iklan-baner-euro.gif

Membumikan ICMI

Chamid Riyadi 21 March 2017 comments Catatan ICMI
Jakarta, (ICMI Media) - Getar hati ketika spanduk dan bendera Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonseia (ICMI) berkibar di seputaran Bandar Lampung beberapa hari terakhir ini. Ada apa gerangan setelah nyaris lima tahun ICMI di Lampung vakum? Ternyata organisasi ini kembali hidup ditandai dengan pelantikan Majelis Pengurus Wilayah ICMI Organisasi Wilayah (Orwil) Lampung, Kamis (16/3/2017) kemarin. Waktulah yang kelak akan menjawab, apakah bangunnya ICMI dari tidur panjangnya kali ini benar-benar mampu memberikan kontribusi positifnya terhadap kemajuan bangsa dan pemberdayaan ummat sebagaimana diharapkan dari pasang surut perjalanan lembaga ini. Ya, saya menyebutnya pasang surut karena meski lima tahun terakhir ICMI stag pada nama yang tak memberi makna, ICMI juga pernah berjaya baik dalam konteks lembaga maupun kiprah (program)-nya. Bagi generasi dan pada masa ‘90-an, ICMI adalah istimewa. Secara lembaga, inilah organisasi tempat berkumpulnya para insan cendikia muslim yang a-politis dan secara riil mampu menjadi kekuatan penyeimbang bagi dominasi kekuasaan. Dalam perspektif politik, ICMI berhasil menjadi salah satu institusi yang memperkuat interaksi Islam sebagai kekuatan politik dengan birokrasi dan pembuat keputusan. Dari proses interaksi inilah keluar kebijaksanaan-kebijaksanaan yang berguna bagi pembangunan kesejahteraan umat dan peningkatan kualitas manusia serta pengembangan bidang spiritual. Dikutip dari laman Lampost.co, bagi komunitas Islam, ICMI juga lahir sebagai jawaban atas banyaknya pendapat terkucilnya Islam yang nyaris menyeluruh dari pemerintahan. Bagi intelektual muslim, ICMI pernah menjadi wadah sangat berpengaruh dalam memengaruhi kebijakan pemerintahan. Pun bagi pemerintah, kritik banyak pihak bahwa negara selalu vis-à-vis dengan agama dimentahkan dengan kelahiran ICMI pada kongres pertama ICMI di Malang, 6 Desember 1990 yang lalu. Meskipun awalnya restu Presiden Soeharto dengan membuka kongres ICMI hanya merupakan strategi oportunistik untuk mendapatkan dukungan orang Islam atau seperti diungkapkan banyak anggota ICMI bahwa tindakan presiden tersebut lebih merupakan pengaruh oleh pengakuannya terhadap perubahan-perubahan besar pada masyarakat Indonesia khususnya menguatnya kalangan Islam, namun sejarah kemudian membuktikan bahwa ICMI secara lembaga merupakan salah satu organisasi yang perkembangan jaringannya sangat cepat hingga sampai pada tingkat satuan (organisasi satuan). Dalam konteks kiprah (program), perkembangan kelembagaan ICMI dari tingkat pusat hingga satuan juga sangat berpengaruh terhadap kontribusi ICMI dalam membangun umat. Program utama ICMI yang didesain di awal pembentukannya adalah meningkatkan kemampuan umat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam perjalanannya, konsep membangun iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) bersama dengan membangun imtak (iman dan takwa) kemudian menjadi jargon utama ICMI. Harus diakui konsep pembangunan iptek dan imtak (yang disebut secara bersamaan) adalah salah satu hasil fenomenal dari pembiasaan ICMI. Perekonomian Syariah Selaras dengan pembangunan iptek dan imtak, ICMI dalam perjalanannya juga berhasil mendesain dua program utama yaitu pemberdayaan ekonomi umat dan pemberdayaan orang tua bimbing dan anak bimbing. Ketika sistem perekonomian Indonesia di masa jaya-jayanya Orde Baru sepenuhnya ditopang oleh sistem ekonomi kapitalis (meski berwajah ekonomi Pancasila), ICMI—dengan basis kesadaran komunitas muslim yang mayoritas—menawarkan lahirnya sistem perekonomian syariah. Lahirlah kemudian Bank Muamalat sebagai bank pertama di Indonesia yang berbasis syariah. Jika dalam perjalanannya kemudian muncul bank lain yang juga syariah, satu hal yang tak bisa diingkari adalah bahwa ICMI-lah bidan dari bank syariah di Indonesia yang saat ini menjelma di banyak nama. Di tingkat akar rumput, model ekonomi syariah dikembangkan ICMI dalam bentuk Baitul Mal wat-Tamwil (BMT). Secara masif, BMT kemudian tumbuh berkembang bak jamur di musim hujan. Pertumbuhan BMT menunjukkan betapa sesungguhnya antusiasme masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim untuk terlibat dalam sistem ekonomi syariah sangatlah besar. Saat ini, hampir di seluruh desa maupun pondok pesantren, istilah BMT adalah nama yang tak lagi asing. Pada kelompok yang lebih riil lagi, ICMI membentuk Asosiasi Muslimah Pengusaha se-Indonesia (Alisa) Khadijah. Badan Otonom ICMI inilah yang secara kontinu memberikan bantuan pembinaan dan pemodalan untuk kelompok-kelompok usaha ekonomi yang dikelola muslimah. Sekali lagi, satu hal lagi yang tak bisa diingkari adalah bahwa ICMI-lah bidan dari BMT yang kini menjadi kekuatan ekonomi baru yang tak bisa dipandang sebelah mata. Satu program lain yang gaungnya luar biasa besar adalah kehadiran Orbit (Orang Tua Bimbingan Terpadu) dengan program utama pemberdayaan orang tua terpadu, guru terpadu, dan siswa terpadu. Badan otonom ICMI yang satu ini bertugas mencari sebanyak-banyaknya orang tua bimbing untuk memberikan beasiswa kepada anak bimbing (muslim cerdas namun kurang beruntung dalam hal ekonomi). Bukan hanya memberikan beasiswa, melainkan juga membangun model keterpaduan pembinaan antara siswa penerima beasiswa dengan guru dan orang tua. Sampai 2015, sebanyak 28.614 alumnus orbit yang mampu diberdayakan dengan menyalurkan beasiswa sebesar lebih dari Rp25 miliar (http://www.orbitainunhabibie.or.id/). Yang ingin saya tuliskan di sini adalah bahwa apa pun dan bagaimanapun, ICMI dalam sejarahnya pernah memberikan warna dalam perjalanan kebangsaan dan keummatan di Indonesia hampir tanpa resistensi yang berarti, baik oleh pemerintah maupun umat. Berbeda dengan organisasi kemasyarakatan lainnya yang kadang masih muncul penolakan baik dari pemerintah; ataupun ormas lain yang justru ditentang oleh ummat yang tidak diwadahinya. Pun demikian dengan programnya, meski ICMI saat ini sedang berada jauh dari garis edar toh Bank Muamalat (dan syariah), BMT, Orbit, dan program lainnya tetap bisa berjalan. Ini artinya, bahwa anak yang dilahirkan ICMI bisa diterima oleh umat yang tak terlalu pusing dengan siapa yang membidani-nya. Oleh karena itu, pengukuhan ICMI Orwil Lampung periode 2017—2022 harus dimaknai sebagai sebuah momentum untuk kembali pasang setelah sekian lama surut. Pasangnya ICMI juga harus sejajar dengan pasangnya kesadaran yang sangat besar dari ummat Islam di Indonesia terhadap keinginan untuk memperjuangkan agamanya. Mau diapakan Bank Syariah, BMT, Orbit, Alisa Khadijah, dan program lainnya? Biarkan itu tetap berlari. Program ICMI yang itu, sekarang sudah menjadi program umat. Saatnya ICMI (khususnya Lampung) mencari format program baru yang monumental sebagaimana program-program exemplary di atas. Dalam konteks kelembagaan, ICMI Lampung di bawah kepengurusan yang diisi oleh tokoh multilatar belakang yang tak dinafikan kapasitas keilmuan, kapasitas kecendekiawanan, dan kapasitas jaringannya akan mampu mengembangkan organisasi hingga satuan dengan baik dan merancang program sesuai dengan kebutuhan umat terkini. Akan sangat disayangkan jika ketokohan para pengurus justru semakin menjauhkan mereka dari bumi. Cendekiawan tidak perlu seorang sarjana, bahkan sarjana sendiri belum tentu merupakan seorang cendekiawan. Kriteria cendekiawan yang umumnya disepakati salah satunya adalah memiliki sikap dan visi intelektual yang mengatasi batas-batas disiplin, yang memiliki komitmen kuat pada kemanusiaan, harkat, nilai-nilai, aspirasi, dan hati nurani yang memiliki sikap kritis dan mandiri. ICMI Orwil Lampung harus benar-benar memperhatikan konsep ini dalam menunjuk pengurus pada tingkat daerah maupun satuan. ICMI dalam menjalankan kiprahnya saya yakin tak akan sendiri, karena pada hakikatnya orbit layanan dari ICMI adalah masyarakat muslim yang juga menjadi orbit layanan dari lembaga dan organisasi keagamaan dan ormas lain (termasuk pemerintah). Dalam konteks ini, kolaborasi menjadi kata kunci. Saya percaya ICMI Lampung mau dan mampu membumi; membumi dalam lembaga dan membumi dalam menjalankan kiprahnya. Semoga!. Ditulis oleh : Maulana Mukhlis, Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung.

Artikel Terkait

Anies Baswedan yang saya kenal

Chamid Riyadi 4 April 2017

Mellenium Otak dan Peradaban Indonesia

Chamid Riyadi 4 April 2017

Imam Shamsi Ali: The American Way

Chamid Riyadi 27 March 2017

KOMENTAR

LEAVE A RESPONSE

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved