ngaji-algibran.png

Serangan Teror dan Pemilu Amerika

Redaksi 23 March 2016 comments Artikel

(ICMI Media) - Jelas ada perbedaan dunia dalam menyikapi berbagai peristiwa. Serangan teror di Turki atau di Irak dan Suriah hampir saja berlalu tanpa catatan, seolah bukan masalah kemanusiaan. Tapi serangan teror di Paris atau yang terjadi kemarin di Brussel, Belgia, menjadi peristiwa yang menggoncang dunia baik barat maupun timur.

Standar ganda (double standard) ini jelas menampakkan "genuine attitude" sebagian dalam menyikapi berbagai tragedi kemanusiaan dalam dunia kita. Seolah nyawa seorang bocah Muslim Turki atau Suriah kurang bernilai untuk menjadi isu dunia. Tapi nyawa seorang bocah Belgia atau Paris begitu penting dan bermakna bagi semuanya.

Hal itu nampak pula dari respon yang diberikan oleh pemimpin dunia, termasuk dunia Islam, dalam menyikapi serangan teroris di barat dan di dunia Islam. Pemimpin dunia hadir dalam demonstrasi besar di Paris untuk menyampaikan sikap solidaritas mereka. Termasuk di dalamnya presiden Palestina, Mahmud Abbas, hadir di acara itu.

Sebagaimana pernah saya sampaikan dalam sebuah tulisan: Serangan Paris dan kemunafikan dunia, media berada di garda terdepan dalam kemunafikan ini. Sebagai seorang Muslim yang menetap di jantung dunia, saya merasakan betul perbedaan prilaku media dalam menyikapi serangan teror Turki beberapa hari lalu dan serangan teror Brussel kemarin.

Pemilu Amerika dan kebencian

Sementara itu di Amerika Serikat terjadi kembali perhelatan akbar empat tahunannya. Hanya saja dalam sejarah Amerika barangkali baru kali ini pemilu Amerika ini menampakkah wajah terburuknya. Kebebasan dan keterbukaan denokrasi di Amerika dalam sejarahnya tidak pernah memperlihatkan wajah yang menyeramkan seperti saat ini. Di mana dalam kampanye kandidat terjadi kekerasan fisik (physical contact) atau pemukulan.

Lebih dari itu kebencian dan kemarahan meninggi pada pihak yang berseberangan (opponent parties). Mereka yang merasa orang asli Amerika begitu benci kepada mereka yang diasumsikan sebagai pendatang (immigrant). Kelompok mayoritas juga sangat ketakutan dan benci kepada minoritas. Termasuk dalam hal ini mayoritas-minoritas kelompok agama-agama. Maka secara alami komunitas minoritas, komunitas Muslim khususnya mendapat perlakukan yang semakin buruk.

Yang pasti Amerika sedang dalam ujian besar demokrasinya. Bahwa di satu sisi Amerika mengkampanyekan ke berbagai penjuru dunia, kini Amerika teruji apakah mampu mempertahankan nilai-nilai demokrasi yang dijunjung tinggi itu?

Salah satu faktor terbesar dari ujian besar demokrasi Amerika ini adalah kandidat terkemuka partai Republik, Donald Trump, yang secara gamblang memperlihatkan sikap otoriterian yang berbahaya.

Dan jika masyakarat Amerika larut dalam buaian kampanye kebencian dan perpecahan ala Trump maka Amerika berada di ambang ancaman sektarianisme yang berbahaya.

Tapi yang paling menakutkan adalah jika seorang Donald Trump berhasil menyihir warga Amerika dengan tendensi kebencian, kemarahan dan dendam itu dan memenangkan pemilu Amerika maka kelompok-kelompok teroris dunia, khususnya yang selama ini telah memendam kemarahan dan kebencian terhadap Amerika karena kebijakan luar negerinya akan mendapat justifikasi besar. Skenario yang menakutkan adalah kelompok teroris dunia akan mendapatkan dukungan dari pihak-pihal domestik yang marah karena prilaku politisi semacam Donald Trump.

Oleh karenanya bangsa Amerika harus sadar bahwa berbagai peristiwa serangan teror, baik di Turki maupun di Paris dan Brussel, harusnya disikapi dengan penuh kehati-hatian. Termasuk di dalamnya dalam menentukan siapa yang akan menjadi panglima tertinggi negara adikuasa 4 tahun ke depan ini.

Shared enemy

Melihat kepada berbagai serangan teror dalam beberapa bulan bahkan dekade terakhir semakin menyadarkan kita bahwa teror adalah musuh bersama kemanusiaan kita, tidak mengenal batas geografis serta agama. Dengan kata lain tendensi sebagian orang mengaitkan teror dengan kelompok manusia dan agama tertentu, khususnya Islam, adalah sesat dan menyesatkan.

Peristiwa demi peristiwa sehsrusnya seharusnya semakin menyadarkan semuanya bahwa dalam menyikapi teror tendensi sektarianisme tidak membantu bahkan menamba runyamnya permasalahan.

Serangan teror Turki, sebuah negara yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi dan perbaikan kehidupan politik dan demokrasi juga seharusnya menyadarkan dunia bahwa Islam dan umat Islam adalah korban yang berlipat dalam serangan itu. Bukan sebaliknya seperti persepsi yang terbangun seolah Islam dan Muslim berada pada pihak "pelaku" (perpetrators).

Selain karena umat Islam itu sendiri menjadi korban teror, bahkan sejujurnya korban terbesar dalam berbagai peristiwa serangan terorisme di dunia adalah Muslim. Tapi yang terpenting adalah betapa umat ini menjadi korban terbesar karena nilai-nilai keyakinannya (keimanan) yang menjunjung kedamaian, keadilan dan kebahagiaan, terculik oleh berbagai kepentingan pelaku teror atas namanya.

Akibatnya Islam yang sejatinya membangun perdamaian seolah berubah menjadi penyebab berbagai teror dan konflik dunia. Dan ini berimbas kepada tidak saja bagaimana orang lain melihat Islam. Tapi juga menumbuhkan rasa minder pada sebagian pengikutnya, khsususnya generasi muda.

Oleh karenanya saya menilai, dan selamanya akan menilai, jika serangan teroris adalah musuh utama Islam. Saya mengutuknya tanpa memandang siapal pelaku dan korbannya. Karena toh pelaku teror tidak mewakili keyakinan saya. Bahkan tidak memiliki agama apapun karena agama mengajarkan semua antitesis dari teror.

Pada akhirnya saya mengajak semua pihak untuk mengambil sikap yang sama. Mari kita kritisi, kita lawan, kita perangi tendensi teror dalam masyakarat kita tanpa memilah-milah lagi siapa pelaku dan korbannya.

Karena sekali lagi, jika anda beragama sejatinya anda tidak diwakili oleh teroris mana saja. Semoga!



New York, 22 Maret 2016

Oleh: Imam Shamsi Ali, Wakil Ketua Majelis Dialog Antar Peradaban Kebudayaan dan Keyakinan ICMI, juga Presiden Nusantara Foundation di New York, AS.


Editor: Imam Santoso

Artikel Terkait

Islam Memerangi Rasisme

Syahrul Hidayanto 22 August 2017

​Laju Dunia Global dan Islam

Syahrul Hidayanto 11 August 2017

Rahasia Kecerdasan BJ Habibie

Syahrul Hidayanto 23 March 2017

​MUI, GNPF MUI dan Umat Islam

Syahrul Hidayanto 14 December 2016

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved