ngaji-algibran.png

Bank Wakaf Butuh Mobilisasi Sumber Wakaf Uang

Redaksi 17 February 2016 comments Bank Wakaf

Jakarta, (ICMI Media) –  Ketua Bidang Pengembangan Perbankan, Lembaga Keuangan dan Pasar Modal Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Dr. Zainulbahar Noor yang juga Ketua Pokja Bank Wakaf ICMI mengatakan, realisasi pendirian Bank Wakaf Ventura Syariah membutuhkan mobilisasi sumber wakaf uang sebagai modal setor awal plus tambahan modalnya.

“Yang ingin diperhatikan dan perlu kerja keras adalah, betapa tidak mudahnya memobilisasi sumber dana dari wakaf uang untuk modal awal dan tambahan modal bagi Bank Wakaf itu jika ingin segera terealisasi segera,” ujar Zainulbahar yang dikutip ICMI Media dari pernyataannya pada Rabu (17/2) di grup diskusi ICMI.

Menurut Zainulbahar, secara logika diatas kertas perhitungan untuk mendapatkan modal tersebut memang mudah. Dijelaskannya, apabila rata-rata penduduk muslim Indonesia berwakaf dan berzakat rata-rata Rp 3.000 perhari maka akan terhimpun dana setahun sekitar Rp 200 triliun atau Rp 1.000 triliun selama 5 tahun.  

“Itu sudah mencapai 25 persen dari penyediaan Rp 4.000 triliun dana pemerintah dalam RPJMN 2015-2019,” kata Zainulbahar.

Dana tersebut menurutnya, akan menjadi modal awal plus tambahannya bagi Bank Wakaf yang oleh Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad, didorong agar berbentuk lembaga Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah sebagai produk unggulan ICMI .

Selain itu juga, dana tersebut akan menjadi dana bukan pembayar wakaf atau nazhir yang bersifat individual ataupun korporasi, tetapi menjadi milik Allah yang digunakan untuk diproduktifkan melalui pendanaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk merebut kembali perekonomian dan perdagangan di kawasan perkotaan dan nasional.

“Namun seperti kerap saya kemukakan, apabila mobilisasi dana wakaf uang tersebut tak mencapai jumlah yang dibutuhkan, kita khawatir pendirian dan pengoperasian Bank Wakaf Ventura Syariah hanya akan didominasi oleh penempatan dana dari berbagai pihak dan bukan dari sumber dana keagamaan atau wakaf uang. Jika sudah demikian, maka lembaga keuangannya hanya akan menjadi lembaga IKNB Syariah biasa saja,” kata Zainulbahar.

Menurutnya, kekhawatiran serupa juga sering diutarakan oleh Ketua OJK saat audiensi langsung dalam persiapan pendirian Bank Wakaf tersebut. “Jika hal itu terjadi, maka upaya keras ICMI dalam program Bank Wakaf ini hanya akan menambah jumlah IKNB-Syariah semata dan tak akan mencapai tujuan,” terangnya mengutip pernyataan Ketua OJK.

Atas kekhawatiran itu, Zainul merujuk dari kesukaran yang dialami oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) yang hingga saat ini baru berhasil menghimpun wakaf uang melalui LKSPWU di bank-bank syariah sejak 2011 hingga saat ini atau 11 tahun lamanya, hanya terkumpul kurang dari Rp 10 miliar pertahun ditambah dari Dompet Dhuafa dan Rumah Zakat Rp 25 miliar pertahun.

“Dalam berbagai kesempatan, saya kerap menyampakan bahwa kita harus menuntut keras political will pemerintah plus keterlibatan peran dan pengaruh Presiden dalam pemobilisasian dana keagamaan dari lebih 200 juta jiwa umat Islam Indonesia,” tegasnya.  

Mantan Dubes Indonesia untuk Yordania itu juga mengaku, kerap menyuarakan tuntutan atas keberpihakan (affirmative action) lebih keras dari pemerintah seperti pernah dilakukan oleh Menteri-Menteri ICMI di era Presiden BJ Habibie dahulu.

“Apabila hal-hal itu tidak dilakukan, maka yang terjadi ekonomi umat / penguasaan ekonomi-perdagangan umat akan semakin tenggelam masukke kluster konsumen besar seperti pernah dinyatakan di dalam TOR KUII VI di Yogyakarta awal 2014 silam,” pungkas Zainulbahar. ***L/IS/R1

Artikel Terkait

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved