ngaji-algibran.png

Telling Islam To The World (Bagian 19)

Redaksi 6 March 2016 comments Artikel

Jakarta, (ICMI Media) - Seringkali dalam mengkomunikasikan Islam ke dunia (telling Islam to the world) kita menemukan pertanyaan, yanh sesungguhnya bukan pertanyaan. Tapi lebih kepada umpan yang sangat "tricky" dan dapat menggelincirkan ke dalam lobang "justifikasi" yang mereka inginkan.

Barangkali contoh terdahulu yang pernah saya sampaikan bisa menguatkan asumsi ini. Muslim Amerika seringkali diperhadapkan kepada pertanyaan: "mana yang kamu lebih pentingkan "Shariah" atai "Konstitusi" Amerika?

Jawaban seorang Musim Amerika bisa maju kena mundur kena. Jika dijawab Shariah maka and akan dicap anti Amerika. Jika anda mengatakan Konstitusi maka sudah pasti anda menyalahi "fondasi iman".

Oleh karenanya jawaban yang tepat adalah dengan mendepankan substansi kebenaran. Bahwa Shariah diyakini sebagai aturan yang dibangun di atas "Al-haqq". Demikian pula dengan konstitusi Amerika juga secara substansi didasarkan kepada kebenaran. Sehingga jawaban yang tepat adalah kebenaran itu satu. Dan keduanya mewakili kebenaran itu.

Tentu dalam pandangan iman, kebenaran yang kita maksud tidak lain adalah "al-haqq min Rabbik falaa takunanna minal mumtariin". Kebenaran itu sumbernya dari Tuhan. Walaupun diekspresikan oleh orang-orang yang kemungkinan tidak sadar Tuhan.

Dan itu pulalah makna: "Al-hikmatu dhoolatul mukmin. Annaa wajadaha fahuwa ahaqqu biha" (hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman. Di mana saja kamu dapatkan ambillah. Karena orang beriman itu lebih berhak memilikinya".

Keempat, hindari menyakiti.

Dalam dialog sebagai bagian dari proses telling Islam to the world hendaknya dihindari menyakiti perasaan orang lain. Walaupun mungkin dalam prosesnya boleh saja ada pihak-pihak yang merasa kurang nyaman atau bahkan tersakiti dengan kebenaran yang disampaikan. Tapi seorang daa'i jangan sampai sengaja mengumbar kata atau prilaku yang menyakitkan orang lain.

Yang pasti Al-qur'an mengingatkan orang-orang yang beriman: "jangan kamu mencaci maki tuhan mereka. Karena (dengan itu) mereka akan mencaci maki Allah".

Pelarangan di atas mewakili semua hal yang boleh jadi menyakiti orang lain.

Ambillah satu contoh ketika berbicara kepada seorang teman yang beragama Katolik atau Kristiani. Kita sadar bahwa mayoritas mereka percaya jika Isa (alaihis salam) adalah inkarnasi tuhan, tuhan, atau anak tuhan. Dan kepercayaan itu begitu dalam dan menjadi jantung keimanan Kristiania.

Ketika menyampaikan posisi Islam kepada teman Kristiani, yang amsumsinya mereka baik dengan kita, bersahabat seperti disebutkan dalam Al-quran. Maka menjadi penting untuk dihindari menyampaikan jika mereka "musyrik" dan pandangan mereka salah tentang Isa (Yesus). Sebab penyampaian seperti itu akan membakar sensitifitas dan boleh jadi emosi teman itu. Yang pada akhirnya yang tumbuh adalah kemarahan, kebencian dan permusuhan. Dan jika ini terjadi maka itu merupakan kegagalan total dalam proses telling Islam to the world.

Sebaliknya jika dimulai dengan "positive notes", menyampaikan sisi-sisi positif yang ada dalam keyakinan mereka maka boleh jadi itu adalah awa refleksi atas apa yang kita yakini sebagai kesalahan.

Sebagai misal, ketika anda berbicara dengan seorang Kristiani sampaikan betapa Islam memuliakan Isa (alaihis salam), Ibunya (Maryam) dan keluarganya. Bahkan tegasnya tidak akan beriman seorang Muslim jika tidak mengambil Isa (alaihis salam) sebagai nabinya yang agung (mighty prophet atau ulul azm).

Jika memang diperlukan, dan itu dalam konteks subyek yang didiskusikan maka sebaiknya ditambah bahwa walaupun Islam memuliakan Isa dan keluarganya dengan pemuliaan yang sangat tinggi, Islam tidak mengajarkan jika Isa memiliki sisi ketuhanan dalam dirinya. Dia adalah manusia biasa, diciptakan secara mukjizat, dihamilkan sembilan bulan, dilahirkan, dan ketika berumur 8 hari disunat. Dia tumbuh besar lalu diangkat menjadi utusan oleh Allah. Dan di saat ditentang oleh umatnya dia melarikan diri dari musuh-musuhnya, bahkan ketakutan, dan juga merasakan lapar dan haus.

Penjelasan positive tentang Isa ke audience Kristiani akan lebih positif ketimbang mengumbar apa yang kita yakini sebagai kesalahan.

Intinya adalah dalam mengkomunikasikan Islam ke dunia jangan mengedepankan "insult" (menyakiti). Karena kebenaran yang disampaikan dengan menyakiti bisa bermakna pengusiran dari kebenaran.

Kelima, selalu positif

Telling Islam to the world sekali lagi tidak bertujuan mengislamkan dunia, bahkan orang lain. Diterima atau ditolaknya Islam itu tidak menjadi bagian dari ranah tanggung jawab dakwah. Hidayah itu memang menjadi hak prerogatifnya Allah SWT.

Sebaliknya proses mengenalkan Islam ini tidak lain adalah proses "mengajak ke jalan Allah". Mengajak kepada jalan hidup yang baik dan positif. Karena jalan Allah itu asumsinya adalah "jalan yang terbangun di atas hal-hal positif".

Berinteraksi dengan komunitad lain, sudah terlalu banyak hal-hal positif yang perlu diakui dan diapresiasi. Kehadiran Islam ke sebuah daerah atau negeri, bukan bertujuan menghancurkan hal-hal yang sudah positif. Itulah makna sabda baginda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia".

Menyempurnakan berarti sudah ada sesuatu sebelumnya. Hanya belum sempurna. Oleh karenanya Islam datang untuk menyempurnakan. Bukan menghancurkan, dan tidak pula bertujuan menggantikan hal yang sudah ada.

Dalam berdialog kesadaran akan hal-hal positif pada orang lain itu menjadi krusial. Jangan sampai dakwah yang dilakukan itu terbangun di atas egoisme, apalagi keangkuhan. Sehingga hal-hal positif pada orang lain tidak dilihat, bahkan diingkari.

Tentu tidak bermaksud mengimitasi (taqlid) orang Yahudi. Tapi puasa Muharram (Asyura) yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW, dan kemudian identik dengan perayaan terbunuhnya Husaen (cucu Rasulullah) sejujurnya praktek komunitas Yahudi sebelum Islam menjadikannya sebagai tradisi (sunnah). Tentu ini adalah salah satu contoh jika hal positif pada orang lain tidak serta merta diingkari. Walaupun dalam hal "ubudiyah" tidak lagi dengan meninggalnya Rasulullah SAW.

Tapi dalam masalah/masalah duniawi (muamalat) betapa Islam tidak menutup diri untuk berani menimbah hal baik orang lain. Ketekunan dan kedisiplinan orang Jepang dan Korea misalnya adalah contoh terdekat. Atau semangat inovasi orang barat juga bisa menjadi pelajaran berharga bagi umat ini.

Oleh karenanya keyakinan kita akan kesempurnaan Islam tidak seharusnya menutup mata jika ada aspek-aspek "kebajikan Islam" yang justeru dapat dipelajari dari orang lain. Saat ini yang paling menyentuh saya dalam hal pengungsi Suriah adalah prilaku pemerintah Kanada. Mereka mengajarkan kepada kita makna "al-ihsan" yang justeru tidak didapatkan di negara-negara tetangga Arab.

Itu juga berarti kesempurnaan Islam bukanlah kesempurnaan pemeluknya. Pemeluknya adalah manusia yang penuh dengan kekurangan. Sebaliknya tidak mustahil justeru nilai-nilai Islam itu sudah ada pada orang atau bangsa lain. Dan di sini pulalah makna "menyempurnakan akhlak" dalam konteks telling Islam to the world.


Oleh : Imam Shamsi Ali, Wakil Ketua Majelis Dialog Antar Peradaban, Kebudayaan dan Keyakinan ICMI dan Presiden Nusantara Foundation di New York, USA.


Editor : Imam Santoso

Artikel Terkait

Islam Memerangi Rasisme

Syahrul Hidayanto 22 August 2017

​Laju Dunia Global dan Islam

Syahrul Hidayanto 11 August 2017

Rahasia Kecerdasan BJ Habibie

Syahrul Hidayanto 23 March 2017

​MUI, GNPF MUI dan Umat Islam

Syahrul Hidayanto 14 December 2016

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved