ngaji-algibran.png

Aries Muftie: Cegah Dampak Konflik Saudi-Iran Ke Indonesia Dengan Berdayakan Masyarakat

Redaksi 7 January 2016 comments Desa Emas

Jakarta, (ICMI Media) - Ketua Kelompok Kerja Satu Desa Satu BMT (SDSB) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Dr. Aries Muftie, mengatakan untuk mencegah sampainya dampak konflik antara Arab Saudi versus Republik Islam Iran ke Indonesia, bisa dilakukan dengan memberdayakan masyarakat agar tidak miskin dan bodoh sehingga mudah dipengaruhi untuk terseret dalam konflik.

"Ini salah satu tugas ICMI, dalam upaya internal memberdayakan masyarakat di Indonesia agar tidak miskin dan bodoh, sehingga mudah dipengaruhi untuk terseret dalam konflik itu," ujar Aries dalam pesan singkatnya yang diterima ICMI Media pada Kamis (7/1).
 
Adapun upaya ICMI secara eksternal adalah berperan mencegah terjadinya peperangan antara Saudi dan Iran, itu dinilainya sudah tepat menurut Aries.

"Sebab jika tidak, imbasnya akan tetap sampai ke Indonesia khususnya masyarakat "sumbu pendek" yang pro-syiah maupun pro-sunni," ujar Aries. Karena itu, pemberdayaan masyarakat agar lepas dari kemiskinan dan kebodohan menjadi penting agar mereka bisa memfilter informasi yang masuk dan tak mudah diadu domba, imbuh Aries.

Soal akar konflik adalah benturan sektarian Sunni-Syiah, Aries menegaskan bahwa hal tersebut relatif. "Semua tergantung sudut pandang yang dilandasi persepsi dari kita masing-masing. Yang syiah akan pro Iran yang sunni mungkin pro saudi. Sementara yang independen mungkin mengatakan sami mawon, karena kedua negara juga melakukan hal yg sama," jelas Aries.

Namun jika masing-masing negara memakai alasan bahwa para korban adalah teroris, subversif atau makar, maka menurutnya alasan itu adalah justifikasi yang legal. Itu hak negaranya dan ini juga dilakukan oleh USA, China, Eropa, Mesir dan juga Indonesia makanya ada Densus 88, jelas Aries.

"Jadi saya setuju agar masalah ini tidak usah dibesar-besarkan dan tidak usah berpihak. Karena adanya syiah dan sunni itu berasal dari masalah politik kekuasaan yang dibungkus dengan agama, hingga jadinya seperti sekarang ini," pungkas Aries.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia mengikuti dengan prihatin perkembangan hubungan antara Pemerintah Kerajaan Arab Saudi dan Republik Islam Iran.

Pemerintah Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan yang dapat mengakibatkan terjadinya eskalasi keadaan serta membahayakan stabilitas dan keamanan kawasan, demikian  Mi’raj Islamic News Agency (MINA), melaporkan pada Rabu (6/1).

Menteri Luar Negeri, Retno L.P Marsudi, ak​an segera menghubungi Sekjen OKI maupun Menlu Kerajaan Arab Saudi dan Menlu Republik Islam Iran guna membantu mencari solusi terbaik secara damai.​

Sebelumnya, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), Selasa (5/1), telah bertemu dengan Presiden Joko Widodo dan meminta pemerintah berperan aktif dalam penyelesaian konflik Timur Tengah, termasuk di antaranya ikut membantu mendamaikan Arab Saudi dan Iran yang sedang bersitegang.

“Presiden sambut baik Indonesia sedang melakukan upaya diplomasi dan menerima permintaan banyak pihak dari negara-negara konflik itu, namun Beliau menyadari konflik Iran-Arab Saudi cukup pelik,” kata Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin di Istana Merdeka, Jakarta.***L/IS/R1

 

Artikel Terkait

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved