ngaji-algibran.png

Kebangkitan Indonesia Baru

Syahrul Hidayanto 14 December 2016 comments Catatan ICMI
Jakarta. (ICMI Media) - Siapapun diantara Kita tidak ada yang bisa menyangkal bahwa bangsa dan negara Kita Indonesia bisa terbentuk seperti sekarang, karena rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Indonesia Kita ini tidak mungkin bisa berdiri tegak, hanya karena ightiar dan upaya Kita belaka. Bagaimana mungkin jika hanya mengandalkan kemampuan Kita sebagai manusia biasa, sampai bisa dirajut kesatuan dan persatuan Indonesia yang terdiri dari 17.000 pulau, lebih dari 500 suku bangsa, dengan 741 bahasa dan budaya, serta menganut lebih dari 6 agama dan keyakinan.

Kisah hidup Saya pribadi merupakan salah satu realitas dan kekayaan heterogenitas dan pluralisme di Indonesia. Saya berasal dari keturunan Batak, baik dari pihak Ayah maupun pihak Ibu Saya. Jika ditelusuri keturunan Kakek Saya dari pihak Ayah, memiliki hidung dan raut muka yang lebih dominan Arab atau Pakistan atau India, jelas bahwa Kakek Saya adalah keturunan campuran. Jika ditelusuri keturunan Kakek Saya dari pihak Ibu, raut mukanya juga merupakan keturunan campuran dengan bangsa dari Barat. Sementara dari pihak Istri Saya, hasil penelusuran menunjukkan bahwa Kakek Ayahnya merupakan keturunan campuran Bugis-Makassar dengan Banjar-Dayak di Kalimantan Selatan. Sementara Kakek Istri Saya dari pihak Ibu, keturunan campuran suku Jawa dengan suku Tionghoa. Pada sisi yang lain Nenek Istri Saya dari pihak Ibu, campuran suku Sunda dengan bangsa Jerman. Bisa Kita bayangkan, seperti apa genetika ketiga anak-anak Saya. Mereka tidak mungkin lagi mengaku hanya berasal dari suku ataupun etnis tertentu saja. Mereka adalah anak-anak Indonesia sejati. Mereka terlahir dari keberagaman etnis dan suku yang ada di Indonesia. 

Jika ditinjau dari segi agama dan kepercayaan, keluarga besar Saya dan Istri juga sangat pluralis, terdiri dari berbagai pemeluk agama yang berbeda. Tentunya fenomena ini tidak hanya terjadi pada Saya, pasti ada sangat banyak diantara Kita bangsa Indonesia, dalam silsilah keturunan keluarga besarnya yang bermacam ragam, terdiri dari berbagai etnis, suku dan agama yang berbeda-beda. Akan tetapi semuanya tetap terhimpun dalam sebuah keluarga besar yang rukun dan damai, bersatu dalam tali kekeluargaan yang sangat erat. Kita juga tidak mungkin bisa melupakan sejarah, bahwa dahulu nenek moyang Kita sama sekali belum mengenal agama Samawi. Agama Samawi yang Kita anut saat ini adalah agama yang percaya pada Ke-Tauhid-an, percaya akan adanya kekuatan tunggal yang abadi, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah menciptakan dan mengatur seluruh alam semesta ini. Sejarah mencatat bahwa agama Samawi masuk ke wilayah Nusantara, dibawa oleh berbagai bangsa lain ke Indonesia. Kita seluruh bangsa Indonesia asalnya adalah satu nenek moyang yang sama, kemudian bercampur dengan bangsa-bangsa pendatang. Karena realitas akar sejarah ini, menjadi kewajiban Kita bersama untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan di seluruh wilayah NKRI. Sungguh beruntung Kita seluruh bangsa Indonesia, ditinggalkan warisan oleh nenek moyang dan para 'Founding Fathers' Kita, keberagaman aneka suku bangsa, yang diikat dalam ideologi Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Tentu saja akan jadi aneh dan tidak masuk akal, jika ada diantara Kita yang masih berpikir dan bertindak primordialisme dalam fanatisme yang sempit.

Perkembangan peradaban bangsa Indonesia sekarang ini mulai memasuki era kebangkitan dan kesadaran akan ketertinggalan Kita. Kebangkitan bangsa Indonesia ini dimotori oleh umat Islam di Indonesia sebagai kaum mayoritas yang sudah haus dan dahaga akan keadilan di seluruh aspek kehidupan berbangsa dan berbegara, terutama di bidang sosial dan ekonomi. Energi yang sedang bergulir dalam berbagai gerakan umat Islam ini, sesungguhnya merupakan manifestasi letupan energi dari momentum perubahan bangsa. Pergerakan kebangsaan yang akan terus menggelinding menjadi 'snowballing effect' ini, merupakan harmonisasi antara seluruh rakyat dengan kaum elite di Indonesia. Jika kaum elite sudah ikut ambil bagian, maka sudah pasti perubahan akan menjadi suatu keniscayaan. Hasil penelitian terhadap seluruh negara maju di dunia, menunjukkan bahwa perubahan dan kemajuan semua bangsa, sepenuhnya digerakkan oleh kaum elitenya. Kaum elite bangsa Indonesia yang menjadi motor perubahan adalah kaum mayoritas, yaitu umat Islam Indonesia yang terpelajar dan secara ekonomi telah teruji mampu bertahan dalam keras dan kejamnya kehidupan di negeri tercinta ini.

"Konsolidasi dan Integrasi NKRI"

Umat Islam Indonesia perlu mengkonsolidasikan seluruh potensi dan kekuatannya di seluruh negeri. Harus diapresiasi bahwa kebangkitan kesadaran umat Islam di Indonesia saat ini, dilakukan dengan kesadaran akan realitas bahwa bangsa dan negara Kita tercinta memang dibangun dari keberagaman (heterogenitas), bukan kesamaan (homogenitas). Kebangkitan umat Islam Indonesia sekarang, dapat dibuktikan dan dirasakan sangat menghargai dan menghormati pluralitas dan kebhinnekaan. Umat Islam Indonesia telah menemukan jati dirinya, bahwa Kita adalah bangsa Indonesia yang tentu saja memiliki ciri dan karakter yang berbeda dengan umat Islam lainnya di seluruh dunia. Ciri dan karakter umat Islam Indonesia yang sesungguhnya adalah tertib, disiplin, cinta damai, dengan semangat 'rahmatan 'lil alamin'. Persis mengikuti jalan sunyi yang telah ditempuh dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, junjungan Kita seluruh umat Islam di Indonesia. Nabi Muhammad SAW telah memberikan keteladanan tentang arti pluralisme dalam aqidah dan iman Islam, melalui kesepakatan mulia untuk melindungi berbagai suku dan agama yang ada saat itu di kota kesayangan Nabi Muhammad SAW, melalui Piagam Madinah. Ketentuan yang menjadi dasar perlindungan keberagaman dan pluralisme bagi Kita umat Islam di Indonesia, tegas dan jelas dinyatakan dalam kitab suci Al-Qur'an, agar Kita selalu berpedoman pada Surat Al-Kafirun, "lakum dinnukum walliyadin (untukmu agamamu, untukku agamaku)".

Metamorfosa kebangkitan dan kesadaran umat Islam Indonesia, titik kulminasinya dimulai dari gerakan kebangsaan dalam Aksi Super Damai 212, pada tanggal bersejarah 2 Desember 2016. Saya beruntung diberikan Allah SWT kesempatan bisa bersama-sama Saudara-Saudara Kita umat Islam Indonesia. Berada di tengah-tengah mereka dalam berbagai Aksi Bela Islam, hingga Sholat Subuh Berjamaah di Mesjid Pusdai Bandung pada tanggal 12 Desember 2016, bertepatan dengan hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Semangat Gerakan Subuh Berjamaah akan terus digulirkan ke seluruh penjuru negeri dan tercatat sebagai sejarah baru sholat Subuh berjamaah terbesar di Indonesia, bahkan mungkin di dunia.

Sejak jam 3 dinihari, diiringi gerimis yang semakin menambah dinginnya udara kota Bandung, umat Islam dari seluruh penjuru berbondong-bondong datang dengan penuh semangat untuk melaksanakan sholat Subuh berjamaah dengan saudara-saudaranya sesama umat Muslim di Indonesia. Perasaan haru bergelora di hati, melihat begitu tertib dan sabarnya mereka, membentuk antrian, melangkah perlahan, mencari ruang dan celah yang masih ada untuk bisa melaksanakan sholat Subuh berjamaah. Perasaan haru menjadi semakin dalam, ketika mendengar kalimat-kalimat sejuk dari para Ulama seusai sholat, yang mengingatkan bahwa umat Islam di Indonesia sangat cinta damai. Tidak ada niat sedikitpun untuk memusuhi sesama saudara sebangsa dan setanah air, yang berasal dari etnis ataupun agama yang berbeda. Umat Islam di Indonesia memohon kepada para Pemimpin di seluruh negeri, agar jangan pernah sekalipun mengomentari apalagi sampai menistakan iman, aqidah, ajaran agama lain. Kita semuanya ingin NKRI selalu tertib, aman dan damai. Tidak boleh ada siapapun juga diantara Kita yang mengomentari apalagi menistakan iman, ajaran dan kitab suci agama apapun. 

Melalui berbagai peristiwa bersejarah ini, umat Islam di Indonesia akhirnya menemukan kembali jati dirinya. Bahwa Ia harus menjadi pelaku sejarah, bukan menjadi boneka sejarah. Tidak ada kaum yang bisa menyelamatkan dirinya dari keterpurukan, kecuali jika kaum itu sendiri yang menyelamatkan dirinya. Tidak ada bangsa yang bisa maju, jika bukan karena bangsa itu sendiri yang membangun, memajukan dan mensejahterakan bangsa dan negaranya. Kebangkitan umat Islam di Indonesia saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi. Paska fase konsolidasi, selanjutnya adalah fase integrasi. Umat Islam di Indonesia harus merangkul seluruh saudara-saudaranya sesama anak bangsa Indonesia yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, suku dan agama lain. Untuk bergerak bersama dalam frekuensi yang sama, membangun dan menyelamatkan masa depan NKRI. Fase integrasi ini akan menandai dimulainya era kebangkitan Indonesia baru. Era dimana ketidakadilan dan kedzaliman harus diberantas dari seluruh wilayah NKRI. Mulai sekarang, semua Pemimpin di seluruh wilayah NKRI, harus segera bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus dan benar. Karena era kebangkitan bangsa Indonesia sudah tiba. Semuanya harus berbondong-bondong berbuat kebaikan, jika tidak mau digilas oleh zaman. Siapa saja, apakah Ia seorang Pemimpin yang beragama Islam, Kristen, Hindu, Buddha atau agama apapun. Ingatlah bahwa mayoritas rakyat Indonesia sudah letih dan lelah menunggu datangnya keadilan dan kesejahteraan yang selama ini selalu dimimpikan. Momentum perubahan sudah tiba. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, Kita semua harus berubah. Jangan pernah berani melawan, karena zaman kebangkitan Indonesia baru telah tiba. Siapapun yang berani melawan, maka bersiaplah Ia akan digilas oleh zaman. 

Di tulis oleh : Oleh : Johan O Silalahi, Anggota dewan pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI)  dan Pendiri Perhimpunan Negarawan Indonesia.

Artikel Terkait

Anies Baswedan yang saya kenal

Syahrul Hidayanto 4 April 2017

Mellenium Otak dan Peradaban Indonesia

Syahrul Hidayanto 4 April 2017

Imam Shamsi Ali: The American Way

Syahrul Hidayanto 27 March 2017

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved