ngaji-algibran.png

Mengagamakan Konflik, Mengkonflikkan Agama

Redaksi 15 April 2016 comments Artikel

(ICMI Media) - Ada perdebatan panjang di antara para ahli tentang apa yang secara umum diipersepsikan sebagai "konflik agama" (religious conflicts). Benarkah ada konflik agama? Atau agama sekedar terseret ke dalam konflik dengan motif yang berbeda?
 
Saya menilai keduanya memungkinkan. Ada konflik yang memang terpicu dan berdasarkan sentimen agama. Tidak harus berdasarkan ajaran agama. Tapi sentimen beragamalah yang menjadi dasar konflik tersebut.
 
Sejarah panjang mengajarkan bahwa persentuhan antara sentimen agama dan berbagai kepentingan kerap kali tidak terhindarkan. Bahkan pada komunitas-komunitas maju dan (merasa) terdidik (educated). Bahkan di zaman di mana manusia merasa lebih modern dan beradab (civilized).
 
Kita ambil saja contoh bagaimana resistensi umat lain atau komunitas lain kepada Rasulullah SAW di Madinah. Umumnya bukan karena agama. Tapi lebih kepada "social jealousy" atau kecemburuan sosial.
 
Contoh terdekat barangkali adalah resistensi komunitas Yahudi di Madinah kepada Rasulullah SAW. Mereka sesungguhnya menentang karena apa yang Al-Quran sebutkan: "hasadan min anfusihim" (kedengkian yang ada pada mereka). Kedengkian (hasad) ini sebenarnya lebih dipicu oleh kecemburuan sosial karena minimal dua hal: 1) karena nabi terakhir ini terlahir bukan dari kalangan mereka. 2) karena Muhammad SAW segera mendapat dukungan maksimal dari masyarakat Arab yang sebelumnya sangat menghormati komunitas Yahudi.
 
Pembantaian komunitas Yahudi di Eropa sesungguhnya, bukan karena agama. Tapi lebih karena komunitas Yahudi di Eropa, sebagai minoritas, berhasil membangun basis perekoniman yang solid. Fenomena inilah yang menjadikan komunitas Kristen mayoritas mengalami apa yang disebut "majority insecurity complex". Yaitu perasaan yang menghantui pihak mayoritas untuk kehilangan posisinya sebagai kelompok terbanyak. Tentu dengan asumsi bahwa jumlah yang banyak itu juga harusnya identik dengan "kekuatan", termasuk kekuatan ekonomi.
 
Hitler sadar betul momentum itu. Dia berhasil membakar ketakutan itu menjadi kekuatan dahsyat. Dan akibatnya terjadilah apa yang disebut dalam sejarah dengan "Holocoust" atau pembantaian masyarakat Yahudi di daratan Eropa.
 
Hingga detik ini berbagai konflik dunia yang beranakkan berbagai organisasi radikal dan teroris, termasuk Al-Qaidah, ISIS, Boko Haram, Al-Shabab, atau KKK dan organisasi teroris Irlandia Utara, semuanya memiliki latar belakang non agama. Agama hanya menjadi bumper atau kendaraan di kemudian hari dalam mengejar kepentingan terkait.
 
Ambillah contoh terakhir ISIS. Organisasi teroris ini adalah bentukan atau tepatnya terbentuk sebagai "special design" pihak-pihal yang punya kepentingan di Timur Tengah dan sekutunya di Barat. Saya melihat ada dua kepentingan besar dan berbeda dalam hal ini.
 
Kepentingan Timur Tengah dikomandoi oleh Saudi Arabia berkepentingan untuk menjaga kekuasaan keluarga kerajaan negara-negara khalij (gulf countries). Penguasa keluaga di negara-negara tersebut menggandeng agama (baca Sunni) sebagai kendaraan. Maka dengan naiknya kekuasaan Nouri Al-Maliki yang Syiah di Irak, dan tetap berkuasanya keluarga Asad di Suriah menjadi ancaman terbesar bagi penguasa khalij; Saudi, Kuwait, Qatar, Bahrain, Imarat dan Oman.
 
Dalam rangka mengawal kekuasaan keluarga inilah mereka mencari cara, apapun itu, untuk mendestabilisasi kekuasaan Irak dan Suriah yang dianggap menjadi aliansi Iran. Dan cara terefektif untuk destabilisasi kedua negara itu adalah dengan mendirikan kelompok yang antithesis dengan idiologi agama yang mereka anut. ISIS mendeklarasikan diri sebagai kelompok "sunni murni" dengan tujuan utama mendirikan "negara Islam" atau "khilafah".
 
Sementara di sisi lain, negara-negara Barat sesungguhnya tidak terlalu memiliki kepentingan agama, bahkan tidak juga kepentingan idiologi. Amerika misalnya tidak peduli pemerintahan di Irak harusnya sunni atau syiah, bahkan tidak peduli Muslim atau non Muslim. Bahkan tidak juga peduli apakah mereka itu demokrasi atau tidak.
 
Kalau seandainya mereka peduli dengan pemerintahan demokrasi maka Amerika tidak akan membangun hubungan yang manis dengan Saudi dan sekutunya di negara-negara Timur Tengah. Karena mereka adalah representasi pemeribtahan "theocratic dictatorship" yang tidak peduli dengan suara rakyatnya.
 
Lalu apa kepentingan sekutu Barat dalam destabilisasi di kedua negara itu?
 
Jawabannya adalah mempertahankan kepentingan kapitalisme dunia. Jika pemerintahan Syiah stabil di Irak minimal, maka Iran yang sudah sekian lama digenjot itu akan bangkit menjadi penyeimbang kekuatan Timur Tengah. Dan kebangkitan Iran dan sekutunya tidak saja dilihat sebagai ancaman kepada Saudi dan sekutunya. Tapi juga ancaman kepada kapitalisme dunia. Kita kenal Iran itu adalah negara kaya dengan SDM yang sangat briliant. Ini yang menjadikan Israel dan aktor Timur Tengah lainnya menjadi "nervous".
 
Dengan demikian terbentuknya ISIS sesungguhnya tidak dilatar belakangi oleh kepentingan agama, melainkan kepentingan kekuasaan keluarga Tikur Tengaj dan kapitalisme dunia. Islam dan Muslimlah di kemudian hari menanggung semuanya. Kasus terakhir ISIS mengeluarkan ancaman kepada beberapa politisi Muslim Amerika dan Barat, termasuk di dalamnya Kongresman Keith Ellison dan Huma Abidin.
 
Sentimen agama dan konflik
 
Seharusnya memang ada pembedaan antara "ajaran agama" dan "sentimen beragama".
 
Ajaran agama itu adalah ajaran yang berasal dari sumber agama yang otentik. Untuk agama Islam tentu ajaran Islam itu bersumber dari dua sumber utamanya. Yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Insya Allah selama ajaran itu murni dari sumber tersebut maka akan dijamin kebenaran dan nilai kebaikan yang dikandungnya.
 
Yang menjadi dilema kemudian memang adalah ketika dua sumber itu diwarnai kemudian oleh "warna tafsiran" pengikut agama. Di sinilah kemudian kerap ajaran itu mengalami pergeseran bahkan distorsi. Karena sesungguhnya tafsiran sumber agama (religious texts) itu seringkali terpengaruh oleh keterbatasan penafsirnya. Termasuk di dalamnya keterbatasan pemahaman, pengalaman, dan juga dibatasi oleh kecenderungan kejiwaan di saat menafsirkannya.
 
Sentimen agama lain lagi. Sentimen agama lebih kepada perasaan berdasarkan kepada ikatan batin. Paham atau sadar itu benar atau bahkan tahu kalau itu tidak benar akan tetap dipertahankan karena sudah ada ikatan batin yang tidak tergoyahkan.
 
Sentimen agama ini lebih banyak ditentukan oleh faktor lingkungan sekitar. Seringkali bukan karena pengaruh "ilmu agama" atau pemahaman seseorang tentang agama itu.
 
Perasaan atau sentimen beragama inilah yang berbahaya ketika tidak diimbangi oleh pemahaman yang akurat tentang agama. Di saat apa yang dipersepsikan sebagai agama tertantang maka yang pertama akan mendominasi pada diri seseorang adalah "rasa" dan bukan "rasionalitas". Akibatnya respon negetif, bahkan destruktif kerap didahulukan.
 
Situasi di atas itulah sesungguhnya seringkali dilabel sebagai "konflik agama". Padahal sejatinya adalah konflik yang diakibatkan oleh sentimen agama dan bukan karena agama itu sendiri.
 
Pemahaman yang kurang pas seperti itulah yang membawa kepada kesimpulan bahwa agama itu harus konflik. Padahal agama-agama itu tidak konflik karena memang sejatinya secara sosial semua agama mengajarkan "nilai-nilai karamah, ihsan, khariyat, dll".
 
Perbedaan teologis maupun praktek ritual itu menjadi bagian dari "theological discourse" yang memang akan abadi. Hingga akhir zaman akan ada yang menerima tauhid dan masih akan banyak yang tidak menerima. Tapi dalam hal ini Allah menegaskan: ilaallahi marji'ukum fayinnabiukum bimaa kuntum ta'malun". Intinya keyakinan seseorang biarlah menjadi tanggung jawabnya masing-masing di akhirat kelak.
 
Bahkan konsep dakwah dalam Islam tidak pernah bertujuan mengislamkan seseorang. Karena toh juga secara teologis dan keyakinan Islam, yang bisa memberikan hidayah itu hanya DIA yang mencipta langit dan bumi.
 
Kesimpulannya adalah mari jeli dalam menilai konflik-konflik yang ada dalam dunia kita. Berhati-hati mengaitkan konflik dengan ajaran agama. Walaupun mungkin konflik itu kemudian didasari oleh sentimen agama. Tapi sekali lagi sentimen agama belum tentu terjustifikasi oleh ajaran agama itu sendiri.
 
Akhirnya berhati-hati mengagamakan konflik dan mengkonflikkan agama.
 
New York, 14 April 2016

Oleh: Imam Shamsi Ali, Wakil Ketua Majelis Dialog Antar Peradaban, Kebudayaan dan Budaya  ICMI , juga Presiden Nusantara Foundation, New York, AS

Editor : Imam Santoso
 

Artikel Terkait

Islam Memerangi Rasisme

Syahrul Hidayanto 22 August 2017

​Laju Dunia Global dan Islam

Syahrul Hidayanto 11 August 2017

Rahasia Kecerdasan BJ Habibie

Syahrul Hidayanto 23 March 2017

​MUI, GNPF MUI dan Umat Islam

Syahrul Hidayanto 14 December 2016

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved