ngaji-algibran.png

Zainulbahar Noor : Pendirian Bank wakaf Sangat Perlu

Redaksi 7 April 2015 comments Bank Wakaf
Jakarta (ICMI) - Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Bank Wakaf Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Zainulbahar Noor menjelaskan, bahwa pendirian Bank Wakaf saat ini di Indonesia memang sudah sangat perlu. Demikian ditegaskan Zainul, dalam Rapat Pokja Sabtu ( 4/4) di kantornya di Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta. 

 "Apalagi Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar. Ini jelas dukungan utama bagi berdirinya Bank wakaf," ujar Zainulbahar yang juga mantan Duta Besar Indonesia untuk Yordania.

Zainul menyebutkan, Bank Wakaf menjadi bentuk pembangunan ekonomi berkeadilan. Itu dikarenakan harta wakaf baik berupa uang dan tanah merupakan sumber dana yang diserahkan pemiliknya untuk kesejahteraan umat, tanpa ada keinginan timbal keuntungan.

“Penggunaan dana wakaf uang memiliki potensi besar dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan sekaligus peningkatan UMKM dalam pembangunan ekonomi nasional,” ujarnya.

Zainul, yang juga mantan Direktur Bank Muamalat itu, yakin potensi wakaf uang dapat menggantikan utang luar negeri, demikian pula pendapatan per kapita dapat ditingkatkan apabila peran UMKM diperbesar sehingga menurunkan tingkat kemiskinan dan pengangguran. Karena itu UU Wakaf menjadi dasar dalam pendirian Bank Wakaf ke depannya.

Menurut Zainul, dari total PDB 2012 Rp. 8.242 triliun, porsi kontribusi UMKM 59,08 persen (Rp. 4.869 triliun) melebihi kontribusi Usaha Besar yang hanya 40,91 persen.  Peningkatan produk UMKM dengan sendirinya akan meningkatkan PDB dalam tahun berjalan. 

"UMKM dalam kenyataanya merupakan tulang punggung  ekonomi Indonesia pada setiap kali menghadapi krisis ekonomi," jelas Zainul.  

Selama ini, menurut data BPS tahun 2012 UMKM telah mempekerjakan 107,657 juta dari 110,808 juta atau sekitar 97,16 persen tenaga kerja. Artinya, kinerja UMKM dengan sendirinya menahan laju kemiskinan dan pengangguran

Namun, Zainul menyayangkan fokus perhatian dan kebijakan pemerintah terhadap UMKM belum berhasil penuh.  Meskipun Bank Indonesia sejak 25 tahun yang lalu mematokkan ke bank-bank di Indonesia untuk pemberian 20 persen total portofolio kreditnya ke UMKM, hingga saat ini kredit yang diterima oleh UMKM hanya 13,94 persen (Rp. 77,99 triiun dari total kredit Rp. 519 triiun) 

"Bank Wakaf ini merupakan solusi sumber pendanaan umat yang cukup besar bila dikumpulkan dan digunakan untuk kesejahteraan pemberdayaan umat," ujar Zainul.

Keunggulan Bank Wakaf

Menurutnya, nilai modal bank di seluruh dunia tidak mungkin bisa mengalahkan potensi modal Bank Wakaf. Pasalnya, modal yang diberikan bakal terus meningkat seiring besar wakaf yang ditambahkan nasabah. Dana ini, terang dia, bisa dipinjamkan tanpa agunan, jaminan, dan bunga. Apabila usaha dari pinjaman dana tersebut gagal tidak ada tuntutan pengembalian. 

Untuk modalnya, Zainul memberikan analisis dengan asumsi sederhana: apabila 100 juta dari 204 juta muslim Indonesia melaksanakan Wakaf-Uang rata-rata Rp. 100.000 per bulan (atau rata-rata Rp. 35.000 per hari), total wakaf yang terkumpulkan dalam satu bulan: Rp. 10 triliun, per tahun Rp. 120 triliun.  

"Jika pencapaian 50 persen saja, jumlah Wakaf-Uang terkumpul dalam satu tahun Rp. 60 triliun setara dengan Total Asset Bank Syariah Mandiri dan Bank Muamalat pada tutup buku tahun 2014," jelas Zainul.

Namun, untuk memberi kepastikan atas terlaksananya hal tersebut diperlukan campur tangan di samping political will sangat kuat dari pemerintah.

Menurutnya, harus ada sinergi dalam satu koordinasi terpadu antar Kementerian dan Lembaga terkait sangat diperlukan, yaitu antara: Kementerin Agama RI, Majelis Ulama Indonesia, Badan Wakaf Indonesia, Lembaga-lembaga Wakaf dan semua yang tergolong sebagai stake holder dari upaya pemobilisasian Wakaf-Uang tersebut," katanya.

Hal tersebut menurutnya, dapat dimungkinkan dengan telah dikeluarkannya fatwa memboleh pelaksanaan wakaf dengan Wakaf-Uang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 2002 dan telah dikeluarkannya Undang-undang Nomor 41 tentang Wakaf Tahun 2004.

Kepercayaan muslim Indonesia

Hal paling prinsip menurut Zainul, harus ada kepercayaan dari muslim Indonesia kepada Lembaga Penerima Wakaf. "Inilah fungsi pentingnya lembaga bernama Bank Wakaf.

Diakui Zainul, meskipun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang pada 28 Januari 2010,  jumlah dana Wakaf-Uang yng terkumpul masih sangat kecil. 

Dibutuhkan sebuah lembaga yang sangat dipercaya muslim Indonesia untuk itu. Penelitian Pokja Bank Wakaf Indonesia ICMI menyimpulkan keharusan adanya sebuah lembaga keuang bank untuk mendapatkan kepercayaaan masyarakat dalam meningkatkan pelaksanaan Wakaf-Uang mereka. 

Bank Wakaf tersebut menampung sumber dana Wakaf-Uang untuk diberdayakan semata-mata mendanai UMKM dalam meningkatkan peran mereka dalam kegiatan ekonomi perkotaan dan nasional. Bank tersebut dimiliki oleh Lembaga-lembaga Wakaf, bukan individual maupun korporsi dengan pengumpulan modal melalui BWI, LKSPWU dan LAW. (Imam)

Artikel Terkait

KOMENTAR

Posting comments after three months has been disabled.

Situs ICMI ini dikelola secara mandiri oleh Tim Media Center ICMI Pusat. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi kami melalui telepon: +62 21 7994466 atau email di sekretariat@icmi.or.id atau redaksi@icmi.or.id . Untuk kerjasama iklan bisa kirim ke iklan@icmi.or.id Selengkapnya

Copyright 2014 ICMI | All Rights Reserved