iklan-baner-euro.gif

Aries Muftie: Gerakan Desa Emas Korea Cegah Radikalisasi Sosial

Redaksi 5 February 2016 comments Desa Emas

Jakarta, (ICMI Media) - Ketua Koordinasi Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Bidang Pengembangan UMKM dan Pembangunan Pedesaan mengatakan, Reformasi mental ala Korea (Saemaul Undong) atau gerakan Desa Madani / Emas Park Chung Hee terbukti sukses mencegah radikalisasi sosial di Korea saat itu.

"Salah satu adanya reformasi mental Korea (Saemaul Undong) atau Gerakan Desa Madani/EMAS nya Park Chung Hee adalah karena penguasaan lahan desa oleh para Chaebol (Konglomerat) yang notabene bukan aseng atau asing, namun masih pribumi Korea itu sendiri," ujar Aries Muftie seperti dikatakannya melalui pesan singkat kepada ICMI Media pada Jumat malam (5/2).

Bahkan menurut Aries, hal itupun ternyata masih menyebabkan terjadinya kerusuhan sosial karena saat itu gini ratio di Korea sekitar 0.43. Maka, tindakan Park Chung Hee adalah Saemaul Undong dan merubah Undang-undang Agraria (Landreform).

"Jadi Insha Allah, kita tunggu sampai ada kerusuhan sosial baru kita rubah atau kita rubah supaya tidak ada radikalisasi sosial. Silahkan ICMI menjawab," demikian Aries menegaskan.

Menurut Aries, hal yang sama terjadi juga di Malaysia sekitar tahun 1969-an, tepatnya pada 13 - 15 Mei 1969 mulai dari Johor merambat ke seluruh Malaysia. "Korban jiwa ada yang mengatakan sekitar 20.000 jiwa, namun dikecilkan hanya jadi 2.000 jiwa saja," ungkap Aries.

Ia juga menambahkan, radikalisasi sosial ini membuat adanya New Economy Policy (Kebijakan Ekonomi Baru) dengan UU Akta Penyelarasan Bangsa atau Redistribution Asset Productive.

"Intinya boleh jadi konglomerasi, namun 30 persen share dimiliki melayu miskin melalui Amanah Saham Bumiputera yang dikelola PNB. Akhirnya, keberhasilan Korea dan Malaysia diikuti oleh China dengan UU Rural Town Enterprise dan Afrika Selatan Black Community  Social Act," pungkasnya.

Belajar dari Korea Selatan

Mengutip dari arsip Gatra, hampir setiap tahun, Pemerintah Korea Selatan mengundang beberapa orang dari dunia ketiga, termasuk Indonesia, untuk mendalami apa itu saemaul undong. Korea Selatan hendak menularkan pengalamannya ke negara lain; siapa tahu ada yang mau mengadopsi. Saemaul undong merupakan gerakan pembaruan masyarakat desa yang dicanangkan Presiden Park Chung-hee pada 1970-an, dengan tujuan meningkatkan pendapatan petani dan nelayan di desa.

Sejak memegang kekuasaan pada 1961, Park Chung-hee langsung menggenjot pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan industri berat. Hasilnya memang spektakuler: kota tumbuh pesat, dan GNP melonjak dari US$ 85 (1960) menjadi US$ 257 (1970). Namun, di sisi lain, problemnya adalah tertinggalnya masyarakat desa, khususnya kaum petani. Itulah yang menyadarkan Park Chung-hee bahwa ada yang salah dalam strategi pembangunannya, lalu segera dicanangkanlah suatu gerakan pembangunan pedesaan dengan nama saemaul undong (SU).

Sebagai langkah awal, SU menekankan reformasi sikap mental. Pertama-tama, masyarakat Korea Selatan didorong untuk memiliki kepercayaan diri yang kuat. Ada fenomena menarik bahwa salah satu langkah untuk itu adalah melalui rehabilitasi rumah-rumah penduduk desa dari yang beratapkan rumbia menjadi beratap genting, yang berdinding bambu menjadi tembok. Selain itu, fasilitas fisik desa segera dikembangkan, seperti jalan, jembatan, listrik, dan air minum. Juga, introduksi teknologi pertanian dikembangkan. Dan, tak dilupakan adanya gerakan cinta lingkungan yang bermula dari gerakan kebersihan. Semua itu berlangsung secara demokratis. Artinya, orang desalah yang menentukan jenis bantuan pemerintah pusat serta pemanfaatannya.

Selanjutnya, sikap mental percaya diri tersebut diikuti dengan "tiga spirit utama" gerakan SU, yaitu rajin (dilligent), mandiri (self help), dan gotong royong (cooperation). Tiga spirit ini menjadi pegangan pokok setiap masyarakat Korea Selatan, tidak hanya di desa, melainkan juga di kota. Pendidikan masyarakat, baik formal maupun nonformal, digenjot. Pendidikan menjadi salah satu pilar gerakan SU, khususnya untuk transformasi sikap mental.

Ketika desa sudah tumbuh, upaya kontekstualisasi spirit SU bagi masyarakat kota pun dikembangkan. Kalau di desa gerakannya dimulai dari peningkatan produksi pertanian dan pendapatan petani melalui perbaikan teknologi, pembangunan fasilitas desa, dan rumah-rumah penduduk, di kota diarahkan pada keharmonisan kehidupan industrial (pemodal-buruh), penguatan hubungan ketetanggaan, gerakan hemat energi, dan cinta lingkungan. ***L/Gtr/IS/R1

Artikel Terkait

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved