oleh hati (iman) dan karya (prilaku). Dan dalam hal ini, siapapun dia (orang itu) memiliki kesempatan yang sama.

Akhirnya, sunggguh berbangga umat ini menjadi pengikut baginda Rasulullah SAW. Bahwa sejak awal kedatangan risalah (message) yang dibawanya, semua dengan tegas menentang sikap rasisme Arab saat itu. Sebaliknya beliau bangun dan suburkan kesetaraan yang sejati antar manusia. Beliau memandang Bilal setara dengan Abu Bakar, Salman setara dengan Umar. Selebihnya penilaian itu ada pada Allah. Tapi sebagai manusia beliau menempatkan sahabat-sahabatnya pada posisi yang setara. Mungkin dalam bahasa sabdanya: "bagaikan gigi-gigi sisir yang rata". 

Inilah yang menjadikan beliau di saat melaksanakan ibadah haji yang dikenal dengan haji wada menyampaikan "deklarasi hak-hak asasi" dan "kesetaraan manusia secara universa". Saat itu beliau menyampaikan khutbah wada' yang berisikan antara lain: "Sesungguhnya bapak kamu satu, Adam. Dan Adam diciptakan dari tanah. Tidak ada kelebihan orang Arab atas non Arab, dan tidak ada pula kelebihan non Arab atas orang Arab, kecuali dengan ketakwaan". 

Pernyataan ini disampaikan oleh beliau di padang Arafah, di abad ketujuh, yang berabad-abad kemudian orang-orang di dunia Barat merumuskannya dalam deklarasi hak asasi manusia. Deklarasi Vienna inilah yang dikenal dengan nama: Declaration of Human Rights.

Umat ini hanya perlu sadar, perlu lebih mendalami dan kembali menghayati ajaran agamanya. Sebab semakin tahu dan sadar akan agama ini semakin pula akan membanggakan, sekaligus menjadi tanggung jawab untuk membawanya menjadi lentera di tengah kegelapan dunia modern saat ini. Semoga! 

Penulis : Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation
* Khutbah Jumat di Jamaica Muslim Center  (18 Agustus 2017)*
 

Artikel Terkait

​Laju Dunia Global dan Islam

Syahrul Hidayanto 11 August 2017

Rahasia Kecerdasan BJ Habibie

Syahrul Hidayanto 23 March 2017

​MUI, GNPF MUI dan Umat Islam

Syahrul Hidayanto 14 December 2016

Nasehat Untuk Bangsa

Syahrul Hidayanto 31 October 2016

KOMENTAR

LEAVE A RESPONSE

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved