ngaji-algibran.png

Telling Islam To The World (Bagian 21)

Redaksi 12 March 2016 comments Artikel

New York, (ICMI Media) - Proses telling Islam to the world (dakwah) dengan demikian harus melalui pendekatan dialog. Sebab dengan dialog akan terminimalisir ketakutan dan kecurigaan. Bahkan dengan dialog akan tumbuh rasa percaya, bahkan kedekatan dan simpati. Tidak jarang melalui dialog inilah tumbuh rasa solidaritas dan pembelaan dari masyarakat lain di saat agama ini dan pemeluknya diserang.

Sense of solidarity

Saya pernah sampaikan bahwa dalam mendakwah agama ini rasa "soliaritas" harus ditumbuhkan. Solidaritas yang kita maksud adalah mencoba merasakan apa yang mereka rasakan. Ketika mereka marah, curiga atau bahkan membenci, kita mencoba berimajinasi sedang berada pada psosisi mereka. Di posisi yang tidak mengenal Islam di satu sisi. Dan dibutakan oleh misinformasi dan mispraktek Islam oleh pemeluknya di sisi lain.

Kalau kita berada di posisi mereka kira-kira apa yang akan terjadi kepada kita? Apakah ada jaminan jika kita tidak akan bersikap seperti mereka bahkan lebih buruk?

Merasakan perasaan mereka dengan "putting our feet in their shoes" akan menumbuhkan rasa "ra'fah wa rahmah" (kelembutan dan kasih sayang). Dan dengan rasa kasih sayang inilah kita berinteraksi dengan mereka secara konsisten dan dalam suasana apapun.

Ketika rasa solidaritas kita bangun maka yang terjadi adalah kita akan selalu mengedepankan upaya-upaya positif untuk menyelamatkan (salvation) dan pemikiran dan sikap negatif mereka. Dan dengan itu pula mereka akan minimal bersikap "netral" bahkan boleh jadi simpati dan jatuh hati dengan agama ini.

Saya masih teringat ketika seorang pemuda Amerika datang ke Islamic Center New York beberapa tahun lalu. Anak yang memang masih sangat muda, bahkan remaja. Baru duduk di bangku kelas tiga SMA. Tapi berani dan sangat terbuka.

"Why all terrorists in the world seem to be Moslems?" (Kenapa semua terroris di dunia nampaknya adalah Muslim?), tanyanya suatu ketika dalam kelas.

"They hate America. They hate all non Muslims, and want to murder them" (mereka benci Amerika. Benci semua non Muslim dan ingin membunuh mereka), lanjutnya.

Karena dia remaja maka cara bicaranya juga sangat blak blakan dan kurang sopan. Walaupun memperlihatkan wajah ramah, lazimnya warga Amerika lainnya. Hal ini membuat sebagian peserta kurang senang (kurang sreg). Sehingga suatu ketika ada peserta menyelah: "hey young boy, can you learn to be polite a bit?" (bisakah anda lebih sopan?).

Mendengar itu saya hanya tersenyum. Saya melihat bahwa apa yang ditanyakan atau disampaikan oleh anak muda itu memang kata hatinya. Pertanyaan yang kadang terasa pedis, bahkan menyentuh sensitifitas iman saya melihatnya sebagai pertanyaan yang murni keluar dari lubuk hatinya yang dalam.

Mungkin hanya caranya saja yang kurang tepat. Itupun saya coba pahami dalam konteks kejiwaan anak-anak muda Amerika, cara bersikap dan bertutur kata, dan seterusnya. Sehingga kekurang senangan sebagian peserta tidak serta merta menjadikan saya juga kurang senang atau tersinggung.

Singkat cerita sang anak remaja itu di suatu hari Sabtu datang ke kelas, tiba-tiba dengan wajah yang berbeda. Selama ini selalu dengan pakaian kurang sopan, tapi kali ini dengan pakaian Asia Selatan (shalaar gamiz) dan kopiah putih di kepalanya.

"Imam, I became Muslim" katanya sebelum saya memulai kelas pagi itu.

"Really?" tanya saya keheranan. "When and how did you become a Muslim?".

"Two days ago in my room", jawabnya.

Rupanya diam-diam dia melakukan syahadat sendiri di kamarnya. Dan dengan mengucapkan syahadat itu dia merasa telah berpindah agama.

Saya kemudian menjelaskan proses menerima Islam. Dari memahami, meyakini, dan mendeklarasikan keimanan kepada "laa ilaaha illallah-Muhammadan Rasulullah".

Saya kemudian ingin meyakinan akan keyakinan dia. "Do you really believe that Islam is the right way for you to follow?"

"Yes, I believe and I know that", jawabnya singkat.

Maka di kelas itu dengan kehadiran beberapa non Muslim lainnya saya tuntun dia kembali mengucapkan "syahadat". Dia ikut ikrar itu dengan khusyu. Walaupun masih nampak di wakahnya mimik keremajaan.

Semua yang hadir mengucapkan selamat. Ada yang sekedar bersalaman. Tapi banyak juga yang memeluknya sambil bertakbir: Allahu akbar.

Poin saya dari cerita di atas adalah bahwa dalam proses telling Islam to the world diperlukan "sense of solidarity". Yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang ada di sekitar kita. Bahwa betapa ketika mereka tidak tahu mereka akan merasa khawatir, takut, bahkan curiga dan benci. Apalagi di saat media begitu kuat mendistorsi wajah Islam yang sesungguhnya.

Pernahkah kita membayangkan jika kita berada pada posisi mereka? Kira-kira apa yang kita rasakan saat itu?


Oleh: Imam Shamsi Ali, Wakil Ketua Majelis Dialog Antar Peradaban, Kebudayaan dan Keyakinan dan Presiden Nusantara Foundation, New York, USA.

Editor: Imam Santoso

Artikel Terkait

Islam Memerangi Rasisme

Syahrul Hidayanto 22 August 2017

​Laju Dunia Global dan Islam

Syahrul Hidayanto 11 August 2017

Rahasia Kecerdasan BJ Habibie

Syahrul Hidayanto 23 March 2017

​MUI, GNPF MUI dan Umat Islam

Syahrul Hidayanto 14 December 2016

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved