iklan-baner-euro.gif

BJ Habibie Layak Contoh

Chamid Riyadi 22 December 2016 comments Catatan ICMI

Jakarta, (ICMI Media) - Sebagai Presiden, BJ Habibie bisa jadi rujukan.
Soal krismon 1998 dia paham betapa negeri ini dilabrak kemelut. 
Dia tahu, gantikan Soeharto bak buah simalakama.

Segera saja pihak tertentu lecehkan, hujat, dan bully dirinya.
Media besar tak kalah gencar memprovokasi.
Dalam satu headline, judulnya membuat geleng2 kepala.
Judul headline tertulis: “High Tech ditukar dengan Lo Tek”

Kita pasti tahu lotek. 
Satu jenis makanan Sunda.
Satu sindiran “memilukan dan memalukan”.

Di saat krismon, bukan tanpa alasan “pesawat Nurtanio ditukar dengan beras Thailand”. 
Bukan tanpa alasan pula, BJ Habibie gagas Nurtanio & PT PAL.
Katanya nenek moyangku orang pelaut. 
Katanya pula, negeri ini negara kepulauan.

Cuma BJ Habibie bukan orang kita, kata pihak yang lain.
Memilukan. Karena “karya anak negeri dilecehkan”. 
Sementara iklan rokok yang turunkan satu lagu, berani berkata: “Mahakarya”.

Memalukan. Karena yang menggoyang, di antaranya media berpengaruh.
Entah ada apa di benak jajaran redaksinya. 
Redaksi yang cerdas, tapi koq kikuk bedakan: "Mana kepentingan bangsa dan mana kepentingan kelompok".

Sebagian akademisi dan ahli ekonomi terprovokasi. 
Atau malah jadi penyulut pula. 
Tak sungkan mereka bilang: “Baca laporan keuangan saja, Habibie tak becus”.

BJ Habibie pun dibenturkan dan dihadap-hadapkan.
“Teknolog vs Tehnokrat”.
“Habibienomics vs Wijojonomics”.
 

Dalam wawancara, wartawan bertanya:
“Pak Habibie, apa anda tak terganggu dengan berita tentang anda?”
"Tugas saya mengurus negara. Bukan sibuk baca koran”.

Tak lama horor menakutkan reda.
Apa itu? Pembakaran dan penjarahan. 
Sebagian kampung dan cluster, kerahkan warga berjaga-jaga.

Pihak asing yang tadinya wait & see, terperangah.
Pemain uang raksasa akhirnya tak berdaya pula. 
Rupiah dari Rp 16 ribuan, turun ke angka Rp 6 ribu. 
Rasanya pun tak ada bongkar pasang kabinet.

Saat itu saya tengah di Sulawesi.
Di dalam truk umum, saya bertanya pada supir tentang pungli. 
Jawabnya mengejutkan: “Sejak Pak Habibie naik, pungli udah gak ada pak”.
Saya yang terkejut. Wallahu’alam.

Cuma Senayan punya episode lain. 
Pertanggungjawaban BJ Habibie ditolak.

Duuuh.
Bangsa ini butuh orang-orang terbaik.
Namun sebagian kita, mungkin lebih kedepankan rekan seiring.
Meski tak ahli dan tak bijaksana.

Ditulis Oleh Erie Sudewo, Pendiri Dompet Duafa
 

Artikel Terkait

Anies Baswedan yang saya kenal

Chamid Riyadi 4 April 2017

Mellenium Otak dan Peradaban Indonesia

Chamid Riyadi 4 April 2017

Imam Shamsi Ali: The American Way

Chamid Riyadi 27 March 2017

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved