ngaji-algibran.png

Telling Islam To The World (Bagian 22)

Redaksi 24 March 2016 comments Artikel

(ICMI Media) - Barangkali di antara sekian cerita muallaf yang pernah saya sampaikan, baik melalui lisan maupun tulisan. Kisah Amanda adalah salah satu yang paling menarik dan berkesan. Sebabnya adalah bagaimana Amanda bisa mengalami transformasi dari sosok yang benci ke sosok yang tidak saja cinta kepada agama ini. Bahkan Amanda dapat saya kategorikan sebagai salah satu pembela Islam yang hebat.

Awal kisah Amanda terjadi sekitar 5-6 tahun lalu. Di kelas forum diskusi Islam unuk non Muslim hadir seorang wanita muda, sekitar 20-an tahun. Wanita berkulit putih dan bermata biru serta berambut pirang itu, merupakan sosok yang sangat identik dengan Eropa.

Amanda duduk di salah satu satu sudut ruangan kelas. Tanpa ekspresi, tanpa basa basi, dan nampak serius dan tegang. Walaupun duduk hingga akhir jelas, Amanda seolah acuh (tidak memperhatikan) penjelasan yang siang itu saya sampaikan. Seolah apa yang saya sampikan di kelas itu tidak bermakna di matanya.

Biasanya di akhir penyampaian materi saya memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk bertanya, atau berkomentar dan bahkan mengkritisi apa yang saya telah sampaikan. Sebab dengan cara itu kita bisa buktikan bahwa Islam adalah agama yang terbuka dan dibangun dibatas pemahaman yang solid.

Pada hari itu tak seorangpun dari peserta yang angkat tangan kecuali Amanda. Tanpa senyum dan dengan wajah masih sinis memberikan 4 halaman pertanyaan kepada saya.

"These are my questions", katanya singkat.

Saya mengambil lembaran-lembaran yang penuh dengan catatan dengan tulisan tangan itu. Sambil menyampaikan terima kasih saya mulai membaca satu persatu pertanyaan itu. Hampir semuanya mengenai nabi Muhammad SAW.  "Apa dasar pengakuan Muhammad sebagai nabi? Siapa yang menuliskan untuknya kitab (Al-Quran)?, kenapa memaksa orang Mekah memeluk Islam dan menghancurkan sesembahan mereka? Kenapa mengawini anak-anak (Aisyah)?, di antara pertanyaan-pertanyaan yang tertuliskan di kertas itu.

Uniknya semua pertanyaan itu memiiki referensi dari sumber-sumber yang oleh umat Islam dianggap authoritative atau kredibel. Baik buku-buku tafsir, sirah, maupun tulisan para ulama Islam yang terkenal.

Saya ingat di kelas itu saya hanya sempat menjawab, itupun tidak langsung, tentang apa alasan nabi Muhammad menjadi nabi dan rasul. Jawaban saya mungkin tidak memuaskan membuat sang wanita itu biasa-biasa saja. Tapi saya berjanji untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya melaiui email. Dan sayapun memberikan alamat email saya.

Di malam hari saya biasanya membuka email dan merespon berbagai pertanyaan yang masuk. Ternyata Amanda telah mengirimkan email dengan seabrek pertanyaan lagi. Kali ini bukan mengenai rasulullah SAW saja. Tapi juga mengenai banyak isu-isu sosial dalam Islam seperti wanita, Muslim-non Muslim, konsep negara Islam, dll.

Tentu saya tidak mampu menjawab semua pertanyaan itu sekaligus. Oleh karenanya saya mulai menjawab satu, dua, tiga pertanyaan yang saya anggap prioritas.

Amanda tidak merespon jawaban saya. Saya sendiri mengira dia tidak serius atau tidak puas, atau sebaliknya telah puas dengan jawaban-jawaban saya itu. Ternyata dia memang hanya tidak merespon.

Pada kelas selanjutnya dia hadir lagi. Saya sendiri merasa tidak perlu menanyakan apakah menerima atau tidak email saya. Apakah puas atau tidak terhadap jawaban saya. Yang pasti Amanda pagi itu hadir dan nampak lebih tenang dan sopan. Tapi belum aktif sama sekali dalam diskusi di kelas.

Minggu selanjutnya dia hadir kembali. Kali ini Amanda mulai agresif bertanya. Tapi terus terang pertanyaannya pedas dan cukup memerahkan telinga. Sehingga ada beberapa peserta yang nampak menggelengkan kepala mendengarkan pertanyaan Amanda itu.

Singkat cerita, Amanda belajar Islam kurang lebih enam bulan. Di suatu malam tiba-tiba saya menerima email dengan bunyi: "I feel that I am falling in love with this religion".

Saya menjawab dengan bertanya: "How is it possible? I still remember you came to my class angry to my prophet", tanya saya.

"I think because you're a good salesman", jawabnya.

Dua bulan kemudian Amanda kembali mengirimkan email dengan bunyi kira-kira: "Imam, I think it's the time for me".

Saya tidak terlalu paham maksudnya maka saya tanya: "what do you mean?".

"I have thought quite a long time. And now I have a big decision in my life", katanya.

Saya menangkap maksudnya. Tapi saya bermaksud mencairkan siasana. Oleh karenanya saya kembali bertanya: "what decision? Are going to marry?".

"No. It is the time for me to be Muslim", katanya tegas.

Alhamdulillah...."please come on Saturday and declare your shahadah", ajak saya.

"I don't want to do it on Saturday. I want some of my friends to join me", tulisnya.

Singkatnya datanglah Amanda pada hari Senin selanjutnya dan hadir bersamanya sekitar 10 orang temannya. Di sanalah saya baru tahu kalau Amanda itu adalah peneliti sebuah universitas Yahudi di kota New York.

Yang menarik adalah di saat Amanda mengikrarkan syahadat: "Asyhadu an-laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah" dengan khusyu' sambil meneteskan airmata. Teman-teman Amanda yang hadir siang itu, tahu atau tidak apa yang sedang terjadi, juga ikut meneteskan Airmata.

Mungkin telah pernah saya sampaikan bahwa proses telling Islam to the world (dakwah) itu memerlukan pendekatan persuasif. Pendekatan yang tidak saja memperhatikan "konten". Tapi tidak kalah pentingnya adalah "metode pendekatan" yang sesuai.

Mungkin jawaban-jawaban yang saya berikan ke Amanda biasa-biasa saja. Bahkan mungkin jauh dari memuaskan pengembaraan intelektualitasnya yang hebat. Tapi pendekatan yang dilakukan dengan cara yang tepat, sesuai dengan rasa dan kecenderungannya, dan tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip dasar keyakinan. Itulah yang sesungguhnya yang menjadi faktor dominan dalam menyakinkan Amanda untuk menerima Islam. Sehingga jawbannya ketika saya tanya: "kok bisa jatuh hati terhadap Islam"? Bukan karena keindahan penjelasan saya. Tapi "karena kamu adalah juru jual yang baik".

Jawaban itu jelas bukan karena jualannya. Tapi lebih kepada cara menjualnya. Cara menjual tentunya banyak ditentukan oleh juru jualnya.

Oleh karenanya para da'i harus menempatkan diri sebagai juru jual yang lihai. Juru jual tentunya harus menguasai objek jualannya. Tapi juga harus menguasai teknik penjualan berdasarkan kepada kecenderungan pasar dan kostumernya.

Kesimpulannya adalah bahwa proses telling Islam to the world itu mutlak dilakukan berdasarkan pesar Allah: "Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak dan dengan nasehat yang baik, serta debatlah mereka dengan cara yang terbaik".

Ketiga hal yang disebutkan pada ayat di atas berkaitan erat dengan "metode". Hikmah, nasehat yg baik, dan berdebat dengan cara terbaik, penekanannya pada "karfiyyat" atau metode. Bukan substansi. Wallahu a'lam
 

Oleh : Imam Shamsi Ali, Wakil Ketua Majelis Diskusi Antar Peradaban, Kebudayaan dan Keyakinan di MPP ICMI dan juga Presiden Nusantara Foundation, New York, USA.

Editor: Imam Santoso

Foto: Nusantara Foundation

Artikel Terkait

Islam Memerangi Rasisme

Syahrul Hidayanto 22 August 2017

​Laju Dunia Global dan Islam

Syahrul Hidayanto 11 August 2017

Rahasia Kecerdasan BJ Habibie

Syahrul Hidayanto 23 March 2017

​MUI, GNPF MUI dan Umat Islam

Syahrul Hidayanto 14 December 2016

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved