ngaji-algibran.png

Aspek Politik Perdebatan Metode Hisab dan Rukyah

Redaksi 6 June 2016 comments Artikel

(ICMI Media) - Setiap kali menjelang Ramadhan dan Idhul Fitri atau Idhul Adha perdebatan kapan dimulainya Ramadhan atau kapan jatuhnya Hari Raya muncul ke permukaan. Ada dua kelompok besar yang muncul, yakni kelompok pendukung metode Hisab dan kelompok pendukung metode Rukyah. Kelompok Hisab mendasarkan penetapan Ramadhan dan Hari Raya berdasarkan perhitungan posisi bulan, sementara kelompok Rukyah menetapkan Ramadhan dan Hari Raya berdasarkan pandangan mata atas posisi bulan. Kelompok Hisab biasanya telah menentukan atau menetapkan Ramadhan atau Hari Raya jauh hari sebelum hari-Hnya tiba, sementara kelompok Rukyah baru bisa menetapkan pada hari itu juga atau H-1. 

Sementara ini, masyarakat beranggapan persoalan ini murni masalah agama (Fiqih) disebabkan perbedaan Mazhab atau perbedaan Fiqih (hukum agama) dalam memandang suatu kasus. Apalagi para tokoh agama yang melakukan perdebatan juga hanya menggunakan dalil-dalil agama yang diambil dari Al Qur’an, Hadits, atau pandangan ulama-ulama terdahulu. Kalaupun ada penjelasan ilmiah terkait dengan perkembangan sain dan teknologi antariksa dan Ilmu astronomi, serta peralatan moderen yang dapat digunakan untuk mengamati posisi bulan terhadap bumi tidaklah memadai. Sudah saatnya untuk memberikan ruang yang lebih besar partisipasi ahli sain dan teknologi, disamping ketulusan serta kejujuran tokoh-tokoh agama. Jika hal ini dilakukan, maka titik temu dari dua kelompok ini tentu bukan sesuatu yang sulit. 

Masalah Hisab dan Rukyah

Secara sederhana Hisab dimaknai sebagai perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi Bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah. Sementara Rukyah dimaknai sebagai aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit (hilal)  pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan menjelang dan saat Matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah Matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya.

Merujuk pada pengertian di atas, maka Pemerintah perlu melakukan Sidang Isbat pada H-1 dari perkiraan awal Ramadhan, atau H-1 hari Raya, baik Idhul Fitri maupun Idhul Adha. Masukan dari berbagai Wakil Ormas Islam yang menggunakan berbagai metode Hisab perlu di dengar, begitu juga laporan dari berbagai petugas di lapangan yang memantau hilal (posisi bulan) saat matahari terbenam dari sejumlah titik, perlu dipertimbangkan sebagai bentuk akomodasi dari mereka yang menggunakan pendekatan Rukyah.

Cara ini sebenarnya lahir sebelum adanya teknologi satelit yang dapat memantau peredaran bulan terhadap bumi selama 24 jam, tanpa dihalangi kemungkinan adanya awan atau cuaca buruk yang menyebabkan terhalangnya kemampuan kita untuk melihat posisi bulan.

Munculnya teknologi satelit berimplikasi terhadap Ilmu antariksa dan astronomi moderen. Kemampuan manusia untuk melihat posisi bulan terhadap bumi semakin akurat dan memberikan kepastian yang lebih dibanding sebelumnya. Terbukti dengan kemampuan manusia memperkirakan dengan akurat terjadinya gerhana matahari, baik dari lokasi mana matahari akan tampak gerhana sempurna maupun waktunya ternyata sedikitpun tidak meleset.

Jika merujuk pada teknologi satelit, maka metode Rukyah maupun Hisab konvensional kehilangan relevansinya. Hisab dan Rukyah kini menjadi satu kesatuan. Rukyah bisa dilakukan kapan saja, dan tidak harus pada H-1 dari awal bulan. Dengan demikian penetapan waktu Ramadhan, Idhul Fitri, maupun Idhul Adha akan lebih akurat dan dapat diketahui jauh hari, sehingga Ummat Islam dapat mempersiapkan diri lebih baik menyongsong hari-hari istimewa itu.

Perspektif Fiqih Menentukan Ramadhan dan Idhul Fitri Seringkali kita mendengar kalimat bahwa kita harus mengikuti Sunnah Nabi dalam menentukan Ramadhan dan Idhul Fitri atau Idhul Adha. Cara menentukan awal Ramadhan, dan  Idhul Fitri atau Idhul Adha diyakini bagian dari ibadah itu sendiri, sehingga status ya menjadi sakral. Yang dimaksud dengan Sunnah Nabi tidak lain dari melihat bulan dari posisi tertentu yang mudah terlihat, pada waktu menjelang Magrib dengan mata telanjang. Pertanyaannya, bagi mereka yang matanya minus, bolehkah menggunakan kacamata yang dalam bahasa fiqih masuk kategori bid’ah ? Kini mayoritas ahli Rukyah bukan saja bisa menerima pemakaian kacamata, bahkan sudah menggunakan teleskop sebagai produk teknologi moderen yang di zaman Nabi dan para sahabat tidak pernah digunakan. Kalau kita konsisten, maka teknologi satelit yang lebih moderen, lebih canggih, dan memiliki akurasi lebih tinggi tentu tidak menjadi halangan untuk menggunakannya. 

Analogi lain, dulu Nabi dan para sahabat setiap kali akan melakukan shalat selalu melihat posisi matahari. Shalat subuh dilakukan saat Fajar menyingsing, shalat dzuhur dilakukan ketika matahari berada tepat di atas kepala atau tegak-lurus, dan seterusnya. Setelah ditemukannya jam, maka kita menyepakati waktu shalat merujuk pada jam, dan tidak lagi melihat posisi matahari. Mestinya, demikian juga ketika kita hendak menentukan awal bulan hijriyah. 

Masalah lain yang juga menjadi wilayah perdebatan adalah Wujudul Hilal dan Imkanur Rukyah. Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima' qablal ghurub), dan Bulan terbenam setelah Matahari terbenam,  maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam. Imkanur Rukyat sejatinya sama dengan Wujudul Hilal, hanya saja dengan syarat : Pada saat Matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau pada saat Bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.

Masalah wujudul hilal dan imkanur rukyah termasuk wilayah ijtihad atau Fiqih hasil ijtihad para ulama terdahulu. Dengan perkembangan sain dan teknologi mutakhir, hal ini memerlukan kajian ilmiah disamping pendekatan fiqiah. Walaupun pendekatan Fiqih ini sudah digunakan

selama puluhan atau ratusan tahun sebagai definisi “bulan(hilal) terlihat” dari bumi, toh para ulama sudah sepakat bahwa pintu ijtihad tidak pernah tertutup. Menghadapi masalah ini, sejatinya yang diperlukan adalah ketulusan dan kerendahan hati para ulama, serta kebesaran jiwanya untuk melakukan musyawarah mufakat. Egoisme keilmuwan, dan kebanggaan kelompok jangan sampai  menjadi beban yang menghalangi dalam rangka menemukan cara terbaik dalam ibadah yang semata-mata dimaksudkan untuk mendapat ridha yang maha kuasa.   

Penutup Masalah sebenarnya bukanlah persoalan apakah bulan nampak atau tidak, ada awan atau tidak, karna dengan teknologi satelit posisi bulan bisa dilihat dari luar angkasa yang tidak terhalang oleh awan atau gelapnya langit. Masalah sebenarnya adalah pada posisi berapa derajat bulan dinyatakan nampak dan dilihat dari titik mana. Disinilah titik musyawarah diantara para tokoh agama harus difokuskan. Sementara ini yang terjadi sejatinya adalah persoalan egoisme para tokoh agama yang diberikan mandat untuk memutuskan. Keunggulan kelompok, keunggulan faham keagamaan yang diyakini, secara tidak sadar selama ini telah menjadi beban para tokoh yang menjadi penghalang dalam musyawarah untuk mendapatkan kesepakatan Seolah-olah kesediaan berkompromi, akan dinilai faham keagamaan yang diyakini selama ini salah atau faham keagamaannya kalah dengan faham keagamaan kelompok lain. Sebuah aspek politik yang mestinya harus dipisahkan dari upaya mencari kebenaran yang murni, dan jalan yang terbaik bagi Ummat Islam dalam melaksanakan ibadahnya yang sangat sakral. 


Oleh: Muhammad Najib (Mahasiswa S3 Ilmu Politik UNAS)

Editor: Imam Santoso

Artikel Terkait

Islam Memerangi Rasisme

Syahrul Hidayanto 22 August 2017

​Laju Dunia Global dan Islam

Syahrul Hidayanto 11 August 2017

Rahasia Kecerdasan BJ Habibie

Syahrul Hidayanto 23 March 2017

​MUI, GNPF MUI dan Umat Islam

Syahrul Hidayanto 14 December 2016

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved