ngaji-algibran.png

Telling Islam To The World (Bagian 20)

Redaksi 8 March 2016 comments Artikel
Jakarta, (ICMI Media) - Mengakui sisi kebajikan pada orang lain sebagai bagian dari "kebajikan Islam" (Al-birru al Islami) sesungguhnya menjadi bagian dari "kerendah hatian" (tawadhu) dalam beragama, dan dalam berdakwah (telling Islam to the world) khususnya.

Bagi kami masyarakat Muslim di Amerika misalnya, sungguh banyak yang dapat kami pelajari dan contoh dari komunitas lain. Pada masing-masing komunitas ada nilai-nilai kebajikan yang sejatinya menjadi bagian dari nilai-nilai Islam yang universal (rahmatan lil-alamin).

Salah satu pelajaran penting yang kami pelajari dari masyarakat Yahudi adalah semangat keberlangsungan hidup (spirit of survival) yang mereka miliki. Mereka dalam sejarah di mana saja selalu berada pada posisi minoritas secara kwantitas. Tapi secara kwalitas mereka selalu berada pada strata sosial atas. Dan itu kita ketahui bahkan sejak masyarakat Yahudi di Madinah jauh sebelum Muhammad SAW diutus.

Pelajaran terpenting dari masyarakat Yahudi adalah kemampuan mereka membangun networking sosial, kesatuan komunitas secara sosial. Walaupn kenyataannya secara agama atau tepatnya secara paham agama antara satu kelompon (atau madzhab) dengan kelompok yang lain sangat berjauhan. Bahkan mungin dalam bahasa Islamnya mereka juga saling mengkafirkan. Akan tetapi dalam masalah kehidupan kolektif (komunal) mereka memiliki basis yang sangat kuat (solid group).

Kenyataan pada umat ini berbalik. Kelebihan umat ini ada pada networking ubudiyahnya. Berbeda pendapat (tentu selama masih ditolerir oleh Al-Kitab Was sunnah) tidak menjadikan umat ini saling menjauh dalam rumah-rumah ibadah. Mereka bisa berjamaah kendati berbeda mazhab dan penafsiran. Akan tetapi sebaliknya juga demikian. Berjamaah, bahkan satu mazhab dalam pemahaman agama belum mampu menjadikan umat ini mampu membangun "solid networking" dalam urusan sosialnya. Perpecahan bahkan permusuhan dan peperangan kerap terjadi di antara mereka. Padahal sejatinya jika umat ini bisa sholat berjamaah di masjid-masjid, mereka harus mampu membangun jamaah di pasar dan di seluruh bagian bumi ini.

Kejujuran

Jujur itu merupakan nilai kemanusiaan yang agung (high human value). Secara umum menandakan karakter mulia dan terhormat. Sehingga nabi-nabi Allah salah satunya memiliki "sifat wajib al-amanah" (kepercayaan dan kejujuran).

Dalam dialog sebagai proses telling Islam to the world kejujuran itu menjadi sangat penting. Selain jujur dalam menyampaikan amanah Allah (agamaNya), tidak menyembunyikan di belakang punggung sebagaimana keritikan Al-Quran kepada sebagian umat masa lalu (Kitaballah waraa zhuhurihim).

Tapi jujur yang maksud pula adalah sejujurnya sadar dan mengakui akan kekurangan pengikut agama yang mulia dan sempurna ini. Bahwa Islam itu diyakini oleh pengikutnya sebagai agama sempurna (diin kamil). Tapi manusia yang menjadi pengikut agama ini jauh dari kesempurnaan. Terlalu banyak kegagalan dalam membangun hidup berdasarkan idealisme agamanya yang sempurna.

Dengan pengakuan seperti Islam akan terhindarkan dari berbagai tuduhan yang selama ini dilemparkan oleh orang lain. Islam akan dituduh sebagai ajaran kekerasan karena ada di antara pengikutnya yang memang telah kehilangan karakter "rahmah" (kasih sayang) dan "ra'fah" (lemah lembut) yanh diajarkan agama ini. Yang nampak adalah karaker marah, geram, benci, permusuhan, dan bahkan menakutkan. Karakter yang sesungguhnya dikutuk dalam Islam. Tapi terkadang menjadi kebanggan atas nama Islam.

Untuk menghindarkan Islam dari tuduhan seperti di atas, para da'i harus mengakui kekuarangan umat ini. Bahwa umat ini memang masih perlu pembelajaran. Bahwa umat Islam itu memerlukan "pengislaman" karakter dan kehidupan. Bukan karena Islam yang masalah. Tapi karena umat Islam yang berislam secara sesngguhnya (kaaffah).

Berbagai permasalahan sosial umat juga perlu kejujuran dan pengakuan. Salah satunya adalah "mistreatment of women" dalam masyarakat kita. Di satu sisi kita bangga dengan ajaran Islam yang memuliakan wanita begitu sangat tinggi (highly honor). Tapi di sisi lain kenyataan jika wanita masih diperlakukan secara diskriminatif di negara-negara mayoritas Muslim masih merajalela.

Kenyataan atau tepatnya kekurangan ini perlu disikapi secara jujur. Bahwa memang secara konseptual kedudukan wanita dalam agama ini begitu mulia. Bahkan dengan segala percaya diri bisa dibandingkan dengan konsep-konsep ajaran lain, baik keagamaan maupun non keagamaan. Akan tetapi sejujurnya pada tingkatan praktek dan realita masih banyak kekurangan umat ini dalam penghormatan kepada kaum hawa.

Di satu sisi wanita diwajibkan oleh agama ini menuntut ilmu dan menguasai ilmu pengetahuan. Tapi di sisi lain masih ada masyarakat Muslim yang setengah hati membenarkan wanita berilmu tinggi. Alasannya karena semakin berilmu wanita akan semakin kurang hormat kepada suaminya.

Barangkali yang aneh juga ketika wanita bahkan dilarang mengendarai mobil atas nama Syariah. Pelarangan ini di dunia barat bukan lagi isu menyetir mobil. Tapi isunya merambat ke hak dan kebebasan wanita.

Intinya adalah bahwa dalam berdialog sebagai bagian alami dari proses telling Islam to the world jujur mengakui kekurangan menjadi keharusan. Jika tidak maka akan terjadi "mistrust" kepada agama ini. Di mana orang-orang akan mempertanyakan "kebenaran" ajaran yang disampaikan. Jangan-jangan justeru para du'at dianggap berbohong karena antara idealisme dan realita memiliki gap yang besar.

Atau jangan-jangan ada pula yang berkata: "sungguh indah ajaran itu. Tapi apakah setelah saya menjadi Muslim lalu saya akan menjadi seperti mereka (Muslim) dengan segala realita prilaku yang justeru paradoks dengan ajaran yang indah itu.***

Oleh: Imam Shamsi Ali, Wakil Ketua Majelis Dialog Antar Peradaban, Kebudayaan dan Keyakinan ICMI, Presiden Nusantara Foundation di New York, USA.

Editor: Imam Santoso
 

Artikel Terkait

Islam Memerangi Rasisme

Syahrul Hidayanto 22 August 2017

​Laju Dunia Global dan Islam

Syahrul Hidayanto 11 August 2017

Rahasia Kecerdasan BJ Habibie

Syahrul Hidayanto 23 March 2017

​MUI, GNPF MUI dan Umat Islam

Syahrul Hidayanto 14 December 2016

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved