ngaji-algibran.png

Menangkal Radikalisme Dengan Luangkan Waktu Mengaji

Redaksi 11 April 2016 comments Artikel

Jakarta, (ICMI Media) - Tulisan artikel ini sebagai sikap apresiasi atau elababorasi lebih lanjut dari adanya gagasan gerakan Nusantara Mengaji yang diharapkan mampu mengatasi ancaman radikalisme, terorisme, kesenjangan ekonomi, kesenjangan sosial, memudarnya nilai-nilai keagamaan, menjamurnya pergaulan bebas, maraknya penggunaan narkoba dan maraknya perilaku lesbi, gay, biseksual, transgender (LGBT).

Memang, akhir-akhir ini, di tanah air kita marak dan santer sekali isu terorisme dan radikalisme. Bahkan berdasarkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mengungkap adanya belasan pesantren terindikasi radikalisme. Berbicara soal radikalisme, ia merupakan suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan.

Jika dilihat dari sudut pandang keagamaan, radikalisme dapat diartikan sebagai paham keagamaan yang mengacu pada fondasi agama yang sangat mendasar dengan fanatisme keagamaan yang sangat tinggi, sehingga tidak jarang penganut dari paham atau aliran tersebut menggunakan kekerasan kepada orang yang berbeda paham atau aliran untuk mengaktualisasikan paham keagamaan yang dianut dan dipercayainya untuk diterima secara paksa.

Apa yang ditulis di dalam artikel ini merupakan pengalaman keagamaan dan perenungan penulis. Tulisan ini bisa dikatakan bertujuan sebagai langkah preventif dan kuratif. Ada beberapa kata kunci ajaran agama yang bisa diidentifikasi dan dideteksi sebagai potensi menimbulkan pemahaman keagamaan yang berwajah garang, yaitu konsep jihad, amr ma‘ruf nahi munkar, dan al-wala’ wa al-barra’ (tiga konsep tersebut tidak dijelaskan pada tulisan ini, insyallah akan dijelaskan tersendiri pada kesempatan yang lain).

Tentunya hal demikian disebabkan oleh kesalahpahaman dalam memahami atas konsep ajaran itu. Hal tersebut dikarenakan motivasi persepsi dan kecenderungan yang berbeda, serta dilihat dari kacamata yang juga berbeda.

Ada salah satu faktor atau kata kunci lain yang bisa penulis sebut terkait bagaimana bisa terjadi atau terdapat produk pemahaman keagamaan yang tidak mencerminkan nilai-nilah rahmat-kasih sayang. Faktor tersebut adalah, sudah banyak Muslim yang tidak mengaji (baca: membaca sembari meneliti) firman Allah dari al-Fatihah sampai al-Nas.

Berbicara banyaknya Muslim yang tidak mengaji al-Tanzil al-Hakim ada dua type, yaitu:  pertama, memang sama sekali tidak pernah bersentuhan dalam rangka mengaji atau membaca wahyu ilahi, dan kedua, memang "mengaji" akan tetapi sejatinya hanyalah bagaikan "menyanyi tanpa ekspresi penjiwaan yang tepat." Sehingga, seperti nyanyian yang disenandungkan oleh makhluk yang tidak memiliki perangkat nalar berpikir, disebabkan hanya sekedar mengolah suara tapi tidak paham makna. Meskipun demikian, tetap saja bagi para manusia yang bisa membaca Kitabullah kemudian dia membacanya, maka akan mendapatkan pahala di sisi Tuhan untuknya.

Hal yang bisa kita sebut dari membicarakan karakter kalamullah antara lain; mudah dan cepat dipahami, penuh rahmat, elastis-fleksibel, universal, mutlak. Selain itu juga, karakter firman Allah lainnya yang bisa disebut di sini adalah, di dalamnya memuat ajaran keagamaan yang ditekankan untuk pribadi-pribadi yang ingin mendapat kemuliaan dan pangkat di sisi Allah, bukan atas tendensi yang lainnya, dan tidak membicarakan orang atau komunal lain kecuali hanya sebatas sebagai amtsal (permisalan).

Namun, persoalannya lain, apabila mengaji wahyu ilahi akan tetapi seperti “menyanyi” dalam arti, tanpa penjiwaan pada struktur dalam dan substansi isi firman Allah tersebut. Maka, banyak umat beragama yang memiliki Kitab Suci akan tetapi mereka tidak mampu menakar dan memahami dengan baik kalamullah yang memiliki karakter yang telah disebut di atas. Banyak kaum beragama yang "mengerti tapi seperti tidak mengerti."

Banyak manusia yang mengerti bahwasanya, menghina orang lain, merendahkan martabatnya, menghalalkan darahnya, menyesatkan, dan mengkafirkannya adalah sebuah hal yang tidak dapat dibenarkan oleh ajaran pokok agama. Namun, lagi-lagi "mengerti tapi seperti tidak megerti," maka yang terjadi adalah masih banyak kaum beragama yang melewati batas, abai, dan menabarak prinsip ajaran etika agama tersebut.

Tidak sedikit yang melakukannya adalah kalangan yang memiliki kapasitas dan kecakapan dalam menerima dan mengkaji ajaran agama. Realitas demikian akan memunculkan sebuah pertanyaan, yaitu kenapa bisa terjadi? Kenapa banyak kaum beragama yang mengaji kalamullah akan tetapi tidak bisa sampai pada level kesan dan pesan yang rahmatan lil 'alamin? Tentu saja banyak titik berangkat yang bisa dijadikan sebab untuk menjawabnya.

Salah satu penyebab yang membuat para pengaji al-Qur’an sulit atau bahkan tidak langsung paham memahami struktur dalam al-Tanzil al-Hakim, meskipun memiliki kemampuan yang cukup dalam berbahasa Arab dan kaidahnya adalah, ada jarak atau penghambat untuk menuju struktur dalam itu. Penghambat tersebut menurut hemat dan pengalaman subyektif penulis ialah, ritme, irama, dan atau intonasi yang tidak sesuai prinsip kaidah-kaidah disiplin ilmu tajwid di satu sisi, dan pilihan ritme atau irama yang tidak sesuai cita rasa yang menjadi kebiasaan atau kebudayaan para pengaji al-Qur’an di sisi yang lain.  

Atau juga kita sebagai pembaca firman-Nya yang sudah termanifestasi dalam struktur bahasa yang mewujud dari al-Fatihah sampai al-Nas tersebut, kurang begitu perhatian dalam meluangkan waktu untuk memahami dan mendalami maknanya, yang menjadi perhatian kita hanyalah “mengolah suara” dan membaca al-Tanzil al-Hakim dengan berbagai versi nada. Menurut hemat penulis, sangat penting sekali kita meluangkan waktu untuk memahami dengan seksama kalamullah meskipun melalui terjemahan. Hal tersebut dapat membantu kita untuk berekspresi tepat saat menangkap pesan kesan kalamullah pada waktu kita membacanya.

Kembali lagi pada persoalan, yang menghambat kita untuk langsung paham ke struktur dalam atau muatan makna al-Tanzil al-Hakim adalah, pilihan ritme atau irama yang tidak sesuai cita rasa yang menjadi kebiasaan atau kebudayaan para pengaji al-Qur’an tersebut. Misalnya, sebagai orang Jawa yang tidak memilki kecapapan dialek suku dan budaya orang lain selain bahasa dan budaya ibunya, kemudian dipaksa untuk mengaji al-Tanzil al-Hakim dengan irama khaz Arab, maka bisa dipastikan akan mengalami kesulitan, dan merasa tidak memiliki penjiwaan yang maksimal. Jika dipaksa menerapkan secara rutin mengaji dengan bukan cita rasanya tersebut, maka di kemudian hari, ia mungkin bisa dikatakan akan menjadi mahir membaca al-Dzikr tersebut sesuai kaidah tajwid dengan pilihan irama khas Arab.

Meskipun demikian, tetap saja masih bisa dipastikan kemungkinan besarnya ia hanya ahli dalam struktur luar ­al-Dzikr bukan untuk struktur dalam atau substansi isi al-Dzikr. Ia juga akan sulit untuk tidak mengatakannya tidak pernah, menggali struktur dalam al-Dzikr secara interaksi langsung dengan mendayagunakan nalarnya. Selain kita kesulitan memahami struktur dalam ayat-ayat Kitabullah, dari implikasi membaca al-Tanzil al-Hakim bukan dengan intonasi yang sesuai cita rasa pembacanya adalah, tidak mengetahui bagaimana seharusnya membaca firman Allah dengan intonasi yang sesuai konteks ayat. Misalnya, ketika membaca firman Allah yang sebenarnya bermuatan kasih-sayang, namun karena dibacanya dengan intonasi yang tidak pas, maka akan berdampak pada angle pemahaman yang mengesankan "kegarangan atau kemarahan."

Sejatinya, hal yang terpenting dalam beragama adalah, jangan sampai kita percaya kepada sesuatu yang kita tidak paham tentangnya. Sebab, beriman adalah sebuah proses keyakinan secara ‘aqli dengan menggunakan potensi kecerdasan tidak sekedar menggunakan dugaan-dugaan yang tidak berdasar dan “ikut-ikutan.” Allah sendiri mengkritik orang-orang yang beragama dengan cara ikut-ikutan dengan tidak memahami ilmunya, justru sebaliknya, Allah SWT. mendorong kita untuk bisa memberikan bukti secara argumentatif terhadap keyakinan kita bukan hanya dogmatis dan doktrin. Hal ini dapat dipahami di dalam surat: al-Isrā’: 36, al-Ṭalāq: 10, Yūnus: 36, 100, dan al-Kahfi: 15.

Hal di atas diangkat atau dimunculkan dalam tulisan ini, sasarannya sebagai ajakan kepada para pengaji al-Qur’an supaya juga memahami, meneliti dan berinteraksi langsung dengan struktur al-Dzikr, demi menemukan makna yang signifikan dan relevan bagi kebaikan dirinya dan sekitarnya. Dan, ketika ada penafsiran atau pemahaman, baik yang tertulis di dalam buku tafsir agama, atau tidak, dalam arti hanya sekedar pengajaran tafsir keagamaan, kita tidak mudah terbius dan ikut-ikutan, akan tetapi kita bisa memilih, memilah dan memfilternya. Sehingga, dengan begitu banyaknya wacana khazanah keagamaan yang ditulis dan dibicarakan oleh banyak subyek tersebut, tidak melulu langsung kita terima, tetapi kita bisa melakukan pertimbangan secara kritis dengan prinsip dasar kerahmatan, fleksibelitas, mengedepankan nilai kejujuran, menghormati, tidak terjebak pada pemahaman yang otoriter, dan yang jelas bukan tafsir kebencian.


Oleh Fasjud Syukroni, Wartawan ICMI Media
Kandidat Master Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta

Artikel Terkait

Islam Memerangi Rasisme

Syahrul Hidayanto 22 August 2017

​Laju Dunia Global dan Islam

Syahrul Hidayanto 11 August 2017

Rahasia Kecerdasan BJ Habibie

Syahrul Hidayanto 23 March 2017

​MUI, GNPF MUI dan Umat Islam

Syahrul Hidayanto 14 December 2016

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved