ngaji-algibran.png

Waspada Penyebaran Hoax

Syahrul Hidayanto 10 January 2017 comments Catatan ICMI
Jakarta, (ICMI Media) - Kemudahan masyarakat untuk mengakses informasi ternyata menghasilkan masalah rumit yang tidak diprediksi sebelumnya. Problem tersebut adalah menyebarnya informasi hoax di sekitar kita. Merujuk pada Merriam-Webster, hoax didefinisikan sebagai an act intended to trick or dupe (tindakan yang dilakukan dengan maksud mengelabui dan menipu). Dalam bahasa sederhana, hoax adalah informasi palsu.

Dan ternyata, ini tidak hanya terjadi di dunia maya. Dalam dunia nyata pun penciptaan hoax terus-menerus terjadi. Bisa dijadikan contoh adalah terbitnya buku Jokowi Undercover: Melacak Jejak Sang Pemalsu Jati Diri. Buku yang ditulis BTM dan mengandung beberapa informasi palsu. Pembuat buku ini akhirnya diamankan oleh polisi karena telah melakukan fitnah. Peristiwa ini membuktikan bahwa siapa pun bisa membuat hoax.

Bangkitkan Penasaran

Hoax ‘sangat menarik’ untuk dibaca sekaligus disebarkan oleh masyarakat. Mengapa? Karena biasanya mengandung informasi yang (seakan) baru dan tidak terduga. Sehingga mampu membangkitkan rasa penasaran pembacanya. Selain itu, bersifat counter intuitive sehingga sangat mengesankan pembacanya. Padahal kalau dicermati, informasi hoax dibangun tidak berdasarkan data dan sumber yang valid. Sehingga lebih mirip tulisan fiksi yang bersifat khayalan. Argumentasi pada informasi hoax juga kerap dipaksakan dan dicocok-cocokan. Sehingga menjadi tidak logis. Meskipun begitu, masih banyak juga kalangan yang percaya dan terjebak dalam informasi hoax.

Mereka yang akhirnya merasa yakin, akan mendistribusikannya kepada pihak lain. Penyebar seakan-akan merasa perlu dan berkewajiban memberitahukan kepada orang disekitarnya karena dianggap informasi tersebut penting dan relevan. Apalagi jika hoax ini berhubungan dengan kepentingan masyarakat. Akhirnya rantai distribusi pun terus berjalan tanpa henti dan melindas siapa saja yang tidak kritis. Kecepatan penyebaran pun kini sudah sangat memrihatinkan. Terlebih saat perangkat teknologi informasi tidak pernah lepas dari gengaman tangan dan pandangan mata kita. Silakan dicermati, pasti dalam sehari kita pernah menerima beberapa hoax sekaligus dengan beragam isu.

Diantara beragam isu bohong, yang patut diwaspadai dan dicermati adalah yang berisi kebencian, permusuhan, dan fitnah yang ditujukan kepada pihak lain. Hal ini yang akhirnya membuat Presiden Jokowi angkat bicara dan memperingatkan masyarakat bahaya negatif perkembangan teknologi. Menurut Jokowi, saat ini muncul ujaran kebencian, pernyataan kasar, dan pernyataan provokatif. Bahasa yang digunakan pun sangat kasar seperti bunuh, bantai, dan gantung. Oleh karena itu, Presiden RI meminta aparat keamanan bertindak tegas dan keras terhadap fenomena ini. Keresahan yang dialami Presiden Jokowi seharusnya mampu menyadarkan kita agar lebih bijak dalam membuat dan mencerna informasi di media sosial.

Sikap Kritis

Tetapi perlu digarisbawahi, peringatan presiden dan tindakan tegas kepolisian terhadap penyebar informasi tersebut jangan disalahartikan sebagai upaya untuk membungkan kekritisan di masyarakat. Sebab sikap kritis wajib dijaga sebagai bentuk partisipasi publik terhadap kebijakan pemerintah. Artinya terus saja menyampaikan kritik, saran, dan masukan terhadap pemerintah. Tetapi harus berdasarkan data yang valid dan disampaikan dengan cara yang baik. Dan tidak boleh juga memprovokasi masyarakat untuk bertindak anarkis. Misalnya jika ada yang merasa kebijakan Presiden Jokowi sangat memberatkan dan tidak berpihak kepada wong cilik, silakan dikritisi dan disebarkan di media sosial. Misal ada masyarakat yang khawatir terhadap serbuan Tenaga Kerja Asing (TKA) dari Tiongkok, sah saja mengritiknya. Asalkan tidak sampai memfitnah dan menyebar kebencian terhadap semua orang Tiongkok di Indonesia.

Sebagai penutup, kita harus mensyukuri nikmatnya banjir informasi di era digital ini. Meskipun begitu, kita harus selalu waspada dan teliti dalam mengonsumsi informasi yang datang. Usahakan selalu melakukan klarifikasi jika ada informasi bombastis dan tidak biasa. Dan tentunya, jangan mudah untuk membagikan informasi yang tidak jelas asal-usulnya sekaligus belum terbukti kebenarannya. Mari kita cerdas dan bijak saat berinteraksi di media sosial. Sehingga media sosial benar-benar menjadi ajang untuk mencari kawan, bukan menambah lawan dan musuh. Ditulis oleh: Rachmanto MA. Pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Daerah Istimewa Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 10 Januari 2017).*** (T/CH)

Artikel Terkait

Anies Baswedan yang saya kenal

Syahrul Hidayanto 4 April 2017

Mellenium Otak dan Peradaban Indonesia

Syahrul Hidayanto 4 April 2017

Imam Shamsi Ali: The American Way

Syahrul Hidayanto 27 March 2017

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved