iklan-baner-euro.gif

​ICMI :Bank Wakaf Sangat Dibutuhkan UMKM

Redaksi 15 May 2015 comments Bank Wakaf
Jakarta, (ICMI Media) - Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Bank Wakaf ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia), Dr. Zainulbahar Noor, mengatakan, keberadaan Bank Wakaf di Indonesia akan sangat dibutuhkan guna membantu berjalannya UMKM (usaha mikro kecil dan menengah), karena selama ini.

"Selama ini, UMKM adalah sektor yang sesungguhnya menyelamatkan Indonesia saat menghadapi krisis ekonomi. Namun sayangnya, perhatian pada mereka sangat tidak proporsional dan tidak adil," ujar Zainulbahar kepada ICMI Media pada Jumat (15/5) d Jakarta.

Doktor Ekonomi dan Keuangan Syariah alumni program Islamic Economics and Finance [IEF] Universitas Trisakti ini mengungkapkan fakta, bahwa dalam 5 tahun terakhir kontribusi nilai ekspor UMKM menurun 5 persen dari 19 persen ke 14 persen.

"Sementara Usaha Besar meningkat 5 persen dari 81 persen ke 86 persen," ujar Zainulbahar.

Menurutnya, tendensi bagi UMKM akan menurun terus menerus tanpa perhatian dan bantuan pemerintah secara nyata dan itu sangat mengkhawatirkan. 

"Ironisnya, pemerintah selalu memuji-muji UMKM sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia saat menghadapi badai krisis ekonomi dari era 1997 hingga 2013. Sayangnya, pemerintah dan analis hanya sebatas memberi apresiasi tetapi sangat melupakan bahwa negara ini aman terhadap kemerosotan semakin tingginya pengangguran dan kemiskinan oleh keberadaan UMKM dan bukan usaha besar," jelas Zainulbahar. 

Dalam pandangan pendiri dan Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia itu, seberat manapun krisis ekonomi tidak akan pernah terjadi pemutusan hubungan kerja  di UMKM dengan 107 juta penduduk Indonesia yang menggantungkan hidup ke UMKM.

"Sementara 4 juta pekerja yang bekerja di usaha besar bisa terjadi 50 persen dari mereka akan terkena PHK," ujar Zainulbahar.

Dengan begitu menurutnya, tanggung jawab UMKM dengan sendirinya mencegah meningkatnya persentase penduduk dibawah garis kemiskinan. 

"Justeru UMKM yang sepantasnya dikasihani, apalagi jika pemerintah sadar bahwa menurut angka per statistik, bahwa 60 persen dari PDB RI adalah kontribusi UMKM," kata Zainulbahar yang pernah menjadi konsultan di Bank Pacific.

UMKM tergilas usaha besar

Hal yang dalam pandangannya semakin mengenaskan, UMKM sudah semakin terpinggirkan. Zainul melihat Pemerintah seperti membiarkan kegiatan bisnis UMKM di area pusat sentra bisnis perkotaan digilas oleh Usaha Besar. 

"Hal itu dapat dilihat dengan mudah secara kasat mata, terlebih bila diambil data di lapangan bahwa dari ribuan ruko-ruko atau kios-kios di berbagai mal dan Super Market yang dibangun oleh perusahaan pengembang jelas bukan untuk UMKM," ungkap Zainulbahar.

Ia melanjutkan, keberadaan UMKM di lokasi-lokasi tersebut bisa dikatakan tidak ada. "Kalaupun ada, bisa dihitung dengan jari," tegasnya.

Masalahnya, UMKM memang tidak mampu membelinya dan bank-bank tidak berkenan membiayai mereka karena jelas dikategorikan sebagai usaha non-bankable, katanya.

"Inilah alasan kuat perlunya pembentukan Bank Wakaf UMKM sehingga total kumpulan wakaf uang tersebut merupakan sumber dana untuk dapat digunakan membeli ruko-ruko dan unit-unit di Plaza dansebagainya untuk menjadi asset wakaf dan digunkan oleh UMKM", pungkas Mantan Duta Besar Indonesia untuk Yordania dan Palestina itu. (Imam)

Sumber : ICMI Media

Artikel Terkait

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved