ngaji-algibran.png

Demokrasi, Etika dan Kebebasan

Redaksi 31 March 2016 comments Artikel

(ICMI Media) - Demokrasi liberal hampir saja diakui secara konsensus oleh semua sebagai tatanan politik dunia yang pas saat ini. Pertarungan idiologi (ideological clash) memang masih berlangsung sengit, walaupun dengan wajah yang lebih sopan. Tapi nampaknya demokrasi telah berhasil menancapkan giginya, baik secara demokrasi atau sebaliknya melalui cara-cara yang justeru bertolak belakang dengan nilai demokrasi itu sendiri.

Contoh terdekat adalah ditumbangkannya banyak regime dunia atas nama demokrasi. Ambillah salah satu kawasan Timur Tengah. Saddam, Khaddafi, Husni Mubarak, dan beberapa pemimpin lainnya ditumbangkan atas nama demokrasi. Yang aneh proses "so called democratization" di Timur Tengah dilakukan dengan cara yang anti "demokrasi". Yaitu perang yang telah mengorbankan puluhan bahkan ratusan ribu jiwa manusia, khususnya rakyat sipil.

Benarkah demokrasi sebagai tatanan politik dunia yang terbaik? Benarkah bahwa dengan demokrasi dunia akan menjadi lebih adil, makmur dan damai? Benarkah bahwa dengan demokrasi manusia akan berhasil dalam melakukan proses "pursuit of happiness"?

Tentu jawabannya dapat dilihat kepada dua aspek. Aspek substantif dan aspek implementatif.

Secara substansi demokrasi adalah sistim yang "mendekati" idealisme Islam. Perbedaannya ada pada penafsiran dan teknis implementasinya. Saya tidak bermaksud untuk mengelaborasi substansi demokrasi dan relevansinya dengan Islam. Tapi diterima atau tidak sejujurnya ada persamaan antara konsep "syura" dalam Isam dan konsep demokrasi di satu sisi. Tentunya tanpa mengingkari juga adanya perbedaan mendasar di sisi lain.

Barangkali yang menjadi masalah adalah, seperti pada konsep-konsep kehidupan lainnya, penafsiran manusia kerap kali didominasi oleh kecenderungan ego dan hawa nafsunya masing-masing. Penafsiran tentang demokrasi tentunya juga tidak terlepas dari "abusive interpretation" berdasarkan kepada kecenderungan mereka yang memahaminya.


Demokrasi dan kebebasan


Dalam alam demokrasi kebebasan seolah menjadi segalanya. Demokrasi yang berdasarkan kebebasan tanpa batas inilah yang disebut dengan "liberal democracy" (demokrasi liberal).

Dilemma terbesar pada demokrasi liberal ada pada pokok pemikiran "kebebasan tanpa batas". Islam sepenuhnya menjunjung tinggi kebebasan. Bahkan tidak berlebihan jika saya katakan kebebasan dalam Islam itu "divinely granted and guaranteed" (pemberian sekaligus jaminan Tuhan".

Tapi kebebasan dalam pandangan Islam terbatasi oleh batasan-batasan langit, yang saya yakin jika dipahami secara benar dan imbang juga sangat "common sense". Jika kebebasan tidak terbatasi oleh apapun, maka niscaya akan menjadi "kebablasan".

Ambillah salah satunya sebagai misal, kebebasan berbicara. Manusia diberikan "lisaan wa syafataen" untuk mengekspresikan dirinya. Dan kebebasan itu kemudian menjadi dasar dalam berekspresi. Manusia tidak seharusnya berbicara di bawah tekanan apapun. Akan tetapi apakah kebebasan berbicara tidak punya batasnya? Tentu tidak.

Batas atau akhir kebebasan berbicara seseorang ada pada kewajiban sipilnya (civic responsibility). Anda bebas berbicara apa saja terhadap orang di sekeliling anda. Tapi ketika bicara dan anda menyakiti orang lain maka anda telah kebablasan. Ini termasuk di dalamnya ketika menyampaikan sesuatu yang dianggap "kebenaran". Bukan berarti substansi kebenaran menjustifikasi "cara penyampaiannya" dengan menyakiti orang lain.

Kesadaran akan urgensinya tidak menyakiti orang lain dalam mengekspresikan kebebasan itulah yanh disebut "civic responsibility" (tanggung jawab sipil). Dan kesadaran tanggung jawab ini pulalah seseunhguhnya yang membatasi kebebasan manusia.

Dengan demikian jelas bahwa kebebasan tidak pernah dipahami sebagai kebebasan tanpa batas. Karena memang sesungguhnya segala sesuatu dalam hidup ini punya batas kecuali Yang menciptakan kehidupan.


Demokrasi dan etika


Seringkali terjadi kesalahan dalam memahami demokrasi, khususnya ketika bersentuhan dengan kebebasan, seolah etika tidak lagi menjadi sebuah nilai. Padahal sejatinya tujuan tertinggi dari demokrasi adalah terbentuknya  terbentuknya masyarakat modern dan beradab (modern and civilized).

Pertanyaan yang kemudian tmbul adalah apakah makna dari "modernity" dan "civility"?

Kata modern biasanya identik dengan kemajuan pemikiran yang teraplikasikan dalam pembangunan yang berkemajuan. Dalam bahasa Arab kata "modern" disebut "haditsah" atau baru. Kata haditsah menggambarkan antitesis dari masa lalu yang kurang pendidikan, terbelakang, kurang karakter, dan seterusnya.

Sementara kata "civilized" identik dengan kehidupan kota yang lebih berpendidikan, luwas pandangan, berkemajuan dan makmur. Dalam bahasa Arabnya disebut "at-tamaddun" yang seakar dengan kata "kota". Tentu kota adalah antitesis dari "qaryah" (kampung) yang kurang pendidikan dan terbelakang. Karakter orang kota tentu lebih sopan, santun, dan beretika.

Dari tujuan demokrasi yang seperti itu dapat disimpulkan bahwa karakter manusia harusnya disesuaikan pula dengan demokrasi itu. Bukan sebaliknya. Semakin mengaku demokratis, semakin kehilangan karakter demokrasinya.

Pemimpin maupun rakyat dalam tatanan demokrasi itu harusnya lebih berpendidikan, berpikiran luas, berwawasan kemajuan, kemakmuran dan keadilan. Tapi tidak kalah pentingnya memahami batas-batas "kebebasan" dan "tanggung jawab sosial". Sehingga dalam ekspresi kebebasan tidak mengalamai "kebablasan".

Tapi lebih penting pula pemimpin maupun rakyat dalam tatanan demokrasi harus mengedepankan nilai-nilai demokrasi yang harusnya saling menghormati, santun, merangkul dan kerjasama. Bukan sebaliknya atas nama demokrasi pemimpin mencaci, merendahkan, memaki dan kasar kepada rakyat. Atau sebaliknya tentu rakyat punya hak menyampaikan kritik bahkan ketidak setujuan dengan pemimpinnya. Tapi dalam batas-batas kebebasan yang beradab.



New York, 30 April 2016

Oleh : Imam Shamsi Ali, Wakil Ketua Majelis Dialog Antar Peradaban, Kebudayaan dan Keyakinan ICMI, dan juga Presiden Nusantara Foundation di New York, AS.


Editor : Imam Santoso

Artikel Terkait

Islam Memerangi Rasisme

Syahrul Hidayanto 22 August 2017

​Laju Dunia Global dan Islam

Syahrul Hidayanto 11 August 2017

Rahasia Kecerdasan BJ Habibie

Syahrul Hidayanto 23 March 2017

​MUI, GNPF MUI dan Umat Islam

Syahrul Hidayanto 14 December 2016

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved