iklan-baner-euro.gif

Bahtiar Effendy:Potensi ICMI Bisa Bangun Indonesia

Redaksi 17 December 2015 comments Toko ICMI

Jakarta, (ICMI Media) - Pengamat Politik Islam dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Bahtiar Effendy menilai Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) memiliki potensi besar dalam ikut serta membangun Indonesia. Sebagai kekuatan masyarakat madani yang berisi cendekiawan, ICMI dinilai memiliki keunikan dibanding ormas lain.

"Meski tidak banyak, anggotanya (ICMI, Red) dapat dikategorikan sebagai kelompok strategis. Ada yang berkiprah di dunia usaha, kampus, pemerintahan, dan juga NGO," ujar Bahtiar, Kamis (17/12).

Ia mengatakan, tugas Jimly Asshiddiqie sebagai Ketua Umum baru ICMI periode 2015-2020 adalah mensinergikan kekuatan-kekuatan tersebut. Hal itu sebagai bagian dari upaya untuk menciptakan kembali momentum sejarah emas ICMI.

Terkait dengan personel kepengurusan, Bahtiar menekankan soal efektivitas. "Saya yakin Pak Jimly tahu harus menggandeng siapa. Tidak perlu semua dimasukkan dalam pengurus," ujarnya.

Momentum emas seperti yang diraih ICMI pada dekade 1990-an, Bahtiar mengatakam, bisa diciptakan tanpa perlu melibatkan banyak orang. Ia menekankan, ICMI justru perlu orang-orang yang memang terpanggil untuk berkhidmat. "Tidak perlu nama besar. Yang diperlukan itu orang yang mau bekerja keras." ujarnya.

Kesempatan Kembalikan Momentum Emas

Selain itu, Bahtiar juga menilai tugas Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Prof. Jimly Asshiddiqie adalah mengembalikan momentum sejarah emas. Menurut Bahtiar, ICMI perlu berkarya seperti pada awal pendiriannya yakni dekade 1990-an.

"Jimly dengan kompetensinya punya tanggung jawab utama menemukan kembali momentum sejarah dan psikologis ICMI," kata Bahtiar kepada ROL, Kamis (17/12).

Menurutnya, hal itu perlu menjadi semangat pengurus baru, periode 2015-2020, agar ICMI dapat berkiprah lagi. Ia menilai, sekitar 17 tahun terakhir momentum ICMI praktis menghilang.

Ia berharap, Jimly bisa meraih momentum tersebut paling tidak dalam setahun pertama kepemimpinannya. Bahtiar menilai, Jimly adalah sosok yang memiliki kapasitas tepat untuk memimpin ICMI. Hal itu bisa dilihat dari capaian ketika memimpin sejumlah lembaga dan organisasi.

Akan tetapi, modal paling penting menurut Bahtiar, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu sejak awal ikut dalam pendirian ICMI. "Jimly mengerti dan menghayati misi utama ICMI," ujarnya.

Menurutnya, ikatan historis Jimly dengan ICMI dianggap sebagai nilai lebih untuk membangun organisasi cendekiawan itu ke depan. Bahtiar menilai, ICMI perlu kembali ke momentum emas pada awal 1990-an hingga akhir Orde Baru.

"ICMI (kala itu, Red) tidak hanya bisa memainkan peran intelektualnya sebagai tangung jawab kalangan cerdik pandai Indonesia tapi ICMI juga punya sumber daya psikologis luar biasa khususnya dalam kaitan pembangunan umat Islam dan pemerintahan," ujarnya.

Pascaera Orde Baru, Bahtiar mengamati, sebagian besar aktivis dan pengurus ICMI lantas sibuk dengan politik era reformasi. Ia mengakui, masih ada elit nasional yang menjadi bagian dari ICMI. Namun mereka dinilai kurang berperan dalam mendongkrak ICMI ke permukaan.***ROL/IS/R1

Artikel Terkait

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved