ngaji-algibran.png

Revitalisasi Fungsi Masjid bagi Kemaslahatan Umat*

12 May 2016 comments Artikel

Oleh: Ahmad Ali MD**

 

.... لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُوْمَ فِيْهِ ....(اَلتَّوْبَة : 18)
 ….Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan shalat di dalamnya...”
(QS. al-Tawbah [9]: 108)
 

Fâtihah
Mengapa kita bicara masjid? Ini karena sungguh telah maklum bagi kita umat Islam, bahwa masjid mempunyai kedudukan, fungsi dan peran yang istimewa dalam berbagai aspek kehidupan. Ada ketentuan khusus yang harus dipatuhi yang berkaitan dengan masjid, seperti wajib menjaga kesucian masjid, haram berada di dalam masjid bagi orang yang berhadas besar, tanpa udzur syar’i, seperti musafir yang tidak mendapatkan air padahal ia sedang junub (hadas besar), disunahkan shalat tahiyyat masjid ketika masuk ke dalamnya, wajib berpakaian yang menutupi aurat dan sunah berpakaian yang baik (tazayyun) ketika masuk ke dalamnya, dan lain sebagainya.
Betapa pentingnya kedudukan masjid ini, sehingga kata masjid dan variannya begitu banyak disebut dalam al-Quran al-Karîm. Dalam al-Qur’an, kata masjid disebut sebanyak 82 kali, dan dalam bentuk fi‘il (kata kerja) yasjud dan isim mashdar (kata benda) sujûd, sebanyak 71 kali, serta dalam arti bayt (rumah) sebanyak 16 kali.[1]

Sungguhpun demikian, dalam realitanya saat ini keberadaan masjid di tanah air kita, Indonesia ini, menurut penulis, masih lebih sebagai sebuah simbol tempat aktivitas ibadah mahdhah (ibadah khusus, seperti shalat). Padahal fungsi dan peran masjid bukanlah sekadar itu! Keterbelakangan umat Islam dalam berbagai sendi dan bidang kehidupan bisa dilihat dari optimal atau tidaknya fungsi dan peran masjid. Malahan ironisnya, masjid justeru bisa menjadi sarana provokasi kemandekan berpikir kreatif, menyebarkan paham radikalisme, anarkisme dan terorisme. Atas dasar itulah, perlu upaya revitalisasi peran masjid dalam konteks kekinian, kedisinian dan kebangsaan.
Jadi sudah maklum bahwa Islam adalah agama yang mulia dan tiada yang lebih mulia darinya. Ini tataran idealnya (das solen). Tetapi tataran realitas (das sein), Islam tercederai citra positifnya oleh kenyataan dan perilaku umat Islam sendiri. Jadi, dari mana kita mulai membenahi kondisi umat Islam? Dan bagaimana caranya? Dengan apa kita membenahinya?
 
Sekilas Makna Masjid
Dalam istilah etimologi (lughawi) kata masjid berarti nama tempat, yang digunakan oleh seorang manusia untuk menempelkan keningnya di atas bumi sebagai ungkapan ketundukan kepada Allah (sujud). Adapun istilah jâmi‘ sebagai bentuk na‘t (sifat) dari masjid kemudian menjadi nama (‘alam) tersendiri menjadi masjid jâmi‘. Masjid jâmi‘ berarti masjid untuk shalat berjamaah atau masjid yang digunakan untuk shalat Jumat. Kemudian istilah kata jâmi‘ ini masyhur digunakan untuk arti masjid yang di dalamnya digunakan untuk kegiatan belajar (halaqât al-dars), seperti al-Jâmi‘ al-Azhar di Kairo Mesir. Kemudian istilah al-jâmi‘ ini digunakan untuk sebutan bagi masjid besar, dan masjid yang digunakan untuk shalat Jumat meskipun kecil, karena manusia berkumpul di dalamnya pada waktu tertentu.   

Sembilan Fungsi Masjid
Dalam sejarahnya, masjid selain sebagai pusat ibadah, berfungsi pula sebagai pusat kegiatan pendidikan, sosial kemasyarakatan dan politik, seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Singkatnya, masjid adalah pusat peradaban Islam.

Jadi, masjid mempunyai fungsi yang sungguh besar sekali. Fungsi masjid ini dipahami dari makna luas kata takwa sebagaimana tersebut dalam kutipan ayat di atas (QS. al-Taubah [9]: 108), yakni setiap perbuatan yang ditujukan untuk Allah Taala adalah ibadah dalam arti luas, baik ibadah personal maupun ibadah sosial. Maka masjid yang didasarkan pada kegiatan takwa/ibadah secara luas berarti masjid yang banyak fungsi dan peran signifikannya. Sebab disinyalir dalam sebuah hadis: ”lâ taqûmu al-sâ‘atu hattâ yatabâhâ al-nâsu fî al-masâjid”, yakni kiamat tidak akan tiba, kecuali bila telah muncul masjid-masjid megah --yang tidak lagi dijadikan aktivitas ibadah secara luas (HR Ahmad). Ini menyiratkan bahwa kehancuran akan terjadi bila masjid tidak banyak difungsikan dan diperankan, tidak banyak memberikan manfaat bagi kemaslahatan umat.

Berdasarkan makna luas dari kata taqwa di atas, dalam kaitannya dengan fungsi dan peran masjid, dapat dikemukakan bahwa setidaknya ada 9 (sembilan) fungsi masjid yang perlu direvitalisasikan kembali, sebagai berikut:

1.   tempat umat Islam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah swt. (taqarrub);

2. tempat kaum muslimin dan muslimat beriktikaf, membersihkan diri, menggembleng spiritualitas dan olah batin, sehingga selalu terpelihara keseimbangan jiwa dan raga serta kebutuhan keperibadian, di tengah-tengah realita bangsa kita yang mengalami krisis moralitas dan integritas sebagai muslim yang bermoral, beradab dan bermartabat;

3. wahana untuk meningkatkan kecerdasan dan ilmu pengetahuan umat;

4. wahana pembinaan dan pengembangan kader-kader pimpinan umat;

5.  tempat kaum muslimin berkonsultasi, mengajukan berbagai kendala dan kesulitan, meminta bantuan, dan pertolongan;

6. tempat membina keutuhan ikatan jamaah dan kegotongroyongan di dalam mewujudkan kesejahteraan bersama;

7.    tempat penghimpun dana, menyimpan dan membagikannya, baik berupa zakat, infaq, sadakah, wakaf, hibah, dan hadiah, --juga wakaf;

8.   tempat melaksanakan pengaturan dan supervisi sosial;

9. simbol kebersamaan, kerukunan dan persatuan umat dan ”demokratisasi”, bukan sekadar simbol tempat ibadah dan kemegahan saja.

Keseluruhan fungsi dan peran masjid tersebut dapat diringkas dalam tiga fungsi, yaitu fungsi keagamaan (al-wazhîfah al-dîniyyah), fungsi pendidikan (al-wazhîfah al-tarbawiyyah), dan fungsi sosial (al-wazhîfah al-ijtimâ‘iyyah).

Secara khusus, masjid sebagai sarana pendidikan hendaknya mampu mengorganisasi umat Islam agar dapat berpartisipasi dalam membina moral umat yang diarahkan pada ”usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dari proses pembelajaran agar mereka aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan siritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 ayat [1]).

Membahas masjid sebagai pusat pendidikan untuk meningkatkan kecerdasan dan iptek umat, perlu mendapatkan perhatian. Menurut Prof. Dr. Husni Rahim (2007), masjid merupakan salah satu dari tiga pilar utama pendidikan, yaitu rumah, sekolah dan masjid. Masing-masing mempunyai karakteristiknya tersendiri. Ada delapan karakteristik masjid maupun sekolah. Karakteristik masjid adalah (1) bersifat demokratis, (2) tidak formal, (3) orientasi pada hasil, (4) lokasinya berada di pusat pemukiman, (5) kegiatan 24 jam, (6) lebih gampang menarik dana masyarakat (umat), (7) bangunannya banyak yang indah dan mewah, dan (8) masjid milik umat. Karakter masjid ini berbeda dengan sekolah yang (1) bersifat birokratis, (2) formal, (3) orientasi proses, (4) kebanyakan dipinggiran atau di luar pemukiman, (5) kegiatan pagi, siang, sore, (6) lebih sulit menarik dana masyarakat, (7) bangunannya banyak yang sederhana dan rusak, dan (8) dianggap milik sekelompok orang, organisasi, yayasan atau pemerintah.
 

Revitalisasi: Keniscayaan

Dengan memperhatian hal di atas, sudah saatnya umat Islam merevitalisasi fungsi dan peran masjid menjadi sarana peningkatan dan pemberdayaan kreatifitas dan perekonomian masyarakat, khususnya umat Islam yang lemah (al-dhu‘afâ’ wa- al-fuqarâ’ wa-al-masâkin). Revitalisasi ini adalah suatu keharusan atau bahkan keniscayaan, dan merupakan jihad akbar. Mengapa? Sebab salah satu jihad yang relevan saat ini adalah jihad sosial (kolektif) untuk membentuk kesalehan sosial, menciptakan keadilan (society’s struggle for justice and welfare), di samping juga jihad spiritual (individual) untuk membentuk kesalehan individual (the individual’s struggle for piety).

Juga tidakkah kita sadari seringnya mencuat ungkapan ”limâdzâ ta’akhkhara al-muslimûna wa-limâdzâ taqaddama al-âkharûn,” mengapa umat Islam terbelakang, sementara mengapa umat lainnya maju?

Peningkatan dan pemberdayaan ekonomi dhuafa’ harus menjadi fokus perhatian dan kerja para pemimpin umat, sebab kebutuhan umat Islam bukanlah spiritual an sich, namun juga pemenuhan kebutuhan jasmani. Dalam konteks inilah Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) dapat berperan dan berkontribusi bagi umat Islam. Betapa telah disinyalir dalam hadis ”kâda al-faqr an-yakûna kufra-n”. Hadis ini dinilai dha’if dari segi sanadnya. Sungguhpun demikian, substansi hadis tersebut benar.

Makna luas dari hadis di atas adalah, dan sering terjadi, bahwa kefakiran, lemahnya ekonomi seseorang menjadikan dia melakukan tindakan kekafiran: perampokan, pencurian, penipuan, dll. Tidakkah ini suatu peringatan Nabi S.a.w. sejak dini, yang tetap relevan menjadi petunjuk bagi kita? Oleh karena itulah, kita diajarkan oleh Nabi S.a.w. untuk berdoa: ”Allâhumma innî a‘ûdzubika min al-kufri wa-al-faqr”. Ya Tuhan, aku berlindung kepadaMu dari kekafiran dan kefakiran (HR. Abû Dâwud dan Ahmad).

Di samping itu, bahwa di antara lima tujuan pokok ajaran Islam dalam arti luas Syarî‘ah (al-kulliyyah al-khamsah/maqâshid al-Syarî‘ah) yang harus dipenuhi adalah melindungi dan mengembangkan harta/perekonomian (hifzh al-mâl) bagi kemaslahatan (kesejahteraan) umat manusia.

Untuk itulah, revitalisasi peran masjid amat penting dan urgen dilakukan, dengan cara-cara sebagai berikut. Pertama, improvisasi model dakwah yang progresif, humanis, dan transformatif. Ini untuk menciptakan suasana yang harmonis, damai antara umat Islam dan dengan umat lainnya. Juga untuk menghadang lajunya radikalisme dan  terorisme di tanah air khususnya, dan di dunia umumnya. Karena improvisasi model dalwah yang progresif, humanis, dan trasformatif itulah bagian dari jihad perdamaian (peaceful jihad), karena jihad dalam makna kekerasan tidak ada dasarnya dalam al-Qur’an (Loray Fatoohi, Jihad in the Qur’an: 2004).

Kedua, meningkatkan fungsi dan peran masjid untuk meningkatkan kualitas pendidikan umat. Dan tentunya yang ketiga, meningkatkan dan mengoptimalkan peran masjid sebagai sarana memberdayakan dan meningkatkan kualitas perekonomian umat. Dalam hal ini, perlu diperhatikan bahwa distribusi harta bukan sekadar charity (bagi-bagi) an sich , tetapi harus mengupayakan terciptanya pemberdayaan ekonomi dhu’afa.

Dalam kerangka inilah sebenarnya keberadaan organisasi-organisasi keislaman, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan  Dewan Masjid Indonesia (DMI), ICMI menjadi lebih signivikan. MUI dapat diperluas jangkauan kerjanya pada menangani berbagai kebutuhan umat Islam, baik dalam bidang spiritual dan bidang sosial. Untuk itulah, menurut penulis peran MUI perlu dikembangkan dan dioptimalkan dalam peningkatan kualitas pendidikan dan peningkatan perekonomian umat, terutama kaum dhu’afa. Di samping memang Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Lembaga Pengelola Zakat (LPZ) maupun Lembaga Amil Zakat (LAZ) mempunyai tanggungjawab dan peran yang besar dalam peningkatan ekonomi umat tersebut.

Untuk itu, ada lima hal yang hendaknya dicapai dari program pemberdayaan di atas (Republika, 2004). Pertama, mengubah mustahiq (si penerima zakat) menjadi muzakki (orang yang berzakat). Untuk mencapainya, perlu ada tools (perangkat/alat) yang mampu memberdayakan mustahiq, yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian serta evaluasi program, sehingga alokasi dana untuk mustahiq, bukan sekadar bagi-bagi, namun mampu menjadi aset produktif. Makin tinggi produktivitas mustahiq makin besar pula tingkat keberhasilan suatu LPZ/LAZ. Keberhasilan para mustahik tentu juga akan meningkatkan jumlah para muzakki, sehingga semakin banyak pula mustahik lain yang tertangani.

Kedua, meningkatkan harkat hidup mustahiq, dengan cara mengangkat dan memulihkan motivasi dan kesadaran mustahiq untuk terus bangkit dari kondisi yang mendera, memberontak pada ketidakadilan dan sistem korup. Karena dengan motivasi hidup menjadi makin bergairah, pikiran makin terbuka, hati menjadi sejuk, dan hari-hari akan penuh dengan kreasi dan karya.

Ketiga, menciptakan lapangan pekerjaan. Adanya pekerjaan yang tetap dan memadai akan sangat bermanfaat bagi keluarga mustahiq.

Keempat, meningkatkan tali persaudaraan sesama ”pengusaha” dan penerima dana zakat, infak dan shadaqah. Sebab makin kuat persaudaraan akan membentangkan pergaulan, yang diharapkan makin banyak pula alternatif yang diraih guna mengubah kondisi menjadi lebih baik.

Kelima, adanya perubahan pola pikir dan pola hidup yang lebih produktif. Hal ini dapat dicapai dengan adanya pelatihan peningkatan motivasi, tausiah konsep hidup produktif secara Islami, perencanaan keuangan keluarga, serta berkunjung ke lokasi-lokasi produktif.

Strategi di atas hendaknya menjadi perhatian MUI, DMI, ICMI, Baznas, LPZ/LAZ dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam peningkatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dalam hal ini diperlukan kerjasama dan sinergitas di antara berbagai ormas dan lembaga tersebut.

Sungguhpun demikian, penting dipetakan di antara masjid-masjid yang ada. Mana di antaranya yang dijadikan pilot project. Hal ini karena keberadaan masjid pada masa klasik berbeda dengan keberadaan masjid pada masa kontemporer saat ini. Pada masa klasik, hampir semua kegiatan ditempatkan di masjid, tetapi pada masa sekarang, sudah ada tempat-tempat khusus yang mempunyai fungsi dan tujuan yang khusus pula.   
 
Khâtimah
 
Dengan merevitalisasi fungsi masjid melalui cara-cara di atas, kita dapat berkontribusi lebih banyak bagi peningkatan kualitas umat, baik dari segi religiusitas/spiritualitas dan tingkat kesejahteraan ekonominya.
 
----------
*Makalah, naskah awalnya ditulis tahun 2004 dan telah diperbaiki, dipresentasikan dalam Kajian Perdana Dwimingguan Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Orda Kota Tangerang, di Rumah Jaga Masjid Raya Al-A’zhom Kota Tangerang Banten, Jumat, 28 Rajab 1437/6 Mei 2016.
 
**Ahmad Ali MD, MA., Ketua ICMI Orda Kota Tangerang, Bidang Pendidikan dan Dakwah / Wakil Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama (PW LBM NU) Banten.


Editor: Fasjud Syukroni

 
 


 
Referensi
 
Alquran al-Karim.
 
Abû Ghadah, Hasan ‘Abd al-Ghanî. ”Waqf al-Masâjid wa-Dauruhu fî Ta‘zîz al-Taqaddum al-Tsaqâfî wa-al-‘Ilmî”.
http://fiqh.islammessage.com/NewsDetails.aspx?id=4691 (diakses 5 Mei 2016).
 
Fatoohi, Loray. Jihad in the Qur’an: The Truth from the Source. Birmingham: Luna Pena Publishing 2004.
 
HU Republika, 2004. 
 
Ibn al-Rusyd, Abû al-Walîd Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad. Bidâyat al-Mujtahid wa-Nihâyat al-Muqtashid. T.Tp.: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, t.t.
 
Rahim, Husni. Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Logos, 2007.
 
al-Sarjânî, Râghib. ”Al-Masjid wa-Dauruhu fî Hayât al-Ummah”.
 http://islamstory.com/ar/المسجد-ودوره-في-حياة-الأمة (diakses 5 Mei 2016).
 
al-Syahâwî, Shalâh ‘Abd al-Sattâr Muhammad. ”al-Masjid fî al-Turâts al-‘Arabî wa-al-Islâmî”.
http://www.darululoom-deoband.com/arabic/magazine/tmp/ 1326782121fix4sub3file.htm (diakses 6 Mei 2016).
 
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

 

al-Zuhailî, Wahbah. Al-Fiqh al-Islâmî wa-Adillatuh. Beirut: Dâr al-Fikr, 2009.
 
 
 

 


[1]Shalâh ‘Abd al-Sattâr Muhammad al-Syahâwî, ”al-Masjid fî al-Turâts al-‘Arabî wa-al-Islâmî”, dalam http://www.darululoom-deoband.com/arabic/magazine/tmp/1326782121fix4sub3file.htm (diakses 6 Mei 2016). Antara lain: masjidin: al-A‘râf: 29, 31; masâjida (2: 114); al-masâjidi (2: 187); al-masjid al-harâm  (2: 149,150, 191, 196, 217, 5: 2); usjudû (2: 34, al-A’râf: 11); fasajadû (2: 34, al-A’râf: 11); sujjadan (2:85, 4: 154, al-A ‘râf: 161); al-sujûdi (2: 125, 144); wa-usjudî (Ali ‘Imrân: 43); yasjudûn (Ali ‘Imrân: 113); sajadû (4: al-Nisâ’: 102); al-sâjidîn (al-A ‘râf: 11); tasjuda (al-A‘râf: 12); sâjidîn (al-A ‘râf: 120); dst. 

Artikel Terkait

Islam Memerangi Rasisme

Syahrul Hidayanto 22 August 2017

​Laju Dunia Global dan Islam

Syahrul Hidayanto 11 August 2017

Rahasia Kecerdasan BJ Habibie

Syahrul Hidayanto 23 March 2017

​MUI, GNPF MUI dan Umat Islam

Syahrul Hidayanto 14 December 2016

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved